Di tengah perkembangan teknologi yang begitu cepat, mahasiswa punya dua pilihan; memanfaatkan kemudahan dengan bijak atau terjebak dalam budaya serba instan. Masalahnya, batas antara efisien dan sekadar ingin cepat selesai kini makin tipis.
Hari ini, hampir semua jawaban bisa ditemukan dalam hitungan detik. Tugas kuliah terasa lebih mudah diselesaikan, referensi mudah dicari, bahkan ide tulisan bisa dirangkum oleh teknologi. Sekilas, ini terlihat sebagai kemajuan.
Namun, muncul pertanyaan penting. Apakah mahasiswa benar-benar memahami materi, atau hanya sekadar menyelesaikan tugas?
Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa akses internet di kalangan pelajar Indonesia sudah sangat tinggi. Internet sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Sayangnya, penggunaan internet masih didominasi untuk hiburan dan media sosial. Aktivitas belajar yang mendalam justru belum menjadi prioritas.
Kondisi ini membuat sebagian mahasiswa terbiasa mengambil jalan pintas. Mereka mencari jawaban secara cepat, membaca sekilas, lalu langsung menyimpulkan. Fokusnya bukan lagi memahami, tetapi menyelesaikan.
Budaya instan tidak hanya soal kecepatan, tetapi juga membentuk cara berpikir. Ketika semua bisa didapat dengan mudah, ada kecenderungan untuk menghindari proses yang lebih dalam.
Padahal, kemampuan berpikir kritis justru lahir dari proses itu; membaca utuh, membandingkan, dan mempertanyakan.
Dampaknya mulai terasa di dunia akademik. Diskusi di kelas sering hanya di permukaan, argumen kurang berkembang, dan tidak sedikit mahasiswa kesulitan menjelaskan kembali apa yang mereka tulis. Ini menunjukkan bahwa informasi memang didapat, tetapi belum benar-benar dipahami.
Di sisi lain, kemudahan teknologi juga bisa menciptakan ilusi kemampuan. Mahasiswa merasa “tahu” karena bisa menemukan jawaban dengan cepat, padahal belum tentu memahami konsepnya.
Kemampuan mencari informasi sering dianggap sama dengan kemampuan memahami, padahal keduanya berbeda.
Perlu dipahami, teknologi bukanlah masalah. Justru teknologi adalah alat yang sangat membantu dalam proses belajar.
Mahasiswa seharusnya tidak hanya mampu mencari informasi, tetapi juga mengolah dan mengkritisinya. Di sinilah perbedaan antara sekadar pengguna teknologi dan pelajar yang benar-benar berkembang.
Karena itu, penting untuk membedakan efisiensi dan kemalasan. Efisiensi berarti mempercepat proses tanpa menghilangkan pemahaman. Sementara kemalasan justru menghindari proses itu sendiri.
Jika budaya instan terus dibiarkan, mahasiswa berisiko kehilangan kemampuan berpikir kritis. Padahal, kemampuan ini sangat penting di tengah derasnya arus informasi saat ini. Tanpa itu, mahasiswa hanya akan menjadi konsumen pengetahuan, bukan pengolahnya.
Pada akhirnya, persoalannya bukan pada teknologi, tetapi pada pilihan. Apakah kemudahan ini digunakan untuk memahami lebih dalam, atau sekadar mempercepat penyelesaian?
Karena dalam pendidikan, yang penting bukan seberapa cepat selesai, tetapi seberapa dalam kita benar-benar memahami. [Miftahul Jannah]
