Oleh : Zharifa Adzkia Mahasiswa Psikologi UIN Ar-Raniry
Rencananya hanya satu episode. Namun, begitu muncul tulisan “Next Episode Plays in 5 Seconds”, jari ini seperti kehilangan tenaga untuk menekan tombol pause. Tanpa sadar, jam sudah menunjukkan pukul dua dini hari.
Yang menarik bukan berapa lama saya menonton. Yang menarik adalah, keesokan harinya pikiran saya terasa lebih ringan. Bukan karena masalahnya hilang. Tugas itu tetap ada, dan tenggat waktunya tetap mendekat. Namun, ada sesuatu yang membuat semuanya terasa lebih mudah dihadapi. Seolah-olah otak saya mendapat jeda yang cukup untuk sekadar bernapas.
Kuliah Itu Melelahkan, dan Itu Wajar
Saya rasa banyak mahasiswa pernah merasakan hal yang sama, tetapi jarang mengakuinya. Menjadi mahasiswa bukan hanya soal belajar. Ada tekanan nilai, ekspektasi orang tua, kecemasan tentang masa depan, serta tuntutan untuk selalu terlihat baik-baik saja di depan orang lain. Kelelahannya bukan hanya fisik, tetapi juga mental.
Kondisi seperti ini juga banyak ditemukan dalam kehidupan mahasiswa. Tugas yang menumpuk, ujian, dan kekhawatiran terhadap masa depan dapat memengaruhi kesejahteraan psikologis mereka.
Ketika rasa lelah itu menumpuk, terkadang kita hanya membutuhkan ruang untuk bernapas sejenak. Sayangnya, pergi ke konselor kampus masih terasa berat bagi sebagian mahasiswa. Entah karena tidak memiliki waktu, tidak tahu harus mulai dari mana, atau memang belum siap untuk bercerita. Akhirnya, kita mencari cara lain untuk menenangkan diri. Bagi saya, dan mungkin banyak mahasiswa lainnya, salah satunya adalah menonton drakor.
Ternyata Ada Namanya
Belakangan saya baru mengetahui bahwa apa yang saya lakukan malam itu memiliki istilah dalam psikologi, yaitu emotion-focused coping. Menurut Lazarus dan Folkman (1984), emotion-focused coping merupakan strategi yang digunakan seseorang untuk mengelola respons emosional yang muncul akibat situasi yang menimbulkan stres. Salah satu bentuknya adalah melakukan aktivitas yang menyenangkan untuk membantu meredakan ketegangan emosi sebelum kembali menghadapi masalah yang ada.
Artinya, seseorang tidak selalu harus langsung menyelesaikan masalahnya. Terkadang, yang lebih dibutuhkan adalah menenangkan diri terlebih dahulu agar dapat menghadapi masalah tersebut dengan lebih baik.
Menurut saya, drakor bekerja dengan cara yang unik. Ceritanya mampu menyerap perhatian sehingga otak sejenak berhenti memikirkan deadline dan nilai. Alur yang menarik, konflik yang beragam, serta rasa penasaran yang terus dibangun membuat penonton mudah terbawa suasana.
Selain itu, tidak dapat dimungkiri bahwa visual para aktor dan aktris juga menjadi daya tarik tersendiri. Penampilan mereka sering kali membuat seseorang tertarik untuk mulai menonton, sebelum akhirnya bertahan karena kualitas cerita yang disajikan.
Bagi saya, menonton drakor terasa berbeda dibandingkan sekadar scrolling media sosial yang sering kali justru membuat pikiran semakin terdistraksi. Entah mengapa, melihat tokoh utama jatuh, bangun, lalu berhasil melewati berbagai kesulitan terasa menenangkan. Seakan mengingatkan bahwa sesulit apa pun keadaan yang sedang dihadapi, selalu ada kemungkinan untuk melewatinya.
Dalam drakor yang saya tonton saat itu, saya merasa sangat dekat dengan tekanan yang dialami para karakternya. Tuntutan untuk sempurna, rasa takut mengecewakan orang lain, dan perjuangan untuk membuktikan diri adalah hal-hal yang tidak jauh berbeda dari kehidupan mahasiswa.
Lupa Sejenak Bukanlah Hal Buruk
Hal ini sejalan dengan penelitian Sonnentag dan Fritz (2007) yang menjelaskan bahwa aktivitas hiburan dapat membantu seseorang melepaskan diri sejenak dari tekanan sehari-hari sehingga kondisi psikologisnya lebih pulih dan siap menjalani aktivitas berikutnya.
Drakor memberikan jeda itu bagi saya. Setidaknya selama satu atau dua jam, saya tidak memikirkan tugas, nilai, ataupun ekspektasi siapa pun. Saya hanya mengikuti cerita orang lain, dan ternyata itu cukup untuk mengisi ulang energi yang terasa habis terkuras.
Tentu saja, ini bukan berarti masalahnya selesai. Namun, saya bisa menghadapi hari berikutnya dengan kondisi yang sedikit lebih baik. Dan terkadang, “sedikit lebih baik” itulah yang membuat perbedaan.
Tapi Saya Harus Jujur
Tidak setiap sesi menonton drakor berakhir seproduktif itu. Ada juga malam-malam ketika satu episode berubah menjadi lima episode, lalu saya bangun kesiangan dengan tugas yang masih belum tersentuh.
Di situlah saya mulai memahami perbedaan antara menonton sebagai jeda yang sehat dan menonton sebagai pelarian yang justru memperburuk keadaan.
Jika menonton drakor membuat saya lebih siap menghadapi hari berikutnya, itu bisa menjadi bentuk coping yang sehat. Namun, jika menonton hanya digunakan untuk menghindari sesuatu yang seharusnya dihadapi hingga membuat urusan semakin berantakan, mungkin itu menjadi tanda bahwa saya perlu berhenti sejenak dan menetapkan batasan untuk diri sendiri.
Untuk Sesama Mahasiswa yang Mungkin Merasa Sama
Kalau kamu juga memiliki drakor andalan yang selalu ditonton ketika semuanya terasa berat, percayalah, kamu tidak sendirian. Dan itu bukan sesuatu yang perlu disembunyikan.
Setiap orang memiliki cara masing-masing untuk bertahan di tengah tekanan yang sering kali tidak terlihat dari luar.
Yang penting, kita memahami bahwa drakor hanyalah teman untuk beristirahat sejenak, bukan tempat untuk lari selamanya. Setelah layar dimatikan, masalah itu tetap ada dan menunggu untuk diselesaikan. Namun setidaknya, kita menghadapinya dengan kepala yang lebih tenang. [ ]
