Bukan HOAX: Inilah Tapak Raksasa dari Kota Naga

Share:

TERIK matahari siang itu menyinari kawasan tapak raksasa, yang merupakan sebuah  objek wisata didaerah aceh selatan yang berdiri angkuh disana, Namun tak pula menyurutkan semangat kami untuk terus mengayuhkan kaki untuk bisa mendaki ke gunung Lampu itu.

Gunung lampu merupakan lokasi  keberadaan sebuah tapak kaki raksasa yang sangat fenomenal di telinga masyarakat, Bahkan tersohor hingga ke mancanegara, jejak telapak kaki ini menjadi daya tarik Kabupaten Aceh Selatan atau sering disebut dengan kota Naga, telapak kaki raksasa ini memiliki lebar 2,5 meter dan pajangnya sekitaran 6 meter.

Tapaktuan merupakan ibu kota Aceh Selatan. Kota ini terletak sekitar 500 kilometer dari ibu kota Aceh, Banda Aceh. Tapak Tuan berasal dari dua suku kata tapak dan tuan. Penamaan itu tidak terlepas dari legenda Tuan Tapa dan keberadaan tapak kaki raksasa di sana. Legenda ini menjadi cerita rakyat turun-temurun dan dipercayai hingga saat ini.

Disana juga terdapat batuan karang yang besar berdiri kokoh , air laut yang berwarna biru kehijauan. Ombaknya juga cukup bersahabat untuk melegakan mata. 

Untuk berkunjung ke sana memang tidak mudah. Pengunjung harus melewati batu karang beragam ukuran. Namun, medan yang harus di lalui sudah diberi petunjuk,para pengunjung siap dikejutkan dengan tapak berukuran raksasa.

Sementara untuk tiket masuk cukup merogoh kocek Rp 2.000 rupiah per orang. Anak-anak tetap harus perlu pengawasan dari orang tua. Sedangkan tarif parkir dikenakan Rp 2.000 untuk kendaraan roda dua dan Rp 5.000 untuk roda empat.

Disini juga terdapat mushalla untuk shalat, juga café-café digunakan untuk bersantai dengan keluarga, juga jajanan souvenir khas tapak raksasa yang bisa dibawa pulang.

Tapak raksasa tersebut tidak terlepas dari sebuah kisah Rakyat yaitu  “legenda Tuan tapa dan dua ekor naga” yang mengisahkan kehidupan  seorang petapa yang memiliki badan raksasa yang sedang bersemedi  di sebuah gunung.

Dalam buku sejarang legenda Tapak Tuan dikatakan, “ Suatu hari, datang sepasang naga yang menemukan bayi terapung di tengah permukaan laut, sepasang naga menyelamatkan anak tersebut dan mengasuh seperti anaknya sendiri hingga tumbuh dewasa, beberapa tahun kemudian, terdengar di telinga raja dan permaisuri Asralanoka bahwa anaknya masih hidup dan berada di tengah-tengah keluarga sepasang Naga, sang raja pun memohon kepada sang naga untuk mengembalikan buah hatinya yang telah lama hilang. Akan tetapi permintaan nya di tolak mentah-mentah oleh sang naga. Tanpa pikir panjang, sang raja pun membawa kabur sang putri naik ke atas kapal dan pergi menyusuri lautan. Kedua naga tadi marah dan mengejar mereka hingga terjadi pertempuran diatas lautan.”

Pertempuran tersebut mengusik ketenangan tuan tapa yang  bersemedi di sebuah gunung, ia keluar dari gunung dan melangkahkan kakinya dikarang untuk melontarkan tubuhnya ke tempat pertempuran, dan jejak kaki itu pun membekas di karang yang sekarang di sebut dengan gunung lampu. Tuan Tapa berniat untuk menolong anak gadis tersebut agar tidak menjadi korban dalam perkelahian tersebut, akan tetapi kedua ekor naga marah besar terhadap Tuan Tapa, sehingga terjadi perperangan antara keduanya.

Singkat cerita, pertarungan dimenangi Tuan Tapa dan kedua naga tewas. Adapun raja dan permaisuri kembali memiliki anaknya. Mereka bersama pengikutnya menetap di Aceh Selatan. Mereka tidak bisa kembali ke Kerajaan Asralanoka karena kapalnya rusak ketika pertempuran.

Cerita legenda itu diyakini masyarakat setempat hingga sekarang, dikarenakan Ada sejumlah bukti yang dapat diyakini, Salah Satunya seperti  tapak kaki raksasa Tuan Tapa di Gunung Lampu. Selain itu juga ada  karang yang menyerupai topi dan kopiah Tuan Tapa yang terlepas ketika pertarungan, Topi dan Kopiah itu  terletak 50 meter dari tapak kaki raksasa.

Ada karang berbentuk hati di Desa Batu Itam dan sisik naga di Desa Batu Merah yang letaknya sekitar 5 kilometer dari jejak kaki raksasa tersebut. Konon itu bekas potongan tubuh naga jantan yang kalah bertarung.

Selain itu, ada pula karang berbentuk layar kapal di Pantai Batu Berlayar, Desa Damar Tutong, Kecamatan Samadua, Aceh Selatan, yang terletak 20 kilometer dari tapak kaki raksasa. Konon itu sisa kapal raja dan permaisuri Kerajaan Asralanoka yang hancur ketika pertempuran Dengan adanya wisata ini juga menjadikan ekonomi masyarakat setempat terbantu. Banyak masyarakat yang berjualan di kaki gunung lampu, ada juga yang menjajakan kue khas kota Naga yaitu, kue buah pala.

sekarang untuk melepaskan Rasa penasaran tentang tapak raksasa tersebut, banyak pengunjung yang datang untuk mengabadikan momen  dengan pemandangan yang luar biasa ini, dan tidak kita dapati di daerah lain. [T.Emy Kurniawan]/Rzk