Banda Aceh – Kamis (19/6) Balai Syura Ureung Inong Aceh bekerja sama dengan International Women’s Peace Group (IWPG) menggelar diskusi panel bertema “Women Shaping the Future: Women Solidarity for the Advancement of Peace Declaration and Peace Education”. Kegiatan ini mengangkat solidaritas perempuan dalam mendorong perdamaian serta penguatan pendidikan perdamaian di Aceh.
Forum ini menjadi ruang kolaborasi antara organisasi perempuan lokal dan lembaga internasional dalam memperkuat peran perempuan pada isu perdamaian, pendidikan, serta pembangunan sosial yang berkelanjutan. Kegiatan tersebut juga menjadi wadah pertukaran gagasan mengenai pentingnya keterlibatan perempuan dalam proses perdamaian di tingkat lokal maupun global.
Dalam sesi pemaparan, Dr. Rashidah M. Ag menekankan pentingnya kolaborasi antara masyarakat sipil, pemerintah, dan institusi akademik dalam membangun masyarakat yang damai. Ia menyebut ketiga elemen tersebut sebagai pilar utama dalam pembangunan perdamaian yang berkelanjutan dan saling berkaitan dalam memperkuat struktur sosial.
Ia menjelaskan bahwa agenda perdamaian terdiri dari tiga pilar utama, yaitu pencegahan konflik, penyelesaian konflik, dan pembangunan budaya perdamaian. Ketiga pilar tersebut menjadi dasar dalam upaya menciptakan masyarakat yang lebih stabil, harmonis, serta berkelanjutan di tengah dinamika sosial global.
IWPG turut menyampaikan bahwa hingga saat ini terdapat 138 negara yang terlibat dalam berbagai inisiatif perdamaian sebagai bentuk komitmen global dalam memperkuat kerja sama internasional di bidang perdamaian. Keterlibatan tersebut menunjukkan semakin luasnya kesadaran dunia terhadap pentingnya agenda perdamaian yang inklusif.
Selain itu, Dr. Rashidah juga menyoroti bahwa perempuan memiliki peran strategis dalam proses perdamaian, baik di lingkungan keluarga maupun masyarakat. Menurutnya, keterlibatan perempuan bukan hanya sebagai pendukung, tetapi juga sebagai aktor penting dalam membangun kesadaran, memperkuat nilai kemanusiaan, serta menjaga harmoni sosial.
Salah satu peserta, Rara, mengaku tertarik mengikuti kegiatan ini karena isu perdamaian dinilai penting bagi perempuan dan generasi muda. Ia menilai kegiatan seperti ini memberikan ruang bagi perempuan untuk lebih memahami peran mereka dalam isu sosial yang lebih luas.
“Menurut saya perempuan punya peran penting dalam membangun perdamaian, jadi kegiatan ini sangat menarik untuk diikuti,” ujarnya.
Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi ruang diskusi berkelanjutan dalam memperkuat kesadaran masyarakat mengenai pentingnya pendidikan perdamaian serta peran perempuan dalam menciptakan lingkungan yang lebih damai, inklusif, dan berkelanjutan di masa depan.
[Rifdah Nurantazila]
