BANDA ACEH — Kawasan Darussalam selama ini dikenal sebagai pusat pendidikan di Aceh. Namun, di sekitar Gedung Pascasarjana UIN Ar-Raniry, keberadaan kios kaki lima yang terus bertambah menghadirkan pemandangan yang berbeda. Di satu sisi, lapak-lapak tersebut menjadi sumber penghidupan bagi pedagang dan memudahkan mahasiswa memenuhi kebutuhan sehari-hari. Di sisi lain, penataan yang belum optimal mulai menimbulkan perhatian terkait estetika dan tata ruang kawasan pendidikan.
Deretan kios yang menjual makanan, minuman, hingga kebutuhan harian berdiri di sejumlah titik sekitar kampus. Aktivitas perdagangan berlangsung hampir sepanjang hari dan menjadi bagian dari dinamika kehidupan mahasiswa di kawasan Darussalam.
Salah seorang pedagang yang akrab disapa Pak De mengaku telah berjualan di lokasi tersebut sejak 2008. Selama hampir dua dekade, ia menggantungkan penghasilan dari aktivitas jual beli yang sebagian besar konsumennya merupakan mahasiswa.
“Kalau di sini istilahnya kami menjaga kebersihan dan ketertiban saja. Memang lapak ini tidak resmi,” ujar Pak De saat ditemui di lokasi.
Menurutnya, para pedagang berupaya menjaga kebersihan lingkungan agar aktivitas usaha tetap berjalan dengan baik. Namun, keberadaan bangunan semipermanen, tenda, serta lapak yang berdiri berdekatan membuat sebagian area kampus tampak kurang tertata dibandingkan kawasan pendidikan pada umumnya.
Belakangan, para pedagang juga dihadapkan pada kabar rencana penertiban oleh pemerintah. Informasi mengenai kemungkinan relokasi maupun pembongkaran lapak menjadi perhatian para pelaku usaha yang selama ini menggantungkan mata pencaharian di kawasan tersebut.
Pak De mengaku memahami kebutuhan penataan lingkungan kampus. Meski demikian, ia berharap pemerintah dapat memberikan solusi yang mempertimbangkan keberlangsungan usaha para pedagang.
“Kalau memang ada pembinaan atau pemindahan lokasi, kami berharap ada solusi yang baik untuk pedagang,” katanya.
Di sisi lain, sejumlah pedagang menilai keberadaan mereka turut membuat kawasan sekitar kampus lebih ramai dan aktif hingga malam hari. Keramaian tersebut, menurut mereka, memberikan rasa aman bagi masyarakat yang melintas karena kawasan tidak lagi sepi seperti beberapa tahun lalu.
Meski demikian, berbagai pihak menilai penataan kawasan tetap menjadi kebutuhan mendesak. Selain menyangkut keindahan lingkungan, keberadaan lapak yang semakin padat juga berpotensi memengaruhi fungsi ruang publik serta kenyamanan pengguna jalan.
Fenomena ini menunjukkan adanya pertemuan antara kepentingan ekonomi dan fungsi pendidikan dalam satu kawasan. Kehadiran kios memberikan manfaat bagi mahasiswa dan pedagang, tetapi pengelolaan yang lebih teratur diperlukan agar aktivitas ekonomi dapat berjalan berdampingan dengan identitas Darussalam sebagai kawasan pendidikan yang tertib, nyaman, dan representatif.
[Cindy Aulia Sukma]
