BANDA ACEH – Pedagang kaki lima masih menjadi salah satu penggerak ekonomi masyarakat di Kota Banda Aceh. Meski beroperasi dalam skala usaha kecil, aktivitas jual beli yang berlangsung setiap hari mampu menciptakan perputaran uang yang cukup signifikan.
Salah seorang pedagang, Safrian (41), telah berjualan selama delapan tahun di depan SMA Negeri 4 Lampineung, Banda Aceh. Ia menawarkan berbagai jajanan yang diminati pelajar, seperti bakso goreng, tahu goreng, sosis goreng, nugget, dan telur gulung.
Safrian mengatakan jumlah pembeli yang datang setiap hari mencapai lebih dari 50 orang. Dari penjualan tersebut, ia mencatat omzet sekitar Rp450 ribu hingga Rp550 ribu per hari. Pada hari-hari tertentu atau saat jumlah pengunjung meningkat, omzetnya bahkan dapat mencapai Rp650 ribu.
"Biasanya sehari ada lebih dari 50 pembeli. Pendapatan sekitar Rp450 ribu sampai Rp550 ribu, kalau hari ramai bisa sampai Rp650 ribu," ujar Safrian saat diwawancarai.
Dengan rata-rata omzet sekitar Rp500 ribu per hari, nilai transaksi di lapak tersebut diperkirakan mencapai sekitar Rp15 juta dalam satu bulan. Angka tersebut menunjukkan bahwa usaha berskala kecil tetap memiliki kontribusi nyata terhadap perputaran ekonomi di tingkat masyarakat.
Selain menyediakan makanan dengan harga yang terjangkau, keberadaan pedagang kaki lima juga membuka peluang usaha mandiri dan menjadi sumber penghasilan bagi banyak keluarga. Aktivitas ekonomi yang berlangsung setiap hari turut menggerakkan rantai pasok, mulai dari pembelian bahan baku hingga distribusi produk kepada konsumen.
Fenomena ini menunjukkan bahwa sektor informal masih memegang peran penting dalam menopang perekonomian lokal. Melalui transaksi yang terus berlangsung, lapak-lapak sederhana di pinggir jalan menjadi bagian dari roda ekonomi yang terus berputar dan memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar.
[Raihannah]
