Iklan

Iklan

Ketika Jurnalisme Menjadi Taruhan Kemanusiaan

5/20/26, 07:49 WIB Last Updated 2026-05-20T00:49:35Z

Di tengah dunia yang semakin bising oleh propaganda, algoritma, dan perang narasi, masih ada orang-orang yang memilih berdiri di garis paling berbahaya demi menyampaikan kenyataan. Salah satunya adalah jurnalis Indonesia yang tergabung dalam misi kemanusiaan menuju Gaza dan dilaporkan ditangkap oleh militer Israel. Sebelum ditangkap, ia mengirim pesan SOS yang sederhana, tetapi menghantam nurani banyak orang.


Pesan itu bukan sekadar permintaan bantuan. tetapi sebagai pengingat bahwa di balik angka korban, reruntuhan bangunan, dan berita perang yang terus di tayangkan di layar ponsel, ada manusia yang mempertaruhkan keselamatan demi memastikan dunia tidak diam.


Di era sekarang, perang tidak hanya terjadi dengan senjata. Perang juga berlangsung melalui informasi. Siapa yang menguasai narasi, sering kali dianggap memenangkan legitimasi. Karena itu, jurnalis menjadi pihak yang sangat penting sekaligus rentan. Mereka tidak memegang senapan, tetapi kamera, catatan, dan suara. Namun justru itulah yang kadang dianggap mengancam.


Kasus penculikan atau penahanan jurnalis dalam konflik memperlihatkan satu hal penting: kebenaran sering kali menjadi sesuatu yang ditakuti. Ketika akses informasi dibatasi, ketika saksi dibungkam, maka publik dunia hanya akan melihat perang dari sudut pandang yang sudah disaring oleh kekuatan politik tertentu.


Pesan SOS jurnalis Indonesia tersebut juga memperlihatkan bahwa solidaritas terhadap Palestina bukan hanya isu agama atau geopolitik semata. Ini tentang kemanusiaan. Tentang bagaimana seorang warga sipil, relawan, atau jurnalis bisa kehilangan kebebasan hanya karena mencoba membawa bantuan dan menyampaikan fakta. 


Ironisnya, di media sosial, isu kemanusiaan kadang berubah menjadi sekadar tren sesaat. Hari ini ramai dibicarakan, besok tenggelam oleh hiburan baru. Empati bergerak cepat, tetapi juga cepat hilang. Padahal konflik dan penderitaan di Palestina tidak berhenti hanya karena linimasa sudah berganti topik.


Di sinilah pentingnya etika komunikasi dan tanggung jawab publik. Mendukung kemanusiaan bukan berarti menyebarkan kebencian. Menyuarakan Palestina juga bukan berarti menormalisasi kekerasan. Justru yang dibutuhkan adalah keberanian untuk tetap berpihak pada nilai-nilai kemanusiaan secara rasional, kritis, dan bermartabat.


Jurnalis yang mengirim pesan SOS itu mungkin sadar bahwa keselamatannya terancam. Namun sebelum komunikasi terputus, ia masih sempat menitipkan harapan agar dunia tidak berhenti bersuara untuk Palestina. 


Dan mungkin, di situlah makna paling dalam dari jurnalisme: bukan hanya menyampaikan berita, tetapi menjaga agar nurani manusia tidak ikut mati di tengah perang. [Anjanisa Munawara]

Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Ketika Jurnalisme Menjadi Taruhan Kemanusiaan

Terkini

Topik Populer

Iklan