Ads Header

Breaking News

Sombong dalam Kebaikan, Bolehkah?


SEORANG pria yang bertamu di rumah seorang Kiyai ternama tertegun keheranan. Dia melihat Sang Kiyai sedang sibuk bekerja sendiri menyikat lantai rumahnya sampai bersih.

Pria itu bertanya, “Apa yang sedang Anda lakukan, Kiyai?”

Kiyai menjawab, “Tadi saya kedatangan tamu yang minta nasehat. Saya berikan banyak nasehat yang bermanfaat. Namun, setelah tamu itu pulang saya merasa jadi orang hebat. Kesombongan saya mulai muncul, karena itu, saya lakukan pekerjaan ini untuk membunuh perasaan sombong itu.”

Dari ilustrasi dialog di atas, bisa dikatakan kesombongan seseorang itu bukan hanya karena banyaknya ilmu yang dimilikinya, hartanya, keturunannya saja, tapi bisa jadi kesombongan itu muncul setelah berbuat kebaikan seperti Kiayi di atas.

Tak sedikit diantara kita yang sombong setelah berhasil memberi solusi bagi masalah orang lain. Ada juga yang merasa besar hati setelah berhasil membantu meringankan beban hidup orang lain. Tak jarang ungkapan kesombongan pun tanpa disadari muncul seperti, “Andai dia tidak aku bantu, pasti masalahnya tak pernah terselesaikan.” Ini adalah bentuk ungkapan sederhana tapi mengandung makna keangkuhan.

Sombong adalah penyakit yang sering menghinggapi semua Bani Adam, benih-benihnya kerap muncul tanpa disadari.

Paling tidak, kesombongan itu mempunyai tiga level antara lain sebagai berikut Pertama, sombong disebabkan oleh faktor materi. Pada level ini, biasanya seseorang akan merasa lebih Kaya, lebih Rupawan, dan lebih Terhormat daripada orang lain.


Dilevel kedua, sombong disebabkan oleh faktor kecerdasan. Dalam tahap ini, orang merasa sombong karena ia merasa lebih Pintar, lebih berKompeten dari orang lain, merasa menjadi orang yang paling Benar, dan merasa lebih Berwawasan dibandingkan orang lain.

Ditingkat ketiga, yang banyak orang terjebak karena merasa sombong akibat sudah berbuat baik kepada orang lain (sombong dalam kebaikan). Bisa jadi faktor kesombongan level ketiga ini sudah melekat lama pada diri kita tanpa sedikitpun disadari. Pada level ini, orang menjadi sombong karena ia merasa dirinya lebih Bermoral, lebih Pemurah, dan lebih Tulus dibandingkan dengan orang lain.

Kesombongan level ketiga ini sebenarnya jauh lebih halus dari dua level kesombongan lainnya. Mengapa? Karena orang yang sombong karena materi, maka ia mudah terlihat. Tapi, orang yang sombong karena pengetahuan apalagi sombong karena kebaikan sangat sulit terdeteksi. Sebab ia seperti benih-benih halus yang perlahan tapi pasti terus menjalar di hati seseorang.

Nabi SAW melarang kita sebagai umatnya untuk bersikap sombong, sebab sombong adalah salah satu ciri dari warga neraka. Rasulullah SAW bersabda, “Maukah kamu aku beritahu tentang penduduk neraka? Mereka semua adalah orang-orang keras lagi kasar, tamak lagi rakus, dan takabbur(sombong).”(HR. Bukhari no. 4918 dan Muslim no. 2853).


Dalam riwayat Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu dari Nabi SAW bersabda, “Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi.” Ada sahabat yang bertanya, “Bagaimana dengan seorang yang suka memakai baju dan sandal yang bagus?” Nabi menjawab, “Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.“ (HR. Muslim no. 91)

An Nawawi rahimahullah berkata, “Hadis diatas berisi larangan dari sifat sombong yaitu menyombongkan diri kepada manusia, merendahkan mereka, serta menolak kebenaran” (Syarah Shahih Muslim Imam Nawawi, II/163, cet. Daar Ibnu Haitsam).

Seorang yang mengaku Allah sebagai Rabbnya, Muhammad SAW sebagai nabinya, Al Quran sebagai kitab sucinya, tak layak bersikap sombong. Sebab Allahlah satu-satunya Tuhan yang berhak untuk sombong. Manusia ibarat debu yang bertebaran di muka bumi, tak ada yang perlu dibanggakan.


Mari bertafakur saudaraku, demi Allah kelak Allah pasti akan menghisab semua yang kita sombongkan di dunia fana ini. Jika engkau termasuk orang-orang yang Allah titipkan harta kekayaan, maka sadarilah setiap rupiah yang dimiliki itu kelak akan Allah tanya dari mana dan untuk apa dimanfaatkan. Sadarilah, jika kekayaan itu yang kita sombongkan, maka mudah bagi Allah untuk melenyapkannya. Jika ilmu dan jabatan tinggi serta pengaruh yang luas yang dibanggakan, maka sadarilah semua itu akan sirna dihadapan Allah Robbul ‘izzati.


Sejatinya, kita harus sadar karena kita hanyalah makhluk lemah yang masih sedikit sekali bersyukur atas segala limpahan nikmatNya. Kita hanyalah manusia-manusia akhir zaman yang berasal dari setetes air mani yang keji (Qs. Ath Thariq ayat 5-6). Lalu, masihkah kita sombong dengan segala nikmat yang Allah titipkan itu saudaraku? [Bahron Ansori | mirajnews.com]