Gaza - Rumah Sakit Al-Shifa, kompleks medis terbesar di Jalur Gaza, kembali beroperasi sebagian setelah mengalami kerusakan berat akibat operasi militer Israel tahun lalu. Direktur rumah sakit, Muhammad Abu Salmiya, mengatakan sekitar 300 tempat tidur kini telah difungsikan kembali sejak gencatan senjata pada Januari 2025 memungkinkan dilakukannya perbaikan fasilitas utama di wilayah utara Gaza.
Sebelum serangan, Al-Shifa memiliki kapasitas 700 tempat tidur dan 22 ruang operasi. Kini, jumlah itu menyusut drastis menjadi hanya 300 tempat tidur dan 8 ruang operasi aktif. Peralatan medis canggih seperti MRI dan CT scan masih belum bisa digunakan.
“Meskipun ada gencatan senjata, korban luka terus berdatangan setiap hari. Situasinya sangat buruk,” kata Abu Salmiya.
Ia menjelaskan bahwa Al-Shifa kini menjadi satu-satunya pusat layanan kesehatan utama setelah sebagian besar rumah sakit di Gaza utara hancur total.
Selain kerusakan fasilitas, banyak tenaga medis juga menjadi korban dalam konflik berkepanjangan ini. Sekitar 250 staf Al-Shifa dilaporkan tewas, sementara 350 lainnya, termasuk beberapa kepala departemen, masih ditahan oleh otoritas Israel.
Abu Salmiya juga membagikan pengalaman pribadinya saat ditangkap di pos pemeriksaan ketika mengantar pasien. Ia mengaku ditutup matanya, diborgol, dan mengalami pemukulan serta penyiksaan berat.
Layanan Darurat dalam Keterbatasan Untuk memenuhi kebutuhan medis yang terus meningkat, otoritas kesehatan setempat membangun rumah sakit darurat berupa tenda di dalam kompleks Al-Shifa. Langkah ini diambil di tengah keterbatasan pasokan obat, alat medis, dan minimnya tenaga profesional yang tersisa.
Meski situasi sangat sulit, para dokter dan perawat yang masih bertugas bertekad untuk tetap melayani warga. “Apa pun yang terjadi, kami akan terus menyelamatkan nyawa,” tegas Abu Salmiya, yang sebelumnya ditahan selama 17 bulan dan kehilangan rumah serta anggota keluarganya akibat perang. [Tuan Muhammad Akma Asyraaf]
Sumber: MetroTv
