Ber-Positif Thinking-lah Kepada Allah.

Share:

SIAPA pun manusia di dunia senantiasa menginginkan hidupnya bahagia, tenang, aman dan damai. Namun kerap hidup ini tidak seperti yang kita pikirkan dan harapkan.

Keinginan hidup bahagia, tenang, aman dan damai bersama keluarga tercinta kadangkala diobrak-abrik oleh musibah yang menimpa secara tiba-tiba.

Pilu, pahit dan getir yang bergelayut dalam otak dan hati sanubari manusia saat ditimpa musibah tentunya sangat manusiawi dalam ukuran manusia umumnya, sebut saja cerita keluarga korban tsunami pada tahun 2004 silam, dimana  sampai kini bila diingatkan tentang peristiwa itu maka air mata mereka akan mengalir tak terbendung.

Katakanlah cerita seorang ibu yang tidak dapat menyelamatkan anaknya dalam gendongan saat hanya beberapa meter menuju tempat aman, ia selalu dihantui rasa bersalah.

Demikian pula seorang bapak yang meninggalkan anak dan istrinya di rumah saat pagi hari menjelang gempa dan tsunami melanda, ia sangat merasa terpukul, dalam benaknya muncul seribu sesal mengapa ia tidak membawa keluarganya ikut serta saat hendak pergi.

Malahan kala itu anak tertuanya menangis kencang saat si bapak meninggalkan rumah, demikian pula istrinya sangat berkeinginan ikut jalan-jalan melihat kebun mereka yang ada di daerah Lamteuba.

Tentunya kepedihan serta duka cita mendalam semacam itu juga dirasakan oleh setiap orang yang tertimpa musibah lainnya seperti peristiwa Gempa dan Tsunami Palu, Donggala, Lombok, Banten, dan lain-lain.

Begitulah musibah selalu menyisakan penyesalan dan kepedihan yang amat dalam bagi korban hidup dan keluarga yang ditinggalkan oleh yang mereka cintai.

Namun, apakah setelah mendapat musibah seperti itu kita terus larut dalam kesedihan dan terpuruk tak bangkit lagi? tentunya Islam tidak menginginkan seperti itu. Islam mengajarkan pada umatnya untuk tetap tegar dan tabah tanpa pernah berburuk sangka kepada Allah.

Kekuatan inilah yang dimiliki oleh orang Aceh yang kemudian dapat membantah prediksi banyak orang tentang kemungkinan berjubelnya orang stres/sakit jiwa pasca tsunami di Aceh.

Rasulullah bersabda: "Wahai sekalian manusia, siapa saja dari manusia atau dari orang mukmin yang ditimpa sesuatu musibah maka hendaklah dia berbangga dengan (ketabahannya menghadapi) musibah itu. Sesungguhnya tiada seorangpun dari umat sepeninggalku yang akan ditimpa musibah lebih berat dari musibah yang menimpaku."

Barangkali pesan yang ingin disampaikan oleh Rasulullah adalah bahwa musibah itu bukan untuk ditangisi dan membuat kita jadi tak berdaya akan tetapi harus dihadapi dengan segenap kebesaran hati dan jiwa, sebab musibah yang telah menimpa sekalipun kita sesali dengan berjuta penyesalan toh ia telah terjadi, karena itu sikap berkuat diri sembari mencari solusi terhadap musibah yang menimpa.

Dalam hadist yang lain Rasul bersabda: “Alangkah mengagumkan keadaan orang yang beriman, karena semua keadaannya (membawa) kebaikan (untuk dirinya), dan ini hanya ada pada seorang mukmin; jika dia mendapatkan kesenangan dia akan bersyukur, maka itu adalah kebaikan baginya, dan jika dia ditimpa kesusahan dia akan bersabar, maka itu adalah kebaikan baginya."

Karena itu,  seorang muslim sejati terus berusaha untuk tidak terkena musibah, namun bila ternyata musibah menimpa kita diajarkan untuk tetap tegar, kuat dan selalu berpositif thinking kepada Allah, karena ada banyak hal yang tidak kita pahami dari musibah yang melanda. [T Lembong Misbah]

No comments