Mahasiswa hari ini semakin aktif menyuarakan pendapat di media sosial. Isu sosial, politik, hingga persoalan kampus dengan cepat mendapat respons. Komentar saling dibalas, opini bermunculan, dan kepedulian terlihat meluas.
Namun, di sisi lain, ruang diskusi tatap muka justru semakin sepi. Forum kampus mulai kekurangan peserta, organisasi kehilangan minat, dan kegiatan sosial sering dihadiri oleh orang-orang yang sama.
Di sinilah muncul ironi. Suara terdengar begitu ramai di dunia maya, tetapi partisipasi di dunia nyata justru menurun.
Fenomena ini bukan tanpa sebab. Laporan We Are Social (2024) menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia menghabiskan lebih dari tujuh jam sehari di internet, dengan sekitar tiga jam di media sosial. Waktu yang besar ini perlahan mengubah cara mahasiswa berpartisipasi.
Media sosial memang memudahkan siapa saja untuk bersuara. Namun, tidak semua bentuk partisipasi memberi dampak nyata. Memberi “like”, membagikan, atau menulis komentar sering kali hanya berhenti pada simbol kepedulian.
Budaya serba cepat juga ikut memengaruhi. Banyak mahasiswa memilih cara instan untuk menunjukkan perhatian. Cukup dengan satu unggahan, seseorang sudah terlihat peduli, tanpa perlu terlibat lebih jauh.
Selain itu, media sosial juga terasa lebih nyaman. Tidak ada tekanan untuk berbicara langsung, tidak ada rasa takut ditolak, dan setiap orang bisa mengatur citra dirinya. Sebaliknya, di dunia nyata, sebagian mahasiswa masih ragu untuk menyampaikan pendapat.
Jika kondisi ini terus dibiarkan, kualitas kehidupan akademik bisa terdampak. Diskusi yang seharusnya menjadi ruang bertukar gagasan perlahan kehilangan makna.
Mahasiswa juga berisiko kehilangan pengalaman sosial. Kegiatan organisasi dan lapangan bukan sekadar formalitas, tetapi tempat belajar bekerja sama, menghadapi perbedaan, dan menyelesaikan masalah.
Di sisi lain, muncul kecenderungan untuk sekadar terlihat peduli. Isu sosial sering dijadikan konten yang cepat berlalu, mengikuti tren tanpa keterlibatan yang berkelanjutan.
Padahal, media sosial bukanlah masalah utama. Ia tetap menjadi alat penting untuk menyebarkan informasi dan membangun kesadaran. Banyak gerakan besar bahkan lahir dari sana.
Yang perlu diubah adalah cara memandang partisipasi itu sendiri. Aktivitas di dunia digital seharusnya menjadi langkah awal, bukan tujuan akhir. [Miftahul Jannah]
