Iklan

Iklan

FOMO dan Generasi Z: Ketika Takut Ketinggalan Menjadi Tekanan

6/18/26, 16:45 WIB Last Updated 2026-06-18T09:45:31Z


Belakangan ini, media sosial kembali ramai membahas fenomena Fear of Missing Out (FOMO) di kalangan Generasi Z. Berbagai konten di media sosial seperti TikTok, Instagram, dan X menampilkan gaya hidup, tren fesyen, konser, tempat nongkrong, hingga berbagai produk yang sedang viral. Kondisi tersebut sering kali membuat banyak anak muda merasa harus selalu mengikuti perkembangan agar tidak dianggap tertinggal atau kurang relevan dalam pergaulan.


Fenomena FOMO merupakan salah satu dampak dari perkembangan media sosial yang sulit dihindari di era digital. Di satu sisi, mengikuti tren bukanlah sesuatu yang sepenuhnya negatif. Hal tersebut dapat memperluas wawasan, menambah pengalaman, serta membantu seseorang memahami perkembangan budaya dan gaya hidup yang sedang berlangsung. Namun, ketika keinginan untuk mengikuti tren muncul semata-mata karena takut tertinggal dari orang lain, dampaknya dapat menjadi kurang sehat.


Saat ini, tidak sedikit anak muda yang rela mengeluarkan uang untuk membeli barang yang sedang viral, mengunjungi tempat yang populer, atau mengikuti berbagai tren demi mendapatkan pengakuan di media sosial. Padahal, tidak semua hal yang sedang ramai dibicarakan benar-benar dibutuhkan. Dalam banyak kasus, keputusan tersebut lebih didorong oleh tekanan sosial daripada kebutuhan yang sebenarnya.


Fenomena ini juga mendorong kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain. Melalui media sosial, seseorang dapat melihat berbagai pencapaian, gaya hidup, atau pengalaman yang tampak menarik. Namun, perlu disadari bahwa apa yang ditampilkan di media sosial umumnya merupakan bagian terbaik dari kehidupan seseorang, bukan gambaran utuh tentang realitas yang mereka jalani. Ketika perbandingan dilakukan secara terus-menerus, rasa tidak puas terhadap diri sendiri dapat muncul tanpa disadari.


Selain berdampak pada kondisi keuangan, FOMO juga dapat memengaruhi kesehatan mental. Rasa takut tertinggal sering kali memicu kecemasan, menurunkan rasa percaya diri, bahkan membuat seseorang kurang menghargai apa yang telah dimilikinya. Akibatnya, media sosial yang seharusnya menjadi sarana komunikasi dan hiburan justru dapat menjadi sumber tekanan psikologis.


Karena itu, Generasi Z perlu belajar membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Tidak semua tren harus diikuti, dan tidak semua hal yang viral harus dimiliki. Media sosial akan memberikan manfaat yang lebih besar apabila digunakan untuk memperoleh informasi, menambah pengetahuan, membangun relasi, serta mengembangkan keterampilan yang mendukung masa depan.


Pada akhirnya, FOMO merupakan fenomena yang wajar di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan media sosial. Namun, keinginan untuk selalu mengikuti tren tidak boleh sampai membuat seseorang kehilangan jati diri, mengabaikan kondisi keuangan, atau merasa rendah diri. Kemampuan untuk mengendalikan diri dan menentukan prioritas menjadi kunci agar Generasi Z dapat menikmati perkembangan zaman tanpa terjebak dalam tekanan sosial yang muncul di ruang digital.


[Ulva Khairunnisa]

Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • FOMO dan Generasi Z: Ketika Takut Ketinggalan Menjadi Tekanan

Terkini

Topik Populer

Iklan