Iklan

Iklan

Rohkmin Dahuri Dukung USK Menjadi Universitas Berbasis Riset

1/20/21, 17:25 WIB Last Updated 2021-01-20T10:25:04Z


WASATHA.COM, BANDA ACEH - Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia periode 2001 – 2004  Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, MS mendukung Universitas Syiah Kuala untuk terus menguatkan perannya sebagai Universitas berbasis riset. 


Hal ini disampaikan Rokhmin dalam Kuliah Umum yang dilaksanakan secara daring dan luring dari Gedung AAC Dayan Dawood, Rabu (20/1).


Rokhmin menjelaskan, total potensi sektor kelautan di Indonesia sangatlah besar yaitu bisa mencapai US$ 1.348 triliun/tahun atau 5 kali lipat APBN 2019. Jika mampu dikelola dengan baik, sektor kelautan juga mampu membuka peluang kerja untuk 45 juta orang atau setara 40% total angkatan kerja Indonesia.


Hanya saja potensi yang sangat besar tersebut belum tergarap dengan baik. Hal ini terlihat dari kontribusi ekonomi kelautan bagi PDB Indonesia tahun 2018 masih sekitar 10,4%. Padahal negara lain dengan potensi kelautan yang lebih kecil dari Indonesia seperti Thailand, Korea Selatan, Maldives, Norwegia dan Islandia kontribusinya lebih dari 30%.


Untuk itulah, Rokhmin menilai peran perguruan tinggi sangatlah penting dalam upaya pembangunan sektor kelautan yang berkelanjutan. Jika ingin sektor kelautan cepat maju, maka seluruh perguruan tinggi harus mengarahkan institusinya sebagai perguruan tinggi berbasis riset.


Oleh sebab itu Rokhmin sangat mendukung USK untuk terus memacu institusinya agar bisa melahirkan inovasi dan teknologi, sehingga mampu mendorong pertumbuhan ekonomi dari sektor kelautan.


“Selain itu, USK harus bisa menghasilkan cara atau publikasi ilmah untuk mendukung kebijakan pemerintah.  Nantinya Pemerintah bisa menggunakan informasi dari USK itu untuk basis perencanaan dan kebijakan,” ucapnya.


Terkait hal ini, Rokhmin menilai, sudah semestinya pemerintah dan perguruan tinggi menjalin kemitraan dalam pembangunan. Ia mencontohkan bagaimana Presiden Cina Xi Jinping yang setiap tahunnya meluangkan waktu khusus untuk mendengar pendapat para ahli.


“Kalau Indonesia  ingin maju maka kepala negara, menteri atau kepala daerah harus mendengarkan para ahli dan ilmuan. Itulah yang dilakukan Xi Jinping. Karena kepala daerah kan eksekutor, sementara konsep membangun kita serahkan kepada ahlinya,” ucapnya.


Sementara itu Rektor USK Prof. Dr. Ir. Samsul Rizal, M.Eng mengakui, potensi kelautan Indonesia sangat besar namun sampai saat ini belum mampu menjadi ujung tombak devisa atau mensejahterakan rakyat.


Hal ini terlihat bagaimana kantong kemiskinan itu umumnya berada dari mulai laut sampai ke gunung. Padahal dua daerah ini memiliki potensi ekonomi yang besar.


Oleh sebab itu,  USK telah bertekad untuk terus berkontribusi bagi pembangunan masyarakat. USK melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) telah mengalokasikan dana Rp. 65 Milyar untuk para dosen agar melakukan kajian yang bermanfaat bagi masyarakat.


“Dengan dana itu, kita minta para Dosen USK bisa melakukan riset untuk menyelesaikan berbagai persoalan di masyarakat,” ucap Rektor.


Kuliah umum ini merupakan yang pertama kalinya dilaksanakan USK selama pandemi Covid-19. Jumlah yang hadir pun terbatas yaitu hanya sekitar 50 orang dengan menerapkan disiplin protokol kesehatan, sementara lainnya mengikuti secara daring via aplikasi Zoom.


Pada kesempatan ini, Rektor mengajak Rokhmin mengunjungi mesin distilasi molekuler dan fraksinasi nilam skala industri milik Atsiri Research Center (ARC) Unsyiah. Turut hadir dalam kegiatan ini Para Wakil Rektor USK, Ketua ARC Unsyiah, Wali Kota Sabang dan lainnya. []

Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Rohkmin Dahuri Dukung USK Menjadi Universitas Berbasis Riset

Terkini

Topik Populer

Iklan