Iklan

Iklan

Emang Susah Lupa Itu Salah? Enggak Kok, Ini Cara Otak Melindungi Diri

6/12/26, 20:27 WIB Last Updated 2026-06-12T13:27:27Z


Oleh : Rafeyfa Asyila Mahasiswa Psikologi UIN Ar-Raniry 


Pernah nggak sih kita merasa sudah memaafkan seseorang yang pernah menyakiti atau meremehkan kita, tetapi pada momen-momen tertentu rasa sakit itu muncul kembali? Akibatnya, kita justru menyalahkan diri sendiri dan bertanya, “Kenapa masih kepikiran? Kenapa sulit sekali untuk benar-benar melupakan?”


Sebelum terlalu keras pada diri sendiri, ada baiknya memahami bahwa kondisi tersebut tidak selalu berarti kita pendendam. Menurut Dr. Kathy Nickerson, seorang psikolog yang meneliti tentang betrayal trauma, kesulitan melupakan pengalaman menyakitkan sering kali berkaitan dengan cara kerja otak dalam melindungi diri.


Otak Kita Enggak “Baperan”, Cuma Protektif


Ketika seseorang telah menerima waktu, tenaga, dan kepercayaan kita, tetapi kemudian justru mengecewakan atau mengkhianati, otak tidak memproses pengalaman tersebut sebagai kekecewaan biasa. Dalam banyak kasus, pengalaman itu dipersepsikan sebagai ancaman.


Secara ilmiah, beberapa area otak yang aktif saat seseorang mengalami penolakan atau merasa tidak dihargai juga berkaitan dengan respons terhadap rasa sakit fisik. Karena itu, luka emosional sering kali terasa begitu nyata. Otak menyimpan pengalaman tersebut sebagai bentuk pembelajaran agar kita lebih berhati-hati di masa depan. Maka, ketika kita menjadi lebih waspada atau menjaga jarak, hal itu tidak selalu menunjukkan sikap negatif, melainkan proses adaptasi dan perlindungan diri.


Mengapa Kenangan Buruk Sulit Dilupakan?


Banyak orang bertanya-tanya mengapa pengalaman buruk sering kali lebih mudah diingat dibandingkan pengalaman menyenangkan. Salah satu alasannya adalah karena saat mengalami peristiwa yang sangat emosional, tubuh melepaskan zat kimia seperti norepinefrin yang membantu memperkuat pembentukan memori di otak.


Akibatnya, ingatan terhadap peristiwa tersebut menjadi lebih kuat dan bertahan lebih lama. Dari sudut pandang biologis, mekanisme ini membantu manusia mengingat pengalaman yang dianggap penting agar dapat menghindari risiko serupa di kemudian hari.


Memaafkan Tidak Sama dengan Melupakan


Salah satu kesalahpahaman yang cukup umum adalah anggapan bahwa memaafkan berarti harus melupakan semua yang terjadi dan kembali menjalin hubungan seperti sebelumnya. Padahal, keduanya merupakan hal yang berbeda.

Memaafkan dapat menjadi cara untuk melepaskan beban amarah dan kepahitan demi ketenangan diri sendiri. Namun, melupakan pengalaman atau mengembalikan hubungan ke kondisi semula bukanlah kewajiban. Seseorang tetap berhak memaafkan, sekaligus menetapkan batasan yang dianggap perlu demi menjaga kesehatan emosionalnya.


Masih mengingat pengalaman yang menyakitkan bukan berarti seseorang gagal untuk move on. Ingatan tersebut bisa menjadi bukti bahwa peristiwa itu pernah memiliki makna yang besar dan meninggalkan dampak emosional yang mendalam.


Daripada memaksa diri untuk menghapus ingatan tersebut, mungkin yang lebih penting adalah belajar memahami dan menerima keberadaannya. Proses berdamai dengan diri sendiri memang membutuhkan waktu, dan setiap orang memiliki ritmenya masing-masing.


Pada akhirnya, menjaga batasan diri bukanlah bentuk kebencian atau dendam. Justru, kemampuan mengenali apa yang membuat kita merasa aman merupakan salah satu bentuk penghargaan terhadap diri sendiri. Tidak ada yang salah dengan memilih menjaga jarak dari orang atau situasi yang pernah mengganggu rasa aman kita.

Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Emang Susah Lupa Itu Salah? Enggak Kok, Ini Cara Otak Melindungi Diri

Terkini

Topik Populer

Iklan