![]() |
| Teuku Alfin Aulia, Founder Halaqah Aneuk Bangsa, Mahasiswa Universitas Al-Azhar Kairo Mesir. |
Oleh: Teuku Alfin Aulia, Founder Halaqah Aneuk Bangsa, Mahasiswa Al Azhar, Kairo, Mesir.
Andai "Ramadhan" adalah hari-hari kita sepanjang tahun. Siang dan malamnya hampir tak ada beda; jalan dan padang, kampung dan pekan seluruhnya terlihat hening, karena manusia sedang sibuk dengan diri mereka sendiri.
Siangnya manusia keluar dari rumah mereka dengan menahan lapar dan dahaga, tak ada keinginan dunia berlebihan yang ingin mereka kejar dengan penuh tipuan, karena keinginan perut saja harus ditunda sampai maghrib datang.
Sedikit sekali ditemukan panggilan dan seruan pada hal-hal yang berbau maksiat, karena orang-orang menganggap bulan ini sebagai waktu singkat yang terhormat; yang harusnya dipergunakan dengan sebaik mungkin. Bilapun maksiat masih terlihat dan dilakukan sesekali, tentunya akan ada rasa berbeda didalamnya; sedikit penyesalan, dan ketidaknyamanan karena dilakukan dibulan yang mulia.
Malamnya, mereka isi dengan sholat malam meski dua raka'at.
Siangnya hening dari dengki, caci maki, dan permusuhan, karena masing-masing sedang sibuk menenangkan perutnya yang lapar.
Tak ada yang mampu meninggikan suara dirinya diatas orang lain, karena masing-masing sedang sama-sama lemas menahan lapar dan haus.
Disela-sela waktunya yang dianggap mulia, manusia meninggalkan segala kesibukannya demi memburu amal sholeh. Mereka menyisihkan waktu untuk membuka Mushaf meski seayat, agar tak luput dari mulianya bulan ini.
Pemandangan seperti inilah yang harusnya menjadi hal ahwal manusia sepanjang tahun.
Layaknya bulan Ramadhan yang singkat dan mulia, hidup manusia didunia juga demikian singkat untuk diisi dengan hal yang tak bermanfaat apalagi maksiat. Waktu manusia didunia yang sesaat, begitu mulia untuk diisi dengan hal yang buruk.
Ramadhan seringkali kita maknai sebagai jeda, namun bagaimana jika ia sebenarnya adalah standar baku kehidupan? Bayangkan jika ritme Ramadhan—siang yang terjaga dari ambisi duniawi yang menipu dan malam yang hidup dengan ketaatan—menjadi napas kita sepanjang tahun.
Dalam Ramadhan, kita belajar bahwa lapar adalah alat penjinak ego. Saat fisik melemah karena haus dan dahaga, suara kesombongan mengecil. Manusia menjadi lebih sibuk menenangkan dirinya sendiri daripada menghakimi orang lain.
Inilah "Madrasah" yang sesungguhnya: sebuah ruang di mana kita menyadari bahwa waktu di dunia ini terlalu singkat untuk diisi dengan hal yang sia-sia, apalagi maksiat.
Ketika kita mampu keluar dari ikatan dunia yang menghururkan sepanjang 30 hari ini, maka kita juga bisa membebaskan sisa hari, Minggu, bulan, dan tahun kita dalam ketaatan dan ketaqwaan. Hidup adalah Ramadhan yang panjang, dan akhirat adalah Idulfitri yang sesungguhnya.
Tulisan opini menjadi tanggung jawab penulis.
