PERAYAAN Hari Ulang Tahun ke-24 Kabupaten Aceh Barat Daya berlangsung meriah dan penuh semangat kebersamaan. Sabtu (25/4) ribuan warga tumpah ruah mengikuti tradisi Meuseuraya Toet Leumang, sebuah kegiatan memasak leumang secara massal yang sukses mencuri perhatian publik dan mencatatkan rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI).
Dalam kegiatan yang digelar di berbagai titik wilayah Abdya itu, masyarakat memasak sekitar 15.000 batang leumang secara serentak. Jumlah fantastis tersebut menjadikan perhelatan ini sebagai salah satu pesta kuliner tradisional terbesar di Aceh, bahkan Indonesia.
Leumang—atau lemang—merupakan makanan khas berbahan dasar beras ketan dan santan yang dimasukkan ke dalam bambu berlapis daun pisang, lalu dibakar di atas bara api. Aroma bambu yang terbakar dan wangi ketan yang matang menjadi ciri khas yang selalu membangkitkan selera.
Namun Meuseuraya Toet Leumang bukan sekadar agenda wisata kuliner. Tradisi ini juga menggambarkan kuatnya nilai gotong royong masyarakat Abdya. Warga dari berbagai kalangan, mulai dari masyarakat umum, pemuda, perempuan, hingga unsur pemerintah, bergotong royong menyiapkan bahan, menyusun bambu, membakar, hingga menyajikan leumang bersama-sama.
Suasana kebersamaan inilah yang menjadi daya tarik utama. Di tengah kepulan asap pembakaran dan deretan bambu yang berjajar panjang, tampak wajah-wajah bahagia warga yang merayakan tradisi turun-temurun dengan penuh semangat.
Secara filosofis, tradisi leumang juga berkaitan erat dengan identitas daerah. Dalam simbol Kabupaten Abdya terdapat unsur breuh sigupai atau beras Sigupai, yang menjadi salah satu komoditas penting dan bahan utama pembuatan leumang. Karena itu, tradisi ini bukan hanya soal makanan, tetapi juga representasi sejarah, budaya, dan jati diri masyarakat setempat.
Bupati Safaruddin turut mendorong semangat pembangunan daerah melalui slogan “Abdya Menyala”. Semangat tersebut tercermin dalam penyelenggaraan festival yang memadukan energi masyarakat, kecintaan pada budaya lokal, dan optimisme terhadap kemajuan daerah.
Keberhasilan mencetak rekor MURI menjadi kebanggaan tersendiri bagi warga Abdya. Selain mengangkat nama daerah di tingkat nasional, pencapaian ini juga memperkuat posisi Abdya sebagai destinasi wisata budaya yang layak dikunjungi.
Pemerintah daerah berharap Meuseuraya Toet Leumang dapat terus digelar setiap tahun sebagai agenda wisata unggulan. Dengan begitu, tradisi warisan leluhur tetap hidup, ekonomi masyarakat bergerak, dan generasi muda semakin bangga terhadap budaya daerahnya.
Bagi wisatawan yang ingin merasakan suasana khas Aceh yang hangat dan penuh kekeluargaan, Meuseuraya Toet Leumang di Abdya adalah pengalaman yang sulit dilupakan. [Alfatia Nadifa]
