Iklan

Iklan

Melampaui Rasa Takut: Cerita Mahasiswi UIN Ar-Raniry Membawa Suara Anak Muda Indonesia di Forum Internasional AI

5/23/26, 18:20 WIB Last Updated 2026-05-23T11:48:52Z


Bagi sebagian mahasiswa, berbicara di forum internasional mungkin terdengar menegangkan. Apalagi ketika harus berdiskusi bersama peserta dari berbagai negara tentang isu besar seperti kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), pengangguran, dan masa depan dunia kerja. Namun, rasa gugup itu justru menjadi langkah awal bagi Fatayatul Hanani Safrul untuk membuka pengalaman baru di tingkat global.


Mahasiswi semester enam Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris (PBI), Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK), UIN Ar-Raniry Banda Aceh yang akrab disapa Aya itu menjadi salah satu panelis dalam kegiatan International Round Table Discussion bertajuk “Voices of Youth: Perspective Towards AI Affecting Youth Unemployment and Work” yang diselenggarakan oleh Universiti Utara Malaysia melalui NOVAC-TISSA.


Forum tersebut mempertemukan perwakilan mahasiswa dari enam negara, yakni Malaysia, Brunei Darussalam, Filipina, Thailand, Indonesia, dan Australia. Mereka berdiskusi mengenai bagaimana perkembangan AI memengaruhi generasi muda, terutama dalam persoalan lapangan pekerjaan dan tantangan masa depan.


Bagi Aya, forum itu bukan sekadar ruang diskusi akademik. Ada banyak perspektif baru yang membuka cara pandangnya terhadap dunia kerja global, salah satunya ketika mendengar pemaparan panelis asal Australia.


“Saat di forum diskusi, salah satu hal yang paling membuka wawasan saya adalah pemaparan dari panelis asal Australia. Di sana ada program seleksi khusus untuk mahasiswa, di mana mereka dikirim ke suatu daerah untuk bekerja dan program itu sebagian didanai oleh pemerintah,” ungkap Aya.


Menurutnya, program tersebut menarik karena tidak hanya membantu mahasiswa mendapatkan pengalaman kerja, tetapi juga mendorong pemerataan tenaga kerja di daerah-daerah yang masih membutuhkan sumber daya manusia.


Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, isu AI memang kerap menimbulkan kekhawatiran, khususnya bagi mahasiswa yang sedang mempersiapkan diri memasuki dunia kerja. Banyak yang mulai bertanya-tanya apakah peran manusia nantinya akan tergeser oleh mesin dan teknologi.


Namun, Aya memilih melihat AI dari sudut pandang yang berbeda. Baginya, teknologi bukan sesuatu yang harus ditakuti secara berlebihan.


“Karena secanggih atau sebagus apa pun AI, penentu utamanya tetaplah manusia yang mengoperasikannya. AI hanyalah sebuah alat,” jelasnya.


Ia menilai generasi muda justru perlu belajar berdampingan dengan teknologi, bukan bergantung sepenuhnya padanya. Menurut Aya, kemampuan manusia untuk berpikir, mengambil keputusan, dan memahami nilai-nilai sosial tetap tidak bisa digantikan oleh mesin.


Karena itu, ia menekankan pentingnya membangun kemampuan nonteknis sejak dini. Adaptabilitas menjadi salah satu kemampuan yang menurutnya paling dibutuhkan di era perubahan cepat seperti sekarang. Selain itu, kemampuan berpikir kritis juga penting agar mahasiswa tidak hanya menerima informasi mentah dari teknologi.


“Kita harus pandai memilah, mempertanyakan, dan menganalisis informasi, bukan cuma menerima mentah-mentah apa yang dihasilkan teknologi,” katanya.


Keikutsertaan Aya dalam forum internasional tersebut menjadi bukti bahwa mahasiswa daerah juga mampu tampil dan bersaing di ruang global. Tidak hanya membawa nama kampus dan daerah asalnya, ia juga membawa perspektif anak muda Indonesia dalam diskusi mengenai masa depan teknologi dan dunia kerja.


Di akhir sesi, Aya meninggalkan pesan sederhana namun kuat bagi mahasiswa lain yang masih ragu untuk mencoba kesempatan baru.


“Rasa takut itu wajar banget, tapi jangan pernah biarkan rasa takut itu mengendalikan kamu. Kalau ada kesempatan atau kegiatan yang kamu tahu akan bermanfaat untuk masa depanmu, jangan ragu untuk ikut. Ambil saja peluangnya dulu, karena langkah berani itu yang akan membuka jalan-jalan besar berikutnya,” pesannya.


[Nora Hasrita]

Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Melampaui Rasa Takut: Cerita Mahasiswi UIN Ar-Raniry Membawa Suara Anak Muda Indonesia di Forum Internasional AI

Terkini

Topik Populer

Iklan