DARUSSALAM, Aceh Besar — Warga dan penggiat ekonomi kreatif di wilayah Gampong Siem, Kecamatan Darussalam, Aceh Besar, kembali menghidupkan tradisi sutera Aceh melalui kegiatan penanaman murbei secara simbolis. Kegiatan ini digagas oleh Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Aceh dan didukung penuh oleh kelompok UMKM setempat, yakni Kelompok UMKM Jalur Sutera Aceh.
Penanaman murbei digelar di lahan milik Dayah Terpadu Darul Ihsan Abu Hasan Krueng Kalee yang terletak di wilayah Gampong Siem, sebagai awal replanting tanaman pakan ulat sutera sekaligus ajang pemberdayaan ekonomi lokal.
Ketua Dekranasda Aceh, Marlina Muzakir, hadir langsung dalam acara tersebut dan menyatakan bahwa “inilah langkah strategis membangkitkan kembali industri sutera Aceh, agar tidak hanya menjadi warisan, tetapi juga penggerak ekonomi masyarakat.”
Para tokoh masyarakat dan pengurus UMKM melihat peluang besar: bukan sekadar menanam, tetapi mengembangkan rantai nilai mulai dari pemuliaan murbei, pemeliharaan ulat sutera, hingga tekstil masyarakat yang bisa menjadi produk unggulan Aceh Besar. Ke depan, hal ini diharapkan membuka lapangan kerja baru, terutama untuk perempuan dan generasi muda di Darussalam.
Kegiatan ini mendapat sambutan antusias dari warga. Sejumlah remaja dan ibu-ibu dari jurong setempat ikut dilibatkan sebagai kader teknik perawatan murbei dan ulat sutera. Dengan demikian, upaya ini tak hanya bersifat simbolis tetapi nyata dalam transfer skill dan pengerahan partisipasi komunitas.
Tips & Catatan:
Bagi warga yang ingin bergabung, pendaftaran kader akan dibuka melalui posko UMKM Jalur Sutera Aceh di Gampong Siem.
Teknis perawatan murbei dan ulat sutera akan dilatih secara rutin mulai bulan depan.
Pemantauan hasil awal diharapkan bisa dilihat dalam enam bulan ke depan—ini penting untuk memastikan keberlanjutan.
Warga diajak untuk menjaga kelangsungan lahan, kualitas bibit murbei, serta kebersihan lingkungan agar ulat sutera tumbuh optimal.
Dengan adanya gerakan ini, Gampong Siem — Darussalam menegaskan diri sebagai lokomotif baru dalam pemulihan ekonomi kreatif berbasis budaya lokal di Aceh Besar. Tujuannya: produk lokal Aceh yang tidak hanya punya nilai historis, tetapi juga ekonomi nyata.( hibatul waafi)
