Salah satu narasumber memaparkan materi dalam diskusi
sejarah “Daeng Mansur: Aceh-Bugis” di UIN Ar-Raniry, Selasa (27/10/2026).
BANDA ACEH — Program Studi Sejarah dan Kebudayaan Islam (SKI),
Fakultas Adab dan Humaniora UIN Ar-Raniry Banda Aceh, menggelar diskusi sejarah
bertajuk “Daeng Mansur: Aceh-Bugis” pada Selasa (27/10/2026). Kegiatan ini
membahas hubungan historis antara Kesultanan Aceh Darussalam dan Kerajaan Wajo,
Sulawesi Selatan.
Diskusi yang mengusung tema “Menelusuri Jejak Daeng Mansur: Kesultanan
Aceh Darussalam dan Kerajaan Wajo” tersebut menghadirkan akademisi dan
pemerhati sejarah untuk menggali kembali jejak hubungan Aceh dan Bugis yang
belum banyak dibahas dalam kajian publik.
Wakil Rektor III UIN Ar-Raniry, Reza Idria, MA, PhD, yang mewakili
rektor, mengatakan kajian mengenai Daeng Mansur menjadi kesempatan untuk
memperluas perspektif sejarah, khususnya dalam memahami keterhubungan
masyarakat Nusantara pada masa lalu.
Menurut Reza, sejarah maritim menunjukkan bahwa laut tidak hanya menjadi
pemisah antardaerah, tetapi juga berperan sebagai jalur interaksi, pertukaran
pengetahuan, dan penghubung masyarakat lintas wilayah.
Wakil Rektor III UIN Ar-Raniry, Reza Idria, MA, PhD,
menyampaikan sambutan pada kegiatan diskusi sejarah tersebut.
“Padahal pada satu zaman tertentu itu dulu orang melihat laut itu adalah
jalan,” kata Reza.
Ia juga menyoroti keterkaitan tokoh-tokoh asal Bugis dengan proses
perdamaian Aceh. Reza menyebut Jusuf Kalla, Hamid Awaluddin, dan Farid Husain
sebagai sejumlah tokoh yang berperan dalam memfasilitasi proses perdamaian
Aceh. Menurutnya, hal tersebut menunjukkan pentingnya jejaring antardaerah
dalam membangun komunikasi dan membuka ruang dialog.
Reza menambahkan, kajian mengenai Daeng Mansur perlu dikembangkan untuk
memperdalam pemahaman tentang hubungan historis Aceh dan Bugis serta kaitannya
dengan perkembangan peradaban Islam di Nusantara.
Ia turut mencontohkan kajian mengenai Syekh Yusuf Al-Makassari dan Syekh
Abdurrauf As-Singkili yang membuka ruang penelitian tentang hubungan
intelektual kedua ulama, termasuk keterkaitan karya-karya mereka. Penelitian
semacam ini dinilai dapat memperkaya khazanah keilmuan dan bibliografi sejarah
Islam Nusantara.
Panitia dan narasumber berfoto bersama di depan
spanduk Diskusi Sejarah “Daeng Mansur: Aceh-Bugis”.
Menurut Ruhamah, kegiatan tersebut diikuti sekitar 200 peserta secara
langsung dan peserta daring, sehingga jumlah keseluruhan diperkirakan mencapai
250 orang.
Ia berharap diskusi tersebut menjadi langkah awal bagi penelitian sejarah
yang lebih mendalam, dokumentasi sumber-sumber sejarah, serta publikasi ilmiah
mengenai hubungan Aceh dan Bugis.
Diskusi ini menghadirkan sejumlah narasumber, yakni filolog Aceh Nurdin
AR, M.Hum., Direktur Pedir Museum Masykur Syarifuddin, S.Hum., M.Hum., Sudirman
Sabang dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan,
serta Amrullah Amir, PhD, dari Universitas Hasanuddin.
Kegiatan ini diharapkan dapat memperluas kajian sejarah hubungan
antardaerah di Nusantara sekaligus mendorong generasi muda untuk memahami
pentingnya pertukaran ilmu, perjalanan, dan interaksi budaya dalam membentuk
sejarah bangsa.
Foto bersama panitia, narasumber, dan peserta seusai diskusi sejarah “Daeng Mansur: Aceh-Bugis”.



