Doa belum terkabul? Perhatikan dulu adab berdoa

Share:
Foto:Google.com

SEBAGAI  hamba yang beriman, tentu kita akan menggantungkan segala harapan, impian dan cita-cita kita kepada Allah. Dalam berdo’a, kita dianjurkan untuk melalui proses-proses yang telah ditentukan dalam mendekatkan kita kepada Allah SWT.

Artinya, ketika kita berdo’a kita tidak semata-mata meminta tentang perkara dunia. Tapi kita bermohon agar segala permintaan itu akan mengantarkan kita menjadi hamba-hamba yang semakin bersyukur dan beriman kepadanya. Sehingga apa yang kita peroleh di dunia dapat mengantarkan kita pada kemuliaan di akhirat kelak. Nah! Berikut adalah hal yang perlu diperhatikan ketika berdo’a!

Pada waktu yang baik dan mulia:
Seperti hari ‘Arafah, Bulan Ramadhan, Hari Jum’at, sepertiga di akhir malam, dan pada waktu sahur.

Dalam keadaan yang mulia:
Seperti saat tahajud dalam sembahyang, ketika berhadapan dengan musuh dalam pertempuran, ketika hujan turun, sebelum menunaikan sembahyang dan sesudahnya, ketika jiwa sedang tenang dan bersih dari segala gangguan syaitan dan ketika menghadap ka’bah.

Menghadap Kiblat:
Bertaubat sebelum berdo’a dan menghadapkan diri dengan sungguh-sungguh kepada Allah. 
Alangkah baiknya kita membersihkan diri (seluruh jiwa dan raga) sebelum menghadap ilahi. Karena ketika itu, kita akan terhindar dari firasat-fiarasat buruk yang datang dari godaan-godaan syeitan. Sehingga ini akan menjadi suatu hambtaan untuk mencipatkan kekusyukan kepada Allah SWT.

Merendahkan suara.
Antara terdengar dengan tiada oleh orang yanga ada disisi kita. 
Diharapkan agar kita meresapi lebih dalam segala permohonana kita kepada Allah. Sehingga seolah-olah kita telah merasa seperti berhadapan langsung dengan Allah hingga bebas menceriatakn segala keluh kesah kita padanya. Sangat indah ketika dapat merasakan sentuhan kasih sayang Allah yang luar biasa. Dan itu akan kita peroleh saat kita betul-betul mampu meresapinya.

Berlaku kusyu’ dengan merasakan kebesaran dan kehebatan Allah dalam jiwa kita yang halus.
Kita kembali mengingat rahmat Allah yang tidak pernah terputus. Hal ini akan menghindari berbagai prasangka buruk kepada Allah, dan akan menjadikan kita sebagai hamba-hambaNya yang senantiasa bersyukur. Mengokohkan kepercayaan bahwa do’a itu akan diperkenankan Allah dan tidak merasa gelisah jika do’a itu tidak diperkenankan.

Dikabulkan atau tidak, kita berusaha yakin bahwa apapun keputusan Allah itulah yang terbaik. Karena Dialah yang Maha Mengetahui dan berkehendak untuk hambanya. Baik menurut kita, tapi belum tentu baik menurutnya. Jadi kita serahkan semuanya kepada Allah. Jangan sampai akibat tidak terkabulnya do’a dapat menjadikan kita hamba-hamba yang berpaling darinya. Mengulang-ulang doa itu dua sampai tiga kali. Yakni doa tentang sesuatu yang sangat kita utamakan.

Sebagai wujud besarnya harapan kita doa itu dikabul oleh Allah SWT. Kalau kita sudah datang kepada Allah, tidak mungkin Allah mengecewakan kita.  Memuji Allah pada permulaan
Sekurang-kurangnya membaca: “Alhamdulillahhirabbil’alamin... “
Lalu membaca shalawat kepada Nabi Sekurang-kurangnya membaca: “Allahumma shalli’ala sayyidina Muhammad.. wa’ala alihi washahbii wasallim..”

Lalu memohon sesuatu yang dihajatkan kepada Allah
Diulang-ulang dua sampai tiga kali. Setelah itu kembali membaca shalawat lebih baik secara sempurna. Selanjutnya tahmid, umpanya dengan lafadz yang paling ringkas, “Walhamdulillahirabbil’alamin..” Lebih baiknya secara sempurnya.(Farwida Nazar/Eva)