Anda Puasa, Kenapa Masih Berdusta?

Share:

BANYAK orang yang puasa tapi masih melakukan dusta. Di mata mereka, dusta untuk membuat orang lain tertawa (melucu) seolah hal yang lumrah dilakukan, demi membuat orang lain senang dan ‘terhibur’. 

Tapi, tahukah kita bahwa dusta itu adalah hal yang dilarang keras oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala? Apalagi jika dusta itu dilakukan saat seseorang sedang menjalankan puasa Ramadhan, sudah pasti tidak boleh.

Dusta pun tidak pernah membawa kebaikan, yang ada hanyalah keburukan. Perintah meninggalkan dusta saat berpuasa telah disebutkan dalam hadits berikut ini,


“Siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta malah mengamalkannya, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan.” (HR. Bukhari no. 1903)

Zuur yang dimaksud dalam hadits di atas adalah dusta. Berdusta dianggap jelek setiap waktu. Namun semakin teranggap jelek jika dilakukan di bulan Ramadhan. Hadits di atas menunjukkan tercelanya dusta. Seorang muslim tentu saja harus menjauhi hal itu.

Dusta merupakan tanda kemunafikan. Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Ada tiga tanda munafik: jika berkata, ia dusta; jika berjanji, ia mengingkari; dan jika diberi amanat, ia khianat.” (HR. Bukhari no. 33).

Al Hasan Al Bashri berkata,

“Dusta dapat mengumpulkan sifat kemunafikan.” (Romadhon Durus, hal. 39).

Dusta juga merupakan cabang kekafiran. Dusta menunjukkan rendahnya diri seseorang dan jauh dari sifat terpuji. Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Hendaklah kalian senantiasa berlaku jujur, karena sesungguhnya kejujuran akan megantarkan pada kebaikan dan sesungguhnya kebaikan akan mengantarkan pada surga. Jika seseorang senantiasa berlaku jujur dan berusaha untuk jujur, maka dia akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Hati-hatilah kalian dari berbuat dusta, karena sesungguhnya dusta akan mengantarkan kepada kejahatan dan kejahatan akan mengantarkan pada neraka. Jika seseorang sukanya berdusta dan berupaya untuk berdusta, maka ia akan dicatat di sisi Allah sebagai pendusta.” (HR. Muslim no. 2607).

Dari Al Hasan bin Ali, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Tinggalkanlah yang meragukanmu pada apa yang tidak meragukanmu. Sesungguhnya kejujuran lebih menenangkan jiwa, sedangkan dusta (menipu) akan menggelisahkan jiwa.” (HR. Tirmidzi no. 2518 dan Ahmad 1: 200, hasan shahih). 

Jujur adalah suatu kebaikan sedangkan dusta (menipu) adalah suatu kejelekan. Yang namanya kebaikan pasti selalu mendatangkan ketenangan, sebaliknya kejelekan selalu membawa kegelisahan dalam jiwa.

Di antara faktor yang mendorong seseorang biasa berdusta, bisa jadi karena tidak takut akan siksa atau hukuman dari Allah, bisa juga karena ingin mendapatkan kebaikan yang cepat diperoleh di dunia. 

Dusta juga bisa terjadi pula karena jauh dari Allah dan tidak khawatir akan siksa-Nya. Dusta bisa muncul pula karena kebiasaan dan didikannya yang jelek.

Karena itu, isi Ramadhan kita dengan banyak mengingat Allah (istighfar), muhasabah, dan merencanakan kebaikan di masa-masa yang akan datang. 

Jadikan Al Quran dan As Sunnah sebagai pedoman kita. Takutlah kepada Allah saat kita hendak membuat sebuah kedusataan. Sebab banyak di antara manusia yang merasa tidak berdosa lagi manakala mereka melakukan dusta, wallahua’lam [Bahron Ansori | Mirajnews.com]