Pernyataan Presiden Prabowo Subianto tentang “orang desa tidak pakai dolar” belakangan ramai dibicarakan publik. Kalimat itu terdengar sederhana, ringan, bahkan dianggap dekat dengan kehidupan masyarakat kecil. Banyak yang melihatnya sebagai upaya menenangkan masyarakat di tengah pembahasan soal nilai tukar rupiah dan kondisi ekonomi global.
Namun di balik kesederhanaan kalimat tersebut, ada hal menarik yang patut diperhatikan: bagaimana politik hari ini semakin mengandalkan bahasa yang mudah diterima publik dibanding penjelasan yang rumit dan teknis.
Memang benar, masyarakat desa tidak menggunakan dolar dalam transaksi sehari-hari. Mereka berbelanja dengan rupiah, bekerja dengan rupiah, dan hidup dengan sistem ekonomi lokal yang terasa jauh dari pasar global. Tetapi kondisi ekonomi dunia tetap memiliki pengaruh, bahkan sampai ke desa-desa.
Kenaikan nilai dolar misalnya, dapat memengaruhi harga barang impor, biaya distribusi, bahan bakar, pupuk, hingga kebutuhan pokok. Dampaknya mungkin tidak langsung terlihat dalam bentuk kurs mata uang, tetapi terasa melalui naiknya harga barang dan biaya hidup. Artinya, masyarakat desa memang tidak memegang dolar, tetapi tetap merasakan efek dari pergerakan ekonomi global.
Di sinilah komunikasi politik memainkan peran penting. Pemimpin sering memilih bahasa yang sederhana agar lebih mudah dipahami dan terasa dekat dengan rakyat. Dalam banyak situasi, cara ini memang efektif membangun kedekatan emosional. Kalimat yang singkat dan membumi lebih cepat menyebar dibanding penjelasan ekonomi yang panjang dan penuh istilah teknis.
Akan tetapi, komunikasi politik juga memiliki tantangan besar. Kesederhanaan kadang membuat persoalan yang kompleks terlihat terlalu mudah. Publik akhirnya hanya menerima rasa tenang, tanpa benar-benar memahami persoalan yang sedang terjadi.
Fenomena ini menunjukkan bahwa politik modern tidak hanya soal kebijakan, tetapi juga soal bagaimana sebuah pesan disampaikan. Di era media sosial, satu kalimat bisa menjadi viral dalam hitungan menit. Potongan pidato lebih cepat menyebar daripada pembahasan data ekonomi yang mendalam. Akibatnya, ruang publik sering dipenuhi narasi singkat yang emosional dan mudah diingat.
Meski begitu, bukan berarti komunikasi yang sederhana selalu salah. Pemimpin memang perlu berbicara dengan bahasa yang dekat dengan masyarakat. Namun akan lebih baik jika kesederhanaan itu juga diiringi penjelasan yang memberi pemahaman, bukan hanya ketenangan sesaat.
Sebab masyarakat hari ini tidak hanya membutuhkan pemimpin yang pandai berbicara, tetapi juga komunikasi yang mampu menjelaskan realitas secara utuh. Karena pada akhirnya, rakyat bukan sekadar ingin ditenangkan, melainkan juga ingin mengerti apa yang sebenarnya sedang terjadi. [Anjanisa Munawara]
