Banda Aceh - Ribuan jamaah memadati Masjid Oman Al-Makmur dalam gelaran tabligh akbar bertajuk program Banda Aceh Berhaji yang diselenggarakan oleh Bank Syariah Indonesia, Selasa (21/4/2026) . Kegiatan ini menghadirkan Hanan Attaki sebagai penceramah utama yang dikenal luas dengan gaya dakwahnya yang dekat dengan generasi muda, khususnya Gen Z.
Sejak awal acara, suasana masjid tampak penuh antusias. Jamaah yang didominasi kalangan anak muda terlihat khusyuk menyimak setiap pesan yang disampaikan. Dalam tausiyahnya, Ustadz Hanan membuka dengan mengutip firman Allah dalam Surah Al-Baqarah ayat 208 yang mengajak umat Islam untuk masuk ke dalam agama secara kaffah atau menyeluruh.
Ia menjelaskan bahwa konsep kaffah bukan sekadar menjalankan sebagian ajaran agama, melainkan mengamalkan Islam secara total tanpa memilih-milih sesuai kenyamanan pribadi. Menurutnya, fenomena menjalankan agama secara parsial masih banyak terjadi, terutama di kalangan generasi muda yang hidup di tengah arus modernitas.
“Sering kali kita hanya mengambil bagian yang terasa ringan dan menunda yang berat. Padahal Islam itu tidak untuk dijalani setengah-setengah,” ujarnya di hadapan jamaah.
Lebih lanjut, ia menyoroti salah satu fenomena yang berkembang di masyarakat, yakni anggapan bahwa ibadah haji adalah kewajiban yang hanya relevan bagi mereka yang telah berusia lanjut. Ustadz Hanan menegaskan bahwa pandangan tersebut perlu diluruskan, karena secara syariat tidak ada batasan usia untuk menunaikan haji selain kemampuan, baik fisik maupun finansial.
“Haji itu bukan ibadah orang tua. Justru secara fisik, masa muda adalah waktu yang paling ideal karena kita masih kuat menjalani rangkaian ibadah yang cukup berat,” jelasnya.
Ia menambahkan, ibadah haji menuntut kesiapan fisik yang prima, mulai dari berjalan kaki dalam jarak jauh hingga menghadapi kondisi cuaca ekstrem di Tanah Suci. Oleh karena itu, menunda dengan alasan “belum waktunya” justru dapat menjadi kerugian, terutama ketika kesempatan itu datang namun kondisi fisik tidak lagi mendukung.
Selain membahas haji, Ustadz Hanan juga menyinggung fenomena sosial yang tengah populer di kalangan Gen Z, seperti istilah “marriage is scary”. Menurutnya, ketakutan terhadap pernikahan sering kali dipengaruhi oleh pengalaman pribadi atau lingkungan sekitar, namun tidak seharusnya membuat seseorang menjauh dari ajaran Islam.
Ia menekankan bahwa baik haji maupun pernikahan merupakan bagian dari syariat yang harus dipahami secara utuh dan dijalani dengan kesiapan iman, bukan sekadar mengikuti perasaan takut atau nyaman.
Dalam kesempatan tersebut, ia juga mengajak generasi muda untuk mulai membangun niat dan langkah nyata sejak dini, termasuk dalam merencanakan ibadah haji. Menurutnya, keterbatasan finansial bukan alasan untuk menunda niat beribadah.
“Kalau belum mampu, mulailah dengan menabung. Dalam Islam, niat yang tulus dan usaha yang konsisten sudah bernilai ibadah,” ungkapnya.
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa dalam ajaran Islam, proses menuju kebaikan memiliki nilai yang besar. Bahkan, seseorang yang berniat melakukan kebaikan namun terhalang oleh uzur syar’i tetap mendapatkan pahala sebagaimana disebutkan dalam hadis.
Tabligh akbar ini tidak hanya menjadi ajang ceramah keagamaan, tetapi juga ruang refleksi bagi generasi muda di Banda Aceh. Di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks, ajakan untuk kembali menjalankan Islam secara kaffah menjadi relevan dan penting.
Melalui gaya penyampaian yang ringan namun sarat makna, Ustadz Hanan Attaki mengajak anak muda untuk tidak menunda kebaikan. Ia menegaskan bahwa perjalanan menuju perubahan tidak harus menunggu sempurna, melainkan dimulai dari keberanian untuk melangkah sejak sekarang. [Anjanisa Munawara]
