Unsyiah Gelar Muzakarah Kebencanaan Cendekiawan Muslim

Share:

WASATHA.COM, Banda Aceh - Universitas Syiah Kuala melalui  Pusat Riset Tsunami dan Mitigasi Bencana (TDMRC) menggelar kegiatan Muzakarah Kebencanaan Cendekiawan Muslim , yang mengangkat tema “Membangun Ikhtiar Menuju Aceh Sadar Bencana”. Kegiatan ini dibuka oleh Rektor Unsyiah Prof. Dr. Ir. Samsul Rizal, M.Eng di Hotel Hermes Palace. (Banda Aceh, 18/12).

Rektor mengatakan, Aceh telah sekian lama menikmati kehidupan yang damai, bebas dari konflik dan telah melampaui 15 tahun proses pemulihan pasca tsunami. Capaian ini tidak saja merupakan kerja keras dari para praktisi penanggulangan bencana, namun tentunya peran dan dukungan dari para ulama.

Setelah tsunami 2004, ketangguhan masyarakat Aceh begitu teruji. Meskipun menjadi korban namun masyarakat Aceh tidak berputus asa terhadap rahmat dari Allah. Hal serupa ini tidak terlihat pada bencana lain yang terjadi di negara maju seperti di Jepang atau Amerika Serikat.

Rasa optimis inilah, lanjut Rektor, yang menyebabkan proses rehabilitasi dan rekonstruksi Aceh berjalan dengan baik.

“Perilaku dan karakter tawakkal terhadap cobaan dari Allah tersebut juga merupakan buah dari tempaan para ulama kita, baik melalui mimbar-mimbar kutbah maupun melalui tempaan di dayah atau pesantren,” ucap Rektor.

Di sisi lain, kesiapsiagaan terhadap bencana harus menjadi pesan yang menggerakkan bagi masyarakat. Hal ini harus dilakukan secara bersinergi, dengan menggandeng peran pemerintah, ulama, dan akademisi untuk mempertegas pesan-pesan pengurangan risiko bencana di semua lapisan masyarakat.

Karena hal inilah Unsyiah menginisiasi terlaksananya muzakarah yang Pertama ini. Unsyiah juga mendorong agar pertemuan ini ruitin dilaksanakan, baik oleh pemerintah atau ulama pada kesempatan berikutnya.

“Unsyiah memandang penting upaya yang intens untuk mempertemukan unsur pemerintah, ulama, dan akademisi untuk mendorong pesan-pesan pengurangan risiko bencana di semua aktivitas kehidupan, termasuk di dalamnya dalam kutbah, ceramah, dan pendidikan di Dayah atau Pesantren,” ucap Rektor.

Sementara itu PLT Gubernur Aceh Ir. Nova Iriansyah mengatakan, dirinya sangat mengapresiasi terlaksanannya kegiatan ini. Mengingat Aceh merupakan daerah yang rawan bencana. Berdasarkan data dari Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) menunjukkan, mulai Januari – November 2019 Aceh telah mengalami 693 bencana. Baik itu berupa tanah longsor, kebakaran hutan dan lainnya.

Oleh sebab itu, Nova sangat mendukung upaya-upaya penanggulangan bencana harus terus dilakukan sesering mungkin. Apalagi indeks risiko bencana Aceh semuanya termasuk katagori tinggi.

“Hal inilah yang mendorong kita untuk terus berbicara bagaimana mengurangi risiko bencana. Pembicaraan ini tidak boleh berhenti. Mudah-mudahan kita dapat skema evakuasi atau edukasi yang tepat kepada anak cucu kita, agar mereka dapat meminiamlisir akibat dari bencana,” ucapnya.

Dalam prespektif lain, lanjut Nova, Aceh sebagai daerah berbasis syariat islam maka sudah tentu kertelibatan ulama dan tokoh masyarakat serta cendikiawan adalah sesuatu yang sangat dibutuhkan, terutama dalam penyadaran kepada masyarakat tentang bencana. Skema-skema penanggulangan bencana ini harus bisa dipahami sampai unit terkecil masyarakat.

“Maka kami berharap forum ini bisa menghasilkan rumusan untuk ditindaklanjuti, dalam upaya mengoptimalkan peran ulama, cendikiawan muslim serta perguruan tinggi dalam menyukseskan penanggulangan bencana,” pungkasnya.

Adapun beberapa rekomendasi penting muzakarah ini adalah membangun Aceh Sadar Bencana melalui khutbah jumat, implementasi konsep pentahelix, internalisasi masif kebencanaan dalam kurikulum pendidikan formal atau non formal.

Percepatan pengesahan Qanun Pendidikan Kebencanaan di provinsi Aceh, pemanfaatan Dana Desa dalam upaya-upaya pengurangan resiko bencana. Pemerintah wajib memastikan jika strategi pengurangan risiko bencana  masuk ke dalam prioritas pembangunan, dan menjadi agenda pada Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkompinda),  serta pencanangan hari Smong daerah.

Hadir sebagai pemateri dalam kegiatan ini Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh Tengku H. Faisal Ali, Anggota MPU Aceh Abuyazid Al-Yusufi dan  Mantan Rektor UIN Ar-Raniry Prof. Yusni Sabi.[]

No comments