![]() |
| Teuku Alfin Aulia, Founder Halaqah Aneuk Bangsa, Mahasiswa Universitas Al-Azhar Kairo Mesir. |
Oleh; Teuku Alfin Aulia: Founder Halaqah Aneuk Bangsa dan Mahasiswa Fakultas Kedokteran Al Azhar, Kairo, Mesir.
Timur Tengah kembali berada di titik nadir stabilitasnya. Serangan langsung Israel ke wilayah Iran pada hari ini (28/2), bukan lagi sekadar bumbu diplomasi, melainkan proyektil nyata yang menandai berakhirnya era "perang bayangan" (shadow war). Namun, bagi mereka yang jeli membaca peta, narasi yang selama ini dijual ke publik dunia—bahwa ini adalah perang demi mencegah pengayaan uranium—terasa terlalu kerdil untuk menjelaskan skala kehancuran yang dipertaruhkan.
"Talak Tiga" dan Hasrat Perubahan Rezim
Akar dari ketegangan ini tidak bermula dari laboratorium nuklir, melainkan dari peristiwa besar tahun 1979. Revolusi Islam Iran bukan hanya sekadar pergantian kekuasaan; itu adalah momen di mana Teheran menjatuhkan "talak tiga" dalam hubungannya dengan Israel dan Amerika Serikat.
Selama hampir 50 tahun, Rezim Mullah telah menjadi duri dalam daging bagi tatanan geopolitik yang diinginkan Barat di kawasan tersebut. Oleh karena itu, tujuan utama dari eskalasi ini sebenarnya sederhana namun ekstrem: penumbangan rezim. Pengayaan uranium hanyalah pintu masuk legal bagi dunia internasional untuk melegitimasi tekanan, sementara target sesungguhnya adalah meruntuhkan struktur kekuasaan yang telah bertahan setengah abad tersebut.
Titik Balik Oktober 2023
Israel semakin merasa terdesak setelah peristiwa Oktober 2023. Keberhasilan Hamas—milisi Sunni yang secara ideologis berakar pada Ikhwanul Muslimin—merangsek masuk ke wilayah Israel, menjadi alarm keras bagi Tel Aviv. Ironi geopolitik ini sangat nyata: meski berbeda sekte, dukungan militer dan teknologi Iran-lah yang menjadi tulang punggung bagi perlawanan tersebut.
Bagi Israel, membiarkan Iran tetap berdiri dengan pengaruhnya yang meluas berarti membiarkan "Lingkaran Api" terus mengepung mereka. Mereka tidak lagi melihat Iran sebagai ancaman jarak jauh, melainkan sebagai otak di balik setiap front yang mereka hadapi hari ini, mulai dari Gaza, Lebanon, hingga Yaman.
Melampaui Sekte: Kompas di Tengah Badai
Salah satu pertanyaan yang paling sering muncul di tengah krisis ini adalah: Ke mana umat Muslim harus berdiri? Di tengah upaya adu domba sektarian yang sering kali dihembuskan untuk memecah kekuatan, realitas di lapangan memaksa orang untuk mencari parameter yang lebih hakiki.
Seringkali, narasi Sunni-Syiah sengaja dipelihara untuk mengaburkan fokus perjuangan. Namun, dalam situasi di mana kedaulatan sebuah bangsa Muslim digempur oleh kekuatan luar yang didukung penuh oleh hegemoni Barat, garis pemisah itu seharusnya memudar.
Politik mungkin rumit, tapi nurani perlawanan memiliki bahasanya sendiri. Jika perbedaan mazhab membuat pandangan menjadi kabur, maka ada satu kaidah tajam yang bisa dijadikan pegangan: "Maka cukuplah arah senjata musuh, menjadi petunjuk yang nyata bagi mereka."
Kalimat ini menjadi pengingat bahwa siapa pun yang menjadi sasaran utama dari kekuatan yang selama ini menindas dan melakukan penjajahan, maka di situlah titik koordinat solidaritas seharusnya diletakkan.
Ketika musuh bersama telah menentukan targetnya, maka target tersebut—terlepas dari perbedaan internalnya—adalah pihak yang sedang berdiri di garis depan konfrontasi.
Konflik ini bukan sekadar urusan rudal melawan rudal. Ini adalah pertarungan ideologi, kedaulatan, dan upaya untuk menentukan siapa yang berhak mengatur masa depan Timur Tengah. Dunia sedang menyaksikan apakah narasi perubahan rezim ini akan berhasil, atau justru menjadi bahan bakar bagi persatuan yang jauh lebih besar di dunia Islam yang melampaui sekat-sekat lama.
Tulisan opini menjadi tanggung jawab penulis.
