Antara Azan dan Fingerprint

Share:
Jika potongan gaji di dunia kita anggap dapat mengurangi kebutuhan hidup sehari-hari, mungkin saja bisa dicari pendapatan tambahan lain, akan tetapi bagaimana dengan potongan amaliyah kita di hadapan Rabbun Jalil? 

T Lembong Misbah

PAGI  itu aku mendapati teman se kantorku dengan tergopoh-gopoh masuk ke ruangan fingerprint, saat menekan tombol absensi spontan ia berucap kesal, ah terlambat satu menit. Tidak hanya sampai di situ sambil berlalu ia masih ngoceh menunjukkan rasa kesalnya.

Tampaknya ia  merasa sangat rugi pada hari itu karena terlambat datang untuk absensi. Kekesalan itu sepertinya sangat berkaitan dengan uang remunerasi, di mana dalam aturan di kantorku terlambat satu sampai tiga puluh menit akan dipotong 0,5 persen.

Siang harinya kutengok si teman ini berada di warung dengan gontainya tanpa terusik sedikitpun oleh suara azan dzuhur yang berkumandang, lalu saya sapa “Ayo ke masjid.” Ia menyahut “Duluan saja.” 

Selepas pelaksanaan shalat berjamaah, si teman itu masih duduk manis di tempatnya semula yang ditemani segelas kopi pancung. Saat kutanya “Apa tidak shalat?” ia hanya menjawab ”Nanti."  Anehnya dari raut wajahnya tidak sedikitpun menunjukkan rasa bersalah. Saya tidak tahu apakah ia kemudian shalat sendiri atau tidak sama sekali.

Batinku lantas bertanya mengapa temanku itu tidak tampak rasa kesalnya saat shalat telah telah berlalu? Tentu saja hal tersebut sangat berbeda dengah sikapnya saat absensi pagi tadi, hanya satu menit terlambat ia tampak meradang. Aku coba menerawang lebih jauh, apakah ini yang disebut dengan orang-orang yang lebih mementingkan urusan duniawi daripada urusan akhirat?

Setahuku, Islam menyuruh pemeluknya untuk menyeimbangkan antara kehidupan duniawi dan ukhrawi.  Rasul bersabda:

“Bukanlah orang yang terbaik di antara kamu adalah orang yang meninggalkan kepentingan dunia untuk kepentingan akhirat, dan juga bukan orang yang meninggalkan akhirat untuk kepentingak dunia. Maka yang terbaik dia antara kamu adalah orang yang mampu memadukan di antara keduanya. Sesungguhnya kehidupan dunia mengantarkan kamu kepada kehidupan akhirat dan janganlah kamu menjadi beban orang lain.” (HR. Ibnu ‘Asakir).

Keseimbangan antara dunia dan akhirat menunjukkan betapa Islam sangat memahami konteks kehidupan manusia yang hadir di dunia bukan sekedar hidup, sebab bila hanya sekedar hidup maka kambing, lembu, monyet dan binatang lainnya juga hidup. Akan tetapi manusia hidup di dunia ini adalah dalam rangka menyiapkan kehidupan yang lebih hidup di akhirat kelak. Karena itu Allah senantiasa mengingatkan hambanya:


“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (QS Al-Hasyr [59] : 18).

Barangkali, sangat manusiawi bila ada orang begitu khawatir dengan kecukupan kebutuhan hidupnya sehari-hari terutama di masa tua, tapi sejatinya pula kita harus takut dengan kecukupan bekal kehidupan di akhirat kelak.

Jika potongan gaji di dunia kita anggap dapat mengurangi kebutuhan hidup sehari-hari, mungkin saja bisa dicari pendapatan tambahan lain, akan tetapi bagaimana dengan potongan amaliyah kita di hadapan Rabbun Jalil?

Saat itu sekalipun kita menangis mengeluarkan air mata darah tentunya tidak ada akan diberi waktu untuk menebus atau minta perbaikan amal pada siapapun juga. Kita akan diberi balasan sesuai dengan kadar amaliyah semasa di dunia. Bayangkan kalau kita minus amalan baik di akhirat kelak, tentu kita digolongkan pada manusia yang merugi.

Aidh al-Qarny berujar “Amat sangat bodohlah orang-orang yang mengejar kenikmatan dunia yang secuil dengan mengorbankan kehidupan akhirat yang tiada batas."

Sebagai insan beriman, bijak dan adillah pada dirimu dalam memenuhi kebutuhan hidup di dunia dan kebutuhan akhiratmu, keduanya sama penting maka jangan berat sebelah. []


[T Lembong Misbah, adalah Wakil Dekan Bidang Kerjasama dan Kemahasiswaan Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Ar-Raniry, Banda Aceh. Bisa dihubungi di email : Lembong.info@gmail.com.

BACA Artikel lainnya:

Puasa Hoaks
Lailatul Qadar, dan Angin pun Berhenti
Pengabdian
Iman Kelapang Gading

No comments