MAHASISWA tidak hanya memiliki tanggung jawab untuk belajar dan meraih gelar sarjana. Di tengah berbagai persoalan bangsa, mereka juga memiliki ruang untuk menyampaikan aspirasi, mengkritisi kebijakan, dan ikut memperjuangkan kepentingan masyarakat.**
Kehidupan mahasiswa biasanya identik dengan ruang kelas, tugas kuliah, diskusi kelompok, organisasi, hingga aktivitas di lingkungan kampus. Namun, peran mahasiswa sebenarnya tidak berhenti ketika perkuliahan selesai. Ada tanggung jawab sosial yang juga melekat pada diri mereka sebagai bagian dari masyarakat. Salah satu bentuk tanggung jawab tersebut adalah berani menyampaikan pendapat ketika melihat persoalan yang terjadi di lingkungan sekitar.
Hal ini kembali terlihat pada Rabu, 28 Oktober 2026. Bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda, mahasiswa bersama sejumlah kelompok masyarakat sipil menggelar demonstrasi di kawasan Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, dan sejumlah daerah lainnya. Aksi yang dikenal dengan gerakan #IndonesiaSadar tersebut menjadi salah satu bentuk penyampaian aspirasi mahasiswa terhadap berbagai persoalan yang dinilai membutuhkan perhatian pemerintah.
Dalam aksi tersebut, mahasiswa membawa sejumlah tuntutan, mulai dari penanganan kebakaran hutan dan kerusakan lingkungan, penggunaan anggaran negara, biaya pendidikan, penegakan hukum, hingga perlindungan hak asasi manusia dan kebebasan sipil. Peristiwa ini memperlihatkan bahwa persoalan yang diperjuangkan mahasiswa tidak hanya berkaitan dengan kehidupan di kampus, tetapi juga menyangkut kepentingan masyarakat secara luas.
Mahasiswa dan Tradisi Menyampaikan Aspirasi
Jika melihat perjalanan sejarah Indonesia, mahasiswa memiliki hubungan erat dengan berbagai perubahan sosial. Sejak pergerakan pemuda pada masa sebelum kemerdekaan, mahasiswa dan kaum terpelajar telah menjadi bagian dari kelompok yang mendorong lahirnya kesadaran kebangsaan. Semangat tersebut kemudian terlihat dalam berbagai peristiwa penting, termasuk gerakan reformasi 1998.
Sejarah tersebut menunjukkan bahwa mahasiswa bukan sekadar kelompok yang sedang menempuh pendidikan tinggi. Mereka juga memiliki kesempatan untuk mengambil bagian dalam kehidupan sosial dan kebangsaan. Kampus menjadi tempat untuk memperoleh ilmu pengetahuan, sedangkan lingkungan masyarakat menjadi ruang untuk menerapkan pengetahuan tersebut.
Namun, menyampaikan aspirasi bukan berarti mahasiswa harus selalu turun ke jalan. Ada banyak cara yang dapat dilakukan, seperti menulis opini, mengadakan diskusi publik, melakukan penelitian, menyampaikan kritik melalui organisasi mahasiswa, hingga membangun gerakan sosial yang memberikan manfaat langsung kepada masyarakat.
Demonstrasi merupakan salah satu bentuk penyampaian pendapat yang dijamin dalam kehidupan demokrasi, selama dilakukan sesuai ketentuan hukum dan menghormati hak orang lain. Karena itu, aksi mahasiswa seharusnya tidak hanya dilihat dari keramaian massa atau panjangnya orasi, tetapi juga dari gagasan, alasan, dan tuntutan yang disampaikan.
Mengapa Suara Mahasiswa Masih Dibutuhkan?
Di tengah perkembangan zaman, muncul pertanyaan apakah suara mahasiswa masih memiliki pengaruh dalam kehidupan masyarakat. Pertanyaan ini cukup penting, terutama ketika sebagian mahasiswa lebih banyak disibukkan oleh tugas kuliah, aktivitas media sosial, dan urusan pribadi.
Padahal, mahasiswa memiliki akses terhadap pendidikan, informasi, dan ruang diskusi yang dapat membantu mereka memahami berbagai persoalan. Pengetahuan yang diperoleh di bangku kuliah seharusnya tidak hanya digunakan untuk menyelesaikan ujian atau mendapatkan nilai, tetapi juga menjadi bekal untuk melihat persoalan secara kritis.
Misalnya, mahasiswa yang mempelajari ilmu ekonomi dapat ikut mengkaji persoalan anggaran dan kesejahteraan masyarakat. Mahasiswa bidang hukum dapat mempelajari persoalan keadilan dan penegakan hukum. Sementara itu, mahasiswa bidang komunikasi dapat membantu menyampaikan informasi yang benar dan mengedukasi masyarakat.
