Shalat, Syarat Sah Diterima Semua Amal

Share:
Foto : Google.com
    
Mungkin beberapa dari kita pernah beranggapan, bahwa kewajiban shalat bisa ditutup dengan berbagai amal lainnya. Anda sering sedekah? Sering menolong orang lain? Selalu membayar zakat? Puasa dibulan ramadhan bahkan puasa sunad lainnya? Itu semua tiada artinya tanpa Shalat. 


Sabda Nabi SAW: “Bahwasannya permulaan amalan seseorang yang diperhatikan (pada hari kiamat) ialah shalat. Maka jika urusan shalatnya baik, dilihatlah amalan-amalan yang lain. Jika urusan shalatnya tidak baik, tidaklah dilihat lagi amalan-amalan yang lain.” (HR. Al-Iraq dari Abu Hurairah dan Abu Said, Syarah Al Ihya’2:11)

Kata Al Imam Ahmad dalam Risalah Ash Shalah: “Wahai anakku Abdullah! Nabi SAW, menegaskan dalam suatu hadits bahwa tidak ada peruntungan apa-apa dalam islam untuk orang yang meninggalkan shalat.”

Seberapa besar pengakuan imanmu kepada Allah dengan berbagai amal yang kau lakukan, tidak akan di anggap jika tidak mengerjakan Shalat. 

Ahli ilmu yang mengartikan iman dengan tashdiq qalbi (membenarkan dengan hati), menafsirkan islam dengan amal (mengerjakan segala perintah dengan anggota), beranggapan bahwa iman (membenarkan dengan hati) an islam (amal) masing-masingnya berdiri sendiri. 

Sebenarnya iman itu tashdiq idz’any yakni: menundukkan diri kebawah perintah dengan mengerjakan segala yang dituntut oleh kepercayaan hati, mengerjakan suruhan dan menjauhkan larangan, bukan semata-mata hanya membenarkan saja.

Tunduk kebawah perintah, mengharuskan kita beramal selama tidak ada halangan yang mengganggu. Iman dan islam bertautan. Tiada diterima salah satu tanpa amal yang lain, selama tidak ada halangan untuk terlaksananya amalan itu.

Maka seseorang yang meninggalkan fardhu, atau mengerjakan dosa besar serta tetap mengerjakannya tanpa memperdulikan perintah, tiadalah sikapnya itu sesuai dengan iman yang shahih, tiada sesuai dengan akuan sejati yang mengharuskan dia menundukkan diri ke bawah perintah.

Jelasnya apabila seseorang mengaku beriman tetapi tak pernah shalat, maka pengakuannya tidak diterima syara’.(Farwida Nazar/Eva)

Sumber: Ash Shiddieqy,   Teungku Muhammad Hasbi. Pedoman Shalat Edisi Lengkap. Semarang: PT. Pustaka Rizki Putra