Jauhi Ghibah!

Share:

HATI bagi seorang manusia muslim menjadi faktor utama dalam meraih kesuksesan dalam kehidupan di dunia dan keselamatan di akhirat kelak. Ia bagaikan seorang komandan, apabila baik, maka prajuritnya akan diatur menjadi baik. Namun sebaliknya apabila ia jahat, maka terbentuklah prajurit-prajurit yang jahat.

Hal ini sebagaimana ungkapan Rasulullah dalam sabdanya, “Dalam diri manusia ada segumpal daging yang kalau itu baik maka baiklah segalanya, jikalau itu rusak maka rusaklah segalanya, ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati”.

‎Memiliki hati yang bersih dan sehat (qalbun salim) merupakan hal terpenting yang harus dibawa ketika menghadap Allah SWT, sedangkan memelihara hati yang kotor dan berpenyakit (qalbun maridh) justru menjadi penyebab kesengsaraan dan penderitaan berkepanjangan di akhirat kelak.

Wakil Direktur Dayah Darul Ihsan Tgk. Hasan Krueng Kale, Siem, Aceh Besar, Tgk. Edi Syuhada mengungkapkan hati yang kotor karena permasalahan dalam kehidupan sesama manusia berdampak lahirnya penyakit batin diantaranya akibat perbuatan ghibah (gosip/menggunjing) dan namimah (adu domba) serta mengatakan dan menyebarkan kebohongan di tengah-tengah umat. 

"Penyakit batin yang berbahaya diantaranya ghibah dan namimah. Kita tidak akan selamat kelak di hadapan Allah jika sampai akhir hayat masih membawa dosa ini, sebelum kita minta maaf dan dimaafkan oleh orang kita gunjingkan dan korban dari adu domba tersebut," ujar Tgk. Edi Syuhada saat mengisi pengajian rutin Kaukus Wartawan Peduli Syariat Islam (KWPSI) di Rumoh Aceh Kupi Luwak Jeulingke, Rabu (19/9) malam. 
Pentingnya membawa hati yang salim ketika menghadap Allah juga ditegaskan dalam Al-Qur'an Surat As-Syu’ara ayat 88-89, yang artinya, “Yaitu pada hari ketika harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih”. Ghibah dan namimah sendiri merupakan perbuatan yang sering kali menggelincirkan kaum muslimin sehingga gagal memiliki hati yang bersih. Hal ini dikarenakan kedua perbuatan ini sering terjadi tanpa kita sadari. 

Tgk. Edi Syuhada menjelaskan, ghibah adalah membicarakan keadaan seseorang yang sekiranya keburukan itu sampai ke telinga orang yang dibicarakannya, ia tidak suka. Meskipun yang berghibah itu tidak bermaksud menjelekkannya. Baik tentang jasmaninya, agamanya, kekayaannya, hatinya, akhlaknya, bentuk lahiriahnya dan sebagainya. Caranya-pun bermacam-macam, diantaranya membeberkan aib (keburukan/cacat/kekurangan), menirukan gerak tertentu dari orang yang dijelekan dengan maksud mengolok-ngolok.
"Jadi yang disebut ghibah adalah pembicaraan yang menyangkut diri seseorang, dan itu jika didengar oleh yang bersangkutan ia marah atau tersinggung. Jadi bisa jadi obrolan ini dianggap biasa-biasa saja saja tanpa maksud apa-apa , tapi orang itu bisa jadi marah.‎ Artinya meskipun yang diucapkan itu fakta sebenarnya, tapi dengan cara membeberkannya kepada orang lain itulah ghibah. Yang seharusnya aib atau cacat saudara kita itu harus kita sembunyikan," terangnya.

Yang harus diwaspadai, dosa ghibah juga berdampak pada pahala ibadah yang telah susah payah kita tabung selama ini, akhirnya berpindah ke orang yang kita bicarakan. Akhirnya tabungan pahala kita selama ini lenyap tidak tersisa alias bangkrut.

Setelah ghibah, dipastikan akan timbul suu'zhan (buruk sangka) setelah itu timbul hasud, kemudian pasti akan terjangkit namimah. Setelah itu timbul penyakit hati lainnya.‎

Jadi sebaiknya, kalau kita mendengar ceramah agama, pengajian, atau nasehat apapun, jangan melihat kepada orang lain. Tunjukanlah bahwa nasihat atau anjuran itu untuk kita sendiri. Ketika kita mendengar ceramah untuk selalu beribadah dan berakhlak mulia, langsung katakan dalam hati bahwa ibadah kita masih kurang dan akhlak kita belum baik, jangan menunjuk kekurangan orang lain.

"Jadi dosa ghibah tidak akan diampuni oleh Allah sebelum orang lain (yang digunjing) mau mengampuninya. Dosa kepada Allah termasuk berzina, berjudi, minuman keras mudah untuk minta ampun, sedangkan dosa terhadap orang lain Allah belum mau mengampuni jika belum meminta maaf kepada orang yang bersangkutan. Bahaya sifat ghibah antara lain, menimbulkan rasa permusuhan dengan orang lain, memutuskan persaudaraan di kalangan manusia  dan menimbulkan perbuatan," ungkapnya.
‎Penyakit hati lainya adalah Namimah atau adu domba yaitu usaha untuk membuat orang lain saling bermusuhan. Sikap namimah sangat dibenci Islam, karena dapat membuat persaudaraan menjadi pecah sehingga dapat melumpuhkan (melemahkan)  kekuatan persaudaraan (ukhuwwah). 

"Dalam kehidupan bermasyarakat sifat namimah  akan menimbulkan terjadinya konflik dan menimbulkan kekacauan di tengah kehidupan umat yang sudah harmonis.. Oleh karena itu sifat namimah harus selalu dijauhi oleh semua orang, terutama bagi orang-orang terdidik, supaya ketenteraman dalam kehidupan bermasyarakat dan berorganisasi dapat terjaga," sebutnya.

Di zaman teknologi informasi sekarang ini, lanjut Tgk Edi Syuhada, perbuatan ghibah dan namimah juga kerap ditemukan di berbagai media sosial (medsos) seperti Facebook, Twitter, WhatsApp, Instagram dan lainnya.

"Meskipun bukan dengan mulut, ghibah dan namimah termasuk berita bohong (hoaks) di medsos juga membawa dosa besar yang lebih luas dengan jutaan pembaca. Orang lain jadi korban gara-gara kita. Karenanya, peliharah jari kita dari ghibah dan namimah di medsos sehingga kita selamat dari penyakit batin ini," pungkasnya.

No comments