Iklan

Iklan

UIN Ar-Raniry Telusuri Pertalian Aceh-Bugis melalui Sejarah Daeng Mansur

11/01/26, 23:50 WIB Last Updated 2026-11-01T16:50:40Z

 

Salah satu narasumber memaparkan materi dalam diskusi sejarah “Daeng Mansur: Aceh-Bugis” di UIN Ar-Raniry, Selasa (27/10/2026).


BANDA ACEH — Program Studi Sejarah dan Kebudayaan Islam (SKI), Fakultas Adab dan Humaniora UIN Ar-Raniry Banda Aceh, menggelar diskusi sejarah bertajuk “Daeng Mansur: Aceh-Bugis” pada Selasa (27/10/2026). Kegiatan ini membahas hubungan historis antara Kesultanan Aceh Darussalam dan Kerajaan Wajo, Sulawesi Selatan.


Diskusi yang mengusung tema “Menelusuri Jejak Daeng Mansur: Kesultanan Aceh Darussalam dan Kerajaan Wajo” tersebut menghadirkan akademisi dan pemerhati sejarah untuk menggali kembali jejak hubungan Aceh dan Bugis yang belum banyak dibahas dalam kajian publik.


Wakil Rektor III UIN Ar-Raniry, Reza Idria, MA, PhD, yang mewakili rektor, mengatakan kajian mengenai Daeng Mansur menjadi kesempatan untuk memperluas perspektif sejarah, khususnya dalam memahami keterhubungan masyarakat Nusantara pada masa lalu.


Menurut Reza, sejarah maritim menunjukkan bahwa laut tidak hanya menjadi pemisah antardaerah, tetapi juga berperan sebagai jalur interaksi, pertukaran pengetahuan, dan penghubung masyarakat lintas wilayah.


Wakil Rektor III UIN Ar-Raniry, Reza Idria, MA, PhD, menyampaikan sambutan pada kegiatan diskusi sejarah tersebut.


“Padahal pada satu zaman tertentu itu dulu orang melihat laut itu adalah jalan,” kata Reza.

Ia juga menyoroti keterkaitan tokoh-tokoh asal Bugis dengan proses perdamaian Aceh. Reza menyebut Jusuf Kalla, Hamid Awaluddin, dan Farid Husain sebagai sejumlah tokoh yang berperan dalam memfasilitasi proses perdamaian Aceh. Menurutnya, hal tersebut menunjukkan pentingnya jejaring antardaerah dalam membangun komunikasi dan membuka ruang dialog.


Reza menambahkan, kajian mengenai Daeng Mansur perlu dikembangkan untuk memperdalam pemahaman tentang hubungan historis Aceh dan Bugis serta kaitannya dengan perkembangan peradaban Islam di Nusantara.


Ia turut mencontohkan kajian mengenai Syekh Yusuf Al-Makassari dan Syekh Abdurrauf As-Singkili yang membuka ruang penelitian tentang hubungan intelektual kedua ulama, termasuk keterkaitan karya-karya mereka. Penelitian semacam ini dinilai dapat memperkaya khazanah keilmuan dan bibliografi sejarah Islam Nusantara.


Sementara itu, Ketua Prodi SKI sekaligus ketua panitia, Ruhamah, M.Ag., mengatakan kegiatan tersebut merupakan hasil kolaborasi akademik dan kebudayaan antara Prodi SKI UIN Ar-Raniry dan PUSAKA SENA (Pusat Kajian Sejarah, Budaya, dan Peradaban Kesultanan Nusantara).


Panitia dan narasumber berfoto bersama di depan spanduk Diskusi Sejarah “Daeng Mansur: Aceh-Bugis”.


Menurut Ruhamah, kegiatan tersebut diikuti sekitar 200 peserta secara langsung dan peserta daring, sehingga jumlah keseluruhan diperkirakan mencapai 250 orang.


Ia berharap diskusi tersebut menjadi langkah awal bagi penelitian sejarah yang lebih mendalam, dokumentasi sumber-sumber sejarah, serta publikasi ilmiah mengenai hubungan Aceh dan Bugis.


Diskusi ini menghadirkan sejumlah narasumber, yakni filolog Aceh Nurdin AR, M.Hum., Direktur Pedir Museum Masykur Syarifuddin, S.Hum., M.Hum., Sudirman Sabang dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan, serta Amrullah Amir, PhD, dari Universitas Hasanuddin.


Kegiatan ini diharapkan dapat memperluas kajian sejarah hubungan antardaerah di Nusantara sekaligus mendorong generasi muda untuk memahami pentingnya pertukaran ilmu, perjalanan, dan interaksi budaya dalam membentuk sejarah bangsa.


Foto bersama panitia, narasumber, dan peserta seusai diskusi sejarah “Daeng Mansur: Aceh-Bugis”.


 [Habib Al Rasyid]
Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • UIN Ar-Raniry Telusuri Pertalian Aceh-Bugis melalui Sejarah Daeng Mansur

Terkini

Topik Populer

Iklan