Iklan

Iklan

Peringati Hari Kartini, UIN Ar-Raniry dan Masyarakat Sipil Perkuat Kepemimpinan Perempuan dalam Aksi Iklim

4/21/26, 19:57 WIB Last Updated 2026-04-21T12:57:29Z




Banda Aceh - Perubahan iklim menjadi tantangan global yang tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga pada kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat. Dalam banyak situasi, perempuan merupakan kelompok yang paling terdampak. Namun di sisi lain, mereka juga memiliki peran strategis dalam menjaga keberlanjutan lingkungan melalui pengetahuan lokal, praktik adaptasi, serta kepemimpinan di tingkat tapak.


Indonesia sendiri telah menunjukkan komitmen dalam aksi iklim melalui berbagai kebijakan nasional. Salah satunya adalah penguatan Perhutanan Sosial yang hingga 2026 telah mencakup akses kelola seluas 8,33 juta hektare bagi masyarakat. Program ini tidak hanya mendorong keberlanjutan hutan, tetapi juga membuka ruang bagi perempuan untuk terlibat aktif dalam pengelolaan sumber daya alam dan pengembangan ekonomi berbasis hutan.


Pengalaman di Aceh menunjukkan bahwa perempuan memiliki kapasitas kepemimpinan yang kuat dalam menjaga hutan. Di Mukim Kunyet, Kabupaten Pidie, Nurhalimah melalui Women Forest Defenders (WFD), sekaligus sebagai Wakil Ketua Lembaga Pengelola Hutan Adat (LPHA), aktif dalam rehabilitasi hutan, pemantauan kawasan, serta pemberdayaan ekonomi berbasis hasil hutan.


Di sisi lain, Kartini dari Stasiun Penelitian Soraya, Subulussalam, turut berkontribusi dalam mendukung penelitian biodiversitas dan pemantauan restorasi hutan di kawasan hutan sekunder yang menjadi bagian penting dari Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL). Sementara itu, Rahmi dari Sekolah Anti Korupsi Aceh (SAKA) Baca Anggaran Lingkungan mendorong keterlibatan generasi muda dalam memahami kebijakan serta pengawasan anggaran lingkungan.


Momentum ini terlihat dalam peringatan Hari Kartini dan Hari Bumi 2026. Berbagai pihak dari kalangan akademisi, pemerintah, dan masyarakat sipil di Aceh berkumpul dalam forum dialog bertema “Dari Emansipasi ke Aksi Iklim: Memperkuat Kesetaraan Gender, Partisipasi, dan Kepemimpinan Perempuan dalam Aksi Iklim di Indonesia” yang diselenggarakan di Aula Rektorat UIN Ar-Raniry dan dihadiri sekitar 150 peserta.


Forum ini diselenggarakan oleh The Asia Foundation melalui program  WFD bersama Gerakan Anti Korupsi (GeRAK) Aceh, bekerja sama dengan Dewan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (DEMA FISIP) UIN Ar-Raniry. Kegiatan ini juga menjadi bagian dari inisiatif yang dilaksanakan secara serentak di delapan kampus provinsi di Indonesia.


Melalui forum ini, upaya memperkuat kepemimpinan perempuan dalam aksi iklim terus didorong. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi ruang untuk memperkenalkan praktik baik perempuan penjaga hutan serta meningkatkan pemahaman generasi muda tentang pentingnya peran perempuan dalam menjaga lingkungan.


Dalam sesi talkshow, Nurhalimah menegaskan bahwa perempuan tidak hanya menjadi pihak yang terdampak ketika hutan rusak. 


“Perempuan juga memiliki peran penting dalam menjaganya. Bagi kami, menjaga hutan berarti menjaga kehidupan,” ujarnya.


Kartini juga menambahkan bahwa peran sekecil apa pun tetap berarti. “Saya bukan akademisi, tetapi dari pengalaman di lapangan saya belajar bahwa hutan adalah tempat kita menjaga kehidupan. Bahkan dari dapur, kita tetap bisa menjadi bagian dari upaya konservasi,” katanya.


Sementara itu, Dr. Cut Maila Hanum mengingatkan bahwa Hari Kartini seharusnya menjadi ruang refleksi. Ia menekankan bahwa perubahan tidak akan terjadi tanpa pemikiran yang kritis, rencana aksi yang nyata, serta partisipasi yang bermakna.


Dari diskusi tersebut, muncul beberapa poin penting. Di antaranya adalah meningkatnya kesadaran akan pentingnya keterlibatan perempuan dalam pengelolaan hutan dan aksi iklim, serta perlunya penguatan kapasitas perempuan dan generasi muda dalam memahami kebijakan dan anggaran lingkungan.


Selain itu, kolaborasi antara masyarakat sipil, kampus, dan pemerintah juga perlu diperkuat agar kebijakan yang dihasilkan lebih inklusif dan berkelanjutan. Forum ini juga menegaskan pentingnya pergeseran dari pendekatan respons bencana menuju upaya mitigasi dan pencegahan berbasis komunitas sebagai langkah strategis menghadapi krisis iklim ke depan. [Raihana Salsabilla]

Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Peringati Hari Kartini, UIN Ar-Raniry dan Masyarakat Sipil Perkuat Kepemimpinan Perempuan dalam Aksi Iklim

Terkini

Topik Populer

Iklan