Oleh Aura Fiyatun Nisak, Mahasisiwi Prodi Komunikasi Penyiaran Islam, Fakultas Dakwah dan Komunikasi, UIN Ar-raniry Banda Aceh.
DI TENGAH perkembangan teknologi digital, kebiasaan curhat tidak lagi hanya dilakukan kepada teman atau keluarga. Kehadiran kecerdasan buatan seperti ChatGPT menjadi alternatif baru bagi banyak manusia untuk mengungkapkan perasaan, kapan saja tanpa ada kekhawatiran terhadap reaksi ataupun penilaian orang lain.
Gejala ini semakin terlihat di kalangan generasi muda. Saat rasa lelah, overthinking atau kebutuhan untuk didengar muncul, terutama di saat kesepian, ChatGPT kerap dijadikan tempat untuk berbagi cerita. Tanpa harus menunggu, tanpa konflik emosional, serta tanpa rasa takut rahasia tersebar, AI dianggap “pendengar” yang praktis dan selalu ada.
Meski demikian, kemudahan tersebut memunculkan pertanyaan penting : apakah curhat kepada AI berdampak baik bagi kesehatan emosional?
Di satu sisi, ChatGPT dapat membantu untuk menata pikiran. Jawaban yang diberikan secara jelas dan netral mampu memberikan perspektif baru, bahkan solusi yang sederhana. Bagi sebagian orang, hal ini cukup untuk membantu meredakan tekanan batin, setidaknya dalam waktu singkat.
Fenomena ini juga menarik perhatian publik pada tahun 2025 melalui kasus seorang remaja berusia 16 tahun, Adam Raine, Amerika Serikat. Ia diketahui menjadikan AI sebagai tempat mencurahkan perasaan, khususnya saat mengalami kondisi emosional yang tidak stabil. Dalam interaksinya, ia beberapa kali mengungkapkan tekanan yang dirasakan. Peristiwa meninggalnya remaja tersebut kemudian memicu diskusi publik mengenai bagaimana teknologi seharusnya merespon pengguna yang sedang berada dalam kondisi rentan.
Di sisi lain, penting untuk disadari bahwa ChatGPT tetap merupakan sistem buatan manusia. Ia tidak memiliki empati yang nyata, melainkan hanya mereplikasi pola komunikasi manusia berdasarkan data. Ketergantungan berlebihan pada AI dikhawatirkan dapat mengurangi kualitas hubungan sosial, karena individu menjadi terbiasa dengan respon yang terkendali dan minim konflik.
Selain itu, kebiasaan ini berpotensi menciptakan rasa nyaman yang bersifat sementara dan semu. Ketika seseorang terlalu sering menerima respon yang mendukung tanpa perbedaan pendapat, ia bisa saja mengalami kesulitan dalam menghadapi hubungan sosial yang lebih kompleks di dunia nyata.
Curhat kepada ChatGPT bukanlah sesuatu yang sepenuhnya salah. Namun, pengguna sebaiknya menempatkan AI sebagai pelengkap, bukan pengganti interaksi manusia. AI dapat membantu dalam memahami emosi, tetapi hubungan sosial yang nyata tetap menjadi kebutuhan yang utama.
Pada akhirnya, teknologi seharusnya berfungsi untuk mendukung kehidupan manusia, bukan sebagai pengganti peran manusia. Curhat kepada ChatGPT boleh saja dilakukan, tetapi tidak untuk membuat kita melupakan bahwa manusia tetap membutuhkan manusia lain untuk didengar. []
