Banda Aceh - Stigma bahwa berkonsultasi ke psikolog, psikiater, atau konsultan keluarga merupakan sebuah aib masih kuat di tengah masyarakat Aceh. Kondisi ini dinilai menjadi salah satu faktor yang membuat berbagai persoalan rumah tangga terus berlarut tanpa penyelesaian, bahkan berujung pada konflik serius hingga perceraian.
Fenomena tersebut terungkap dalam layanan konsultasi keluarga yang digelar melalui program Mobil Klinik FDPeduli usai Shubuh berjamaah bersama Komunitas BBC di Masjid Al-Hidayah, Gampong Prada, Banda Aceh, Ahad (28/6/2026).
Dalam layanan tersebut, tim konseling langsung menangani tiga kasus keluarga dengan persoalan berbeda namun memiliki pola yang sama. Dua kasus berkaitan dengan anak yang kecanduan gadget dan mulai merusak relasi keluarga, sementara satu kasus lainnya telah memasuki tahapan perceraian.
Pakar Hukum Islam dan Hukum Keluarga UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Dr. Agustin Hanafi, Lc., MA, yang melayani konsultasi keluarga menilai temuan tersebut menjadi gambaran bahwa ketahanan keluarga di Banda Aceh sedang menghadapi tantangan serius.
“Persoalan keluarga yang kami temukan menunjukkan kondisi yang perlu menjadi perhatian bersama. Banyak keluarga datang ketika masalah sudah berada pada tahap berat, padahal persoalan itu seharusnya bisa dicegah sejak awal jika ada keberanian mencari bantuan,” ujarnya.
Dr. Agustin yang juga Ketua Program Studi Hukum Keluarga Fakultas Syariah dan Hukum serta Pascasarjana UIN Ar-Raniry menyebutkan, persoalan yang masuk dalam layanan konsultasi semakin kompleks.
Beberapa di antaranya menyangkut konflik relasi suami-istri akibat perbedaan usia pernikahan yang cukup jauh, pasangan yang saling mendominasi, konflik menantu dan keluarga besar terkait persoalan harta, renggangnya hubungan anak dengan orang tua, hingga tekanan psikologis dalam rumah tangga akibat lemahnya daya tahan menghadapi konflik internal keluarga.
Sementara itu, Konsultan Keluarga Hayail Umroh, S.Psi., M.Si yang juga bersertifikat Duta Kesehatan Mental mengatakan perubahan gaya hidup digital juga mulai menjadi faktor baru yang memicu keretakan hubungan keluarga.
“Kecanduan gadget misalnya, sudah mulai merusak komunikasi di dalam rumah tangga, sementara ada pasangan yang datang ketika hubungan mereka sudah berada di ujung perceraian,” katanya.
Ia juga mengatakan persoalan yang lebih mendasar justru masih adanya pandangan di masyarakat bahwa mendatangi psikolog, psikiater, atau konsultan keluarga identik dengan keluarga bermasalah dan dianggap membuka aib rumah tangga.
Padahal, anggapan tersebut justru membuat banyak keluarga memilih memendam persoalan hingga konflik semakin membesar.
“Masih banyak masyarakat kita menganggap datang ke psikiater atau konselor keluarga itu tanda keluarga bermasalah atau sebuah aib. Padahal ketika masalah tidak ditangani sejak awal, konflik akan semakin besar dan berujung pada perceraian atau gangguan mental yang lebih serius,” jelasnya.
Hayail Umroh mengungkapkan stigma tersebut terlihat langsung dalam layanan Mobil Klinik. Pada beberapa kegiatan sebelumnya, layanan konsultasi keluarga kerap sepi pada awal kegiatan. Namun menjelang penutupan, justru muncul warga yang datang untuk berkonsultasi lebih lama karena merasa situasi lebih privat.
“Ini menunjukkan sebenarnya masyarakat membutuhkan layanan konsultasi, tetapi masih ada rasa malu atau takut persoalan keluarga diketahui orang lain,” ujarnya.
Data dari Mobil Klinik FDPeduli menunjukkan persoalan keluarga kini menjadi salah satu isu dominan yang dihadapi masyarakat. Sejak April hingga 28 Juni 2026, program layanan sosial berbasis masjid tersebut telah menangani 789 pasien, dengan konsultasi keluarga menjadi salah satu layanan yang disediakan untuk masyarakat.
Ketua FDPeduli, dr. Nurkhalis, mengatakan program Mobil Klinik FDPeduli akan terus diperluas melalui kolaborasi dengan berbagai elemen masyarakat di Aceh, termasuk komunitas jamaah masjid.
“Program ini terbuka untuk semua kalangan. Kami terus membuka ruang sinergi agar masyarakat memperoleh layanan kesehatan maksimal dan dapat menjalani aktivitas ibadah maupun kehidupan sehari-hari dengan lebih tenang,” ujarnya.
Untuk diketahui, kegiatan ini terlaksana atas kerjasama dengan sejumlah organisasi profesi kedokteran, di antaranya Ikatan Dokter Indonesia (IDI), PERKI (Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia), PAPDI (Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia), PDPI (Spesialis Paru), PERDOSNI (spesialis saraf), dan PMI Kota Banda Aceh. []