Dengan demikian, setiap mahasiswa sebenarnya memiliki kesempatan untuk berkontribusi sesuai dengan bidang keilmuan dan kemampuannya masing-masing.
Suara mahasiswa juga dibutuhkan sebagai bagian dari kontrol sosial. Artinya, mahasiswa dapat ikut mengawasi kebijakan publik, memberikan masukan, serta mengingatkan pihak yang memiliki kewenangan ketika terdapat persoalan yang perlu diperbaiki. Kritik yang disampaikan dengan alasan dan data dapat menjadi bagian dari upaya membangun kehidupan masyarakat yang lebih baik.
Kritik Harus Disertai Pengetahuan dan Tanggung Jawab
Meskipun memiliki ruang untuk menyampaikan aspirasi, mahasiswa juga perlu memahami bahwa kritik tidak boleh hanya didasarkan pada emosi atau mengikuti arus informasi yang sedang ramai di media sosial.
Sebelum menyampaikan pendapat, mahasiswa perlu mempelajari persoalan yang sedang dibahas, memeriksa kebenaran informasi, dan memahami dampak dari tuntutan yang disampaikan. Dengan begitu, kritik yang muncul bukan sekadar bentuk ketidakpuasan, melainkan memiliki dasar pemikiran yang jelas.
Selain itu, penyampaian aspirasi harus dilakukan secara bertanggung jawab. Perbedaan pendapat merupakan hal yang wajar dalam demokrasi, tetapi perbedaan tersebut tidak seharusnya menjadi alasan untuk melakukan tindakan kekerasan, merusak fasilitas umum, atau mengganggu hak masyarakat lainnya.
Mahasiswa juga perlu menyadari bahwa perubahan tidak selalu terjadi secara langsung setelah sebuah demonstrasi dilaksanakan. Ada proses panjang yang melibatkan dialog, pengawasan, pembahasan kebijakan, dan keterlibatan berbagai pihak. Oleh karena itu, setelah menyampaikan tuntutan, mahasiswa juga perlu mengawal perkembangannya.
Tidak Harus Turun ke Jalan untuk Memberikan Perubahan
Salah satu hal yang perlu dipahami adalah bahwa tidak semua mahasiswa harus menjadi demonstran untuk menunjukkan kepeduliannya terhadap bangsa. Ada mahasiswa yang berkontribusi melalui organisasi kampus, kegiatan sosial, penelitian, pendidikan masyarakat, maupun kegiatan sukarela.
Seorang mahasiswa dapat memulai perubahan dari lingkungan terdekatnya. Misalnya, membantu masyarakat memahami informasi yang benar, mengadakan kegiatan edukasi, memperhatikan persoalan lingkungan, atau memberikan pendampingan belajar kepada anak-anak di sekitarnya.
Hal-hal sederhana tersebut mungkin tidak selalu menjadi perhatian publik, tetapi tetap memiliki nilai bagi kehidupan masyarakat. Yang terpenting adalah adanya kesadaran bahwa ilmu pengetahuan dan pendidikan seharusnya memberikan manfaat, bukan hanya bagi diri sendiri.
Peristiwa demonstrasi pada 28 Oktober 2026 juga menjadi pengingat bahwa mahasiswa masih memiliki ruang untuk terlibat dalam persoalan bangsa. Namun, keterlibatan tersebut perlu diikuti dengan pemikiran yang matang, sikap kritis, dan tanggung jawab terhadap apa yang diperjuangkan.
Pada akhirnya, mahasiswa tidak hanya dinilai dari seberapa tinggi nilai akademiknya, seberapa banyak organisasi yang diikuti, atau seberapa cepat mereka menyelesaikan pendidikan. Ada hal lain yang tidak kalah penting, yaitu sejauh mana mereka memiliki kepedulian terhadap lingkungan dan masyarakat.
Kampus memang menjadi tempat untuk menuntut ilmu, tetapi kehidupan tidak hanya berlangsung di dalam ruang perkuliahan. Ada banyak persoalan di luar kampus yang membutuhkan perhatian, pemikiran, dan tindakan nyata dari generasi muda.
Karena itu, suara mahasiswa masih dibutuhkan. Bukan semata-mata untuk memenuhi jalanan dengan demonstrasi, melainkan untuk menghadirkan gagasan, menyampaikan kebenaran berdasarkan fakta, dan ikut mendorong perubahan yang lebih baik. Sebab, mahasiswa bukan hanya bagian dari masa depan bangsa, tetapi juga bagian dari masyarakat yang hidup dan menghadapi persoalan bangsa hari ini.
[Reza Pahlevi Adami]
