Darussalam, 15 Juni 2026– Kawasan Darussalam selama ini dikenal sebagai pusat pendidikan di Aceh. Namun, di sekitar Gedung Pascasarjana UIN Ar-Raniry, geliat aktivitas perdagangan menghadirkan wajah lain yang kontras dengan citra kawasan akademik tersebut.
Deretan kios yang menjual makanan, minuman, buah-buahan, hingga kebutuhan harian kini tersebar di sejumlah titik sekitar kampus. Kehadirannya menjadi solusi praktis bagi mahasiswa dan masyarakat yang membutuhkan akses cepat terhadap berbagai kebutuhan. Di sisi lain, pertumbuhan kios yang semakin padat mulai memengaruhi tampilan kawasan pendidikan.
Hasil observasi menunjukkan adanya perbedaan kondisi di setiap sisi lingkungan Pascasarjana. Pada bagian depan gedung, kios masih berdiri dengan jarak yang relatif renggang. Bangunan kampus dan pagar masih terlihat jelas dari jalan, sementara kendaraan pengunjung terparkir cukup tertata meski tanpa pengawasan petugas parkir.
Situasi berbeda terlihat di sisi kiri Pascasarjana. Deretan kios berdiri berdekatan dengan aktivitas jual beli yang lebih ramai. Tenda, spanduk, dan lapak yang berjajar membuat sebagian pagar kampus tertutup dari pandangan. Dari jalan, aktivitas perdagangan tampak lebih dominan dibandingkan keberadaan bangunan kampus yang berada di belakangnya.
Salah seorang pedagang mengungkapkan bahwa mayoritas pembeli berasal dari kalangan mahasiswa. Menurutnya, tingkat keramaian kawasan sangat bergantung pada aktivitas perkuliahan.
“Kalau lagi kuliah memang ramai yang beli. Tapi kalau lagi libur kadang kami nggak jualan di sini. Biasanya pindah lapak,” ujarnya.
Selain menjadi tempat berbelanja, kawasan kios juga dimanfaatkan sebagai lokasi berkumpul dan bersantai. Kila, salah seorang mahasiswa yang ditemui di area depan Pascasarjana, mengaku lebih nyaman membeli makanan di lokasi tersebut karena suasananya tidak terlalu padat.
“Kalau di sini nggak terlalu ramai. Makanannya enak, jadi kami makan di sini saja. Kalau yang sebelah kiri lebih penuh orang,” katanya.
Keberadaan kios memberikan manfaat ekonomi bagi para pedagang sekaligus memudahkan mahasiswa memenuhi kebutuhan sehari-hari. Namun, pertumbuhan aktivitas perdagangan yang tidak diiringi penataan yang memadai berpotensi mengurangi kesan kawasan pendidikan yang selama ini melekat pada Darussalam.
Meski demikian, kondisi kebersihan di sekitar lokasi masih relatif terjaga. Sampah tidak banyak terlihat di badan jalan, dan sejumlah pedagang mengaku menyediakan tempat sampah di area usaha mereka.
Fenomena ini menunjukkan pertemuan antara kebutuhan ekonomi dan fungsi pendidikan dalam satu ruang yang sama. Kehadiran kios menjadi bagian penting dari aktivitas kampus, tetapi penataan yang lebih baik diperlukan agar perkembangan sektor perdagangan dapat berjalan selaras tanpa mengurangi identitas Darussalam sebagai kawasan pendidikan.
[Rifdah Nurantazila]
