Aceh Besar – Kawasan Saree, Kecamatan Lembah Seulawah, Kabupaten Aceh Besar, yang selama ini dikenal sebagai salah satu pusat kuliner dan tempat persinggahan favorit bagi pengguna jalan Banda Aceh–Medan, kini mengalami penurunan aktivitas ekonomi. Berkurangnya jumlah kendaraan yang melintas setelah beroperasinya Jalan Tol Sigli–Banda Aceh membuat kawasan tersebut terlihat semakin sepi dibandingkan beberapa tahun lalu.
Berdasarkan pantauan di sepanjang kawasan Saree, sejumlah warung makan, kios oleh-oleh, hingga usaha kecil masyarakat tampak tidak seramai biasanya. Jika sebelumnya banyak kendaraan pribadi, bus antarkota, maupun truk yang berhenti untuk beristirahat dan berbelanja, kini jumlah pengunjung yang singgah mengalami penurunan cukup signifikan.
Salah seorang pedagang di kawasan Saree mengaku omzet usahanya menurun sejak jalan tol mulai beroperasi. Menurutnya, sebagian besar pengguna jalan kini memilih melintasi tol karena waktu tempuh yang lebih singkat dibandingkan jalur nasional yang melewati Saree.
“Dulu banyak kendaraan yang berhenti untuk makan, minum kopi, atau membeli oleh-oleh khas Saree. Sekarang jumlahnya jauh berkurang. Kondisi ini tentu sangat berpengaruh terhadap pendapatan kami,” ujarnya.
Tidak hanya pedagang makanan dan oleh-oleh, kondisi tersebut juga berdampak pada masyarakat yang menggantungkan penghasilan dari aktivitas ekonomi di sekitar kawasan Saree. Menurunnya jumlah pembeli menyebabkan perputaran ekonomi masyarakat lokal ikut melambat.
Beberapa warga menilai perubahan pola perjalanan masyarakat setelah hadirnya jalan tol menjadi salah satu faktor utama yang menyebabkan kawasan tersebut kehilangan sebagian besar pengunjungnya. Akibatnya, sejumlah pelaku usaha harus mencari berbagai cara untuk mempertahankan usahanya di tengah menurunnya jumlah pelanggan.
Masyarakat berharap pemerintah dapat menghadirkan program dan kebijakan yang mampu menghidupkan kembali perekonomian kawasan Saree. Berbagai usulan pun mulai disampaikan, mulai dari peningkatan promosi wisata, pengembangan sektor UMKM, hingga pembangunan akses dan fasilitas pendukung yang dapat menarik wisatawan maupun pengguna jalan untuk kembali singgah.
Saree sendiri memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata persinggahan. Kawasan ini dikenal dengan kuliner khasnya, udara yang sejuk, pemandangan alam pegunungan yang asri, serta hasil pertanian yang melimpah. Potensi tersebut dinilai dapat menjadi daya tarik utama apabila dikelola secara optimal melalui kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat setempat.
Dengan berbagai potensi yang dimiliki, warga berharap Saree tidak hanya dikenal sebagai jalur lintasan, tetapi juga sebagai destinasi wisata dan pusat ekonomi lokal yang mampu memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar. Dukungan pemerintah melalui kebijakan yang tepat diharapkan dapat mengembalikan keramaian kawasan tersebut sekaligus meningkatkan kesejahteraan warga Aceh Besar.
[Lathifatunnisa]
