Merdekalah Diriku!

Share:
T Lembong Misbah

HARI ini 17 Agustus 2018, menunjukkan kemerdekaan Indonesia telah berumur 73 tahun.

Kemerderkaan itu sejatinya dimaknai bukan hanya sekadar bebas dari cengkeraman kaum penjajah dan penindas. Tapi, mestinya diartikan lebih luas yaitu terlepasnya simpul-simpul pengikat dalam diri seseorang yang menghambatnya untuk meraih sukses.

Salah satu simpul diri yang kerap menjajah seseorang adalah sifat pesimis yang acapkali memandang segala sesuatu serba tidak mungkin.

Banyak orang gagal bukan karena ia tidak punya kemampuan, akan tetapi lebih pada keraguan jiwanya yang membuhul sehingga menutupi seluruh kemampuannya, bagaikan sebutir biji yang hendak tubuh ditungkupi daun dan ranting pohon yang menggunung tentu ia akan mati sebelum berkembang.

Secara sunnatullah, setiap manusia telah dibekali dengan kemampuan yang mumpuni. Pertanyaannya, mengapa ada banyak orang mengatakan “aku tidak bisa!” barangkali ia bukan tidak bisa,  tapi karena ia tidak menggali dan menemukan potensi dalam dirinya sendiri.

Sebagai contoh, ada pengalaman kecil saya dalam bimbingan skripsi dengan seorang mahasiswa. Saat itu ia datang ke meja saya dengan muka muram setelah tiga bulan SK skripsinya di sahkan.  Lalu saya tanya mengapa begitu lama datang untuk bimbingan?  ia menjawab polos dengan penuh kebingungan “payah pak, saya tidak bisa menulis”.

Lantas saya tanya lagi, apa benar kamu tidak bisa menulis? “Benar pak, pusing kepala saya” jawabnya.

"Oya, jika begitu," sahutku.

Kemudian saya meminta si mahasiswa untuk menceritakan apa saja yang ia lakukan sejak tadi pagi sampai ia bertemu dengan saya.

Si mahasiswa tampak bingung, dalam benaknya pertanyaan yang saya majukan tidak ada kaitan dengan skripsinya. Walau begitu ia tetap menceritakan apa yang saya minta.

Setelah usai bercerita, kemudian saya sodorkan kertas HVS dan meminta mahasiswa tersebut duduk di meja sebelah saya dan meminta untuk menulis apa yang ia ceritakan sebelumnya.

Ia tampak bertambah bingung dengan permintaan itu, tapi ia tetap menurut saja.

Tiga puluh menit kemudian saya memanggilnya dan meminta lembaran yang ditulisnya.

"Wow, kamu hebat," kataku, sambil memperlihatkan lembaran kertas HVS yang ditulisnya.

Si mahasiswa terkejut merasa tidak yakin apa yang saya katakan.

“Hanya dalam hitungan 30 menit kamu bisa menulis dua setengah halaman, ini tentu luar biasa, kataku lagi.

Si mahasiswa menatapku nanar, “Ah..bapak canda aja,” jawabnya malu.

"Oh tidak, tadi kamu mengatakan tidak bisa menulis ini kok bisa?” tanyaku.

Spontan si mahasiswa menjawab, “Itu karena saya telah tahu apa yang mau saya tulis pak,"

Saya tersenyum mendengar jawaban itu.

"O..begitu jawabku. Jika demikian, bukan berarti kamu tidak bisa menulis, tapi kamu tidak tahu apa yang mau kamu tulis, maka sekarang juga kamu ke lokasi penelitianmu dan cari informasi tentang apa yang kamu mau teliti," jawabku pada mahasiswa ini.

Masya Allah, hanya dua bulan si mahasiswa ini telah merampungkan skripsinya dan dapat diwisuda dalam semester itu juga

Kini sang mahasiswa tersebut telah mengabdikan dirinya sebagai salah seorang pekerja sosial di salah satu kabupaten di Aceh di bawah naungan Kementerian Sosial Republik Indonesia.

Pengalaman kecil di atas mengguratkan bahwa semua manusia punya kemampuan manakala ia mau menggali dan mencoba untuk melakukan segala potensi diri yang merayap dalam dirinya.

Karena itu orang bijak berkata: “tidak ada orang hebat di dunia ini yang ada hanyalah orang terlatih.”

Sederetan orang hebat di dunia, seperti Bill Gate, Ronaldo, Messi dan lain sebagainya, mereka jadi tenar bukan karena terlahir dari orang hebat, tapi karena kemauan dan keuletan mereka dalam berlatih yang tidak sama dengan orang lain.

Jadi, jika ingin sukses maka berlatihlah terutama pada potensi dominan yang muncul ke permukaan pada diri seseorang.

Kemudian tantanglah selalu diri kita dengan melakukan sesuatu yang selama ini dianggap tidak mampu dikerjakan. Raihlah apa yang diimpikan dengan memerdekakan diri dari kata Tidak Bisa, Tidak Mungkin dan kata pemasung lainnya. Seterusnya, optimislah dalam setiap ikhtiar.

Karena orang optimis dapat melihat peluang dalam masalah, sementara orang pesimis akan melihat masalah dalam peluang.

Semoga melalui momentum hari ulang tahun ke-73 kemerdekaan Republik Indonesia ini, bangsa Indonesia menjadi negeri makmur dan sejahtera dengan sokongan seluruh potensi yang dimilikinya.

[T. Lembong Misbah, adalah Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan Dan Kerjasama, Fakultas Dakwah Dan Komunikasi UIN Ar-Raniry]


No comments