Ini Alasan Mengapa Orang Dahulu Tak Mudah Terjangkit Kanker

Share:
Foto Ilustrasi

JIKA ditanya siapa yang ingin sakit? sudah pasti tidak ada yang menginginkannya, apalagi harus berurusan dengan kanker. Penyakit mematikan ke dua dunia setelah penyakit jantung ini, kian berkembang dan seolah menjadi momok menakutkan bagi setiap orang, baik wanita maupun pria.

Menurut penelitian, penderita kanker berkembang sejak tahun 2000 dan lonjakan terjadi sangat drastis pada beberapa tahun terakhir. Bahkan, Menurut David Forman, kepala International Agency for Research on Cancer (IARC), dari tahun 2008 hingga 2012 penderita kanker meningkat dari 1.4 juta menjadi 12,4 juta. Zeenews (16/12/2013)

Bahkan World Health Organization (WHO) menyebutkan Indonesia sebagai  negara dengan jumlah penderita kanker serviks terbanyak di dunia. Setiap tahunnya tidak kurang dari 15.000 penderita mengeluhkan kasus yang sama. sementara kanker payudara menempati posisi kedua. Pada tahun 2030, WHO memperkirakan  penderita kanker di Indonesia akan naik tujuh kali lipat. 

Lalu mengapa, dahulu penderita kanker sangat minim? padahal penuh dengan keterbatasan, contohnya saja dalam pemenuhan gizi, orang-orang dahulu harus bercocok tanam jika ingin makan sayur, menernak ayam untuk diambil telurnya bahkan harus memancing jika ingin makan ikan. Informasi tentang kesehatan pun hanya di peroleh secara turun temurun.

Mengkonsumsi singkong

Pada zaman nenek dan kakek kita, Singkong atau ubi kayu merupakan makanan yang sangat digemari. Selain sebagai makanan pokok, singkong juga dijadikan cemilan biasanya dengan cara direbus. Namun  Siapa sangka, makanan sederhana ini ternyata memiliki manfaat besar. 

Peneliti medis dari Srilangka, Dr Cynthia Jayasuriyap, menyebutkan Kandungan vitamin dalam singkong rebus setara dengan biji Aprikot yang mengandung vitamin B17. Vitamin ini sering disebut sebgai pengobatan kanker di Australia dan Amerika, kandungan B17 pada singkong terdapat enzyme mengandung asam hidrosianik yang dapat membunuh sel kanker secara lokal.

Berbeda dengan kita sekarang, singkong sering tidak dimasukkan dalam daftar menu makan, jika dikonsumsi pasti yang sudah menjadi panganan tertentu dan melalui proses pencampuran terigu dan sebagainya. Sehingga kandungan baik dalam singkong sudah berkurang.

Terlebih lagi kita sering mengkonsumsi makanan cepat saji mengandung lemak tinggi dan penyedap rasa serta zat-zat kimia tertentu yang jika ditumpuk akan berdampak tidak baik bagi tubuh.  Ini adalah sebab kenapa usia penderita kanker semakin muda di banding pada awalnya banyak di derita oleh mereka yang berusia 40-an keatas.

Ketika nasi menjadi racun

Belum makan namanya, jika belum makan nasi.” Hal tersebut sering diungkapkan oleh orang Indonesia yang hampir keseluruhan menjadikan nasi sebagai bahan pokok pangan.

Orang dahulu, yang tinggal di pedesaan mengkonsumsi nasi dari hasil panen sendiri. Beras yang dihasilkan  berwarna buram dan cenderung kecoklatan. Bisa kita bandingkan dengan beras-beras pada umumnya yang diperjual belikan sekarang. Berwarna putih bersih dan wangi. Belum lagi dalam proses penanaman sekarang menggunakan pestisida sebagai pupuknya.

 Berdasarkan penelitian Queens University orang-orang yang banyak mengkonsumsi nasi beresiko tinggi terkena bahaya zat arsenik. Zat tersebut mengandung pestisida yang digunakan untuk membasmi hama, akan memicu kanker jika dikonsumsi secara terus menerus ditambah lagi secara keseluruhan manusia modern menggunakan rice cooker untuk memasak nasi, lapisan anti lengket perfluorooctanoic acid (PFDA) yang terdapat di rice cooker jika dipanaskan akan melepaskan zat-zat berbahaya pemicu kanker.

Sering melakukan aktivitas fisik

Bila dilihat dari segi aktifitas, orang-orang dahulu banyak melakukan kegiatan sehari-sehari diluar rumah dengan mengandalkan fisik. Misalnya banyak yang bercocok tanam, menghabiskan waktu disawah, dan perkebunan. Mulai dari mencangkul dan memanen yang memungkinkan semua bagian tubuh bergerak. Hal ini memang menguras tenaga dan keringat, namun secara tidak langsung aktivitas fisik ini merupakan bagian dari olahraga. 

Berbeda dengan kita sekarang, yang cenderung banyak menghabiskan waktu bekerja di depan computer, televisi dan handphone.Penelitian Alberta Health Service Cancer Care di Kanada, menyebutkan bahwa pola hidup yang kurang aktif dapat memicuperkembangan kanker usus dan kanker payudara. Diperkirakan, sekitar 92.000 kasus kanker disebabkan oleh kurangnya aktivitas tubuh. Ini dikarenakan kalori dan lemak menumpuk lebih cepat sehingga menyebabkan melemahnya otot dan kekebalan tubuh./Dhi

Rahmah Atikah adalah Mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam, UIN Ar-Raniry Banda Aceh.