Rektor UIN: Lapangan Tugu Milik Bersama!

Share:

Rektor UIN Ar-Raniry, Prof Warul Walidin saat memberikan pidato pada penutupan pengenalan budaya akademik kemahasiswaan (PBAK) di Lapangan Tugu Darussalam Banda Aceh, Rabu (29/8/2019). (Foto: Muhammad Ridha | Mahasiswa KPI UIN Ar-Raniry)


WASATHA.COM, BANDA ACEH – Mahasiswa yang tak terima Lapangan Tugu Darussalam digembok portal gerbang masuknya saat ingin melaksanakan penutupan Pengenalan Budaya Akademik Kemahasiswaan (PBAK) Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh itu membongkar secara paksa gembok tersebut pada Rabu (28/8) siang.

“Waktu kami datang ke sana (Lapangan Tugu) ternyata lapangannya itu digembok,” kata Rahmad Ali, Koordinator Lapangan (Korlap) PBAK UIN Ar-Raniry.

BACA: Sempat Digembok, Mahasiswa Baru UINAr-Raniry Duduki Lapangan Tugu Darussalam

Tak terima dengan hal tersebut, para mahasiswa yang ingin melaksanakan penutupan PBAK itu kemudian membongkar secara paksa gembok tersebut dan menduduki Lapangan Tugu Darussalam.

Menurut Ali, pihaknya hanya mengirimkan surat pemberitahuan untuk pemakaian lapangan tersebut, bukan surat permintaan izin dikarenakan Lapangan Tugu Darussalam merupakan milik bersama dari tiga perguruan tinggi.

BACA: Surat Rektor Unsyiah Bikin Heboh, Asrama Putri UIN Diminta Dikosongkan

Hal tersebut membuat Rektor UIN Ar-Raniry, Prof Warul Walidin berkomentar di depan mahasiswa baru mengenai sejarah Tugu Darussalam itu pada penutupan PBAK.

Rektor UIN mengatakan awal mula berdirinya Tugu Darussalam merupakan milik rakyat Aceh yang kemudian diberi hak yang sama untuk tiga perguruan tinggi yang ada di daerah setempat yakni, UIN Ar-Raniry, STAI Tgk Chik Pante Kulu dan Universitas Syiah Kuala.

BACA: KlarifikasiUnsyiah Terkait Penggunaan Lapangan Tugu Darussalam

“UIN Ar-Raniry adalah bagian yang tak terpisahkan dari Kopelma Darussalam, kita diberi hak yang sama-sama untuk memperjuangkan Lapangan Tugu Darussalam,” katanya.

Kopelma Darussalam merupakan kawasan pendidikan yang diberikan oleh rakyat Aceh untuk sarana pengembangan pendidikan masyarakat Aceh.

Mulai saat itu, semua komponen rakyat Aceh ikut mencurahkan pikiran dan tenaga serta bekerja bahu membahu dalam membangun Darussalam sehingga berdirinya Universitas Syiah Kuala dan IAIN Ar-Raniry.

Polisi, tentara, pegawai, anak sekolah, rakyat di sekitar perkampungan Darussalam, turut serta bergotong royong dengan penuh keikhlasan untuk mendirikan dan menyumbangkan tenaga bagi pembangunan Darussalam, yang dipandang sebagai “Jantong Hate Rakyat Aceh”
Ia juga mengatakan, UIN yang dulunya IAIN juga sama-sama dan bersinergi dalam membangun Masjid Kopelma Darussalam dengan Unsyiah dan STAI Tgk Chik Pante Kulu.[]


No comments