Jangan Marah!

Share:

Kemarahan itu bukan kekuatan, melainkan kelemahan yang akan membawa kita kepada kekalahan. Karena itu, untaian Muhammad Agus Syafii, penulis buku-buku motifasi ini patut kita renungkan bersama: “Mulut adalah suara hati, hati yang baik akan menyerukan kata-kata yang baik, menyejukkan dan menyenangkan.” 


 Arif Ramdan

MARAH jika dieja terbalik menjadi “haram”, beberapa literatur mengajak kita jangan marah. Syeikh  Sayyid Nada menyebut marah sebagai api setan yang dapat mengakibatkan terbakarnya urat saraf. Pemarah juga rentan kena stroke.

Saat orang marah, suruhlah dia duduk. Karena marah itu memposisikan seseorang lebih tinggi dari orang lain. Rasul menganjurkan untuk ambil posisi rendah ketika sedang marah. Duduk atau berbaringlah.

Marah itu api setan, berwudhu cara terbaik memadamkan api setan. Tak juga sembuh, meski sudah duduk berbaring dan wudhu? Maka bercerminlah. Tak juga reda, maka telanjanglah!

Anak-anak pendidikan usia dini atau taman kanak-kanak diajari agar tidak marah-marah, laa taghdab wa laka al jannah (Jangan marah, bagimu surga). Begitu mereka berteriak lantang saat mengucapkan kalimat itu.

Abu Hurairah radhiyallahu anhu berkata, bahwa seorang laki-laki berkata kepada Rasulallah Shalallahu alaihi wa sallam: “Berilah wasiat kepadaku”. Rasul berkata: “Janganlah engkau marah.” Maka diulanginya permintaan itu beberapa kali. Rasul bersabda: “Janganlah engkau marah.” [HR. Al Bukhari]

Di zaman serba internet, sosial media telah menjadi tempat menuangkan kemarahan para netizen. Terkadang kita membaca kemarahan kolektif di sosial media yang sangat vulgar. 

Bahkan, kita tidak pernah menyangka ada orang dalam kesehariannya lemah lembut, tapi bisa marah sejadi-jadinya di sosial media. Ada banyak orang yang menghabiskan waktu menghujat orang di facebook, twitter dan grup whatsApp. 

Marah memang wajar jika kita berada pada puncak kejengkelan. Kita boleh marah kepada perilaku kemaksiatan yang merajalela di sekitar kita. Untuk kasus ini, marah wajib meski tidak serta harus melukai pelaku kemaksiatan tersebut.

Anda pernah berurusan dan akan terus berhadapan dengan tipe manusia pemarah? Dalam dunia kerja kita kerap dihadapkan orang-orang yang diutus kepada kita untuk menguji kesabaran. Ya, dialah pemarah, manusia seperti ini akan ada di setiap lingkungan tempat kita di mana kita berada. Jarang atau hampir tidak ada suatu komunitas tanpa tipe manusia pemarah.

Untuk kasus seperti ini, anda bisa diam menghadapi kemarahannnya. Tak merespons, adalah juru terbaik menghadapi si pemarah. 

Ingat ya, bukan kita takut tetapi api jangan disiram api. Api  harus disiram air. Diam adalah air untuk meredakan kemarahan seseorang, saat ia sudah merasa tenang anda bisa mulai berbicara dengan baik. Coba praktikan dan lihat apa yang terjadi!

Rasulallah Shalallahu alaihi wa sallam bersabda: “Ajarilah, permudahlah, dan jangan menyusahkan. Apabila salah seorang dari kalian marah, hendaklah ia diam.” [HR. Ahmad].

Marah memang bisa meningalkan jejak penyesalan, kita akan menyesal setelah marah. Sesuatu yang diawali kemarahan biasa berujung malu. Nah, agar ini tidak terjadi maka minimalisirkanlah kemarahan itu agar  tidak memuncak.

Kemarahan itu bukan kekuatan, melainkan kelemahan yang akan membawa kita kepada kekalahan. Karena itu, untaian Muhammad Agus Syafii, penulis buku-buku motifasi ini patut kita renungkan bersama: “Mulut adalah suara hati, hati yang baik akan menyerukan kata-kata yang baik, menyejukkan dan menyenangkan.” [Arif Ramdan]



No comments