Iklan

Iklan

Melihat Lebih Dekat Emping dari Pedir

11/14/20, 12:36 WIB Last Updated 2020-11-14T06:04:31Z

Wasatha.com- Selera masyarakat terhadap emping melinjau sangat tinggi. Rasanya yang ‘leumak’ mampu menyulap lidah pencinta emping yang kerap disapa kerupuk itu. Untuk masyarakat Aceh, emping melinjau kerap dijadikan sebagai teman pelengkap nasi atau mie.

 

“Berapa sekilo,” sapa pembeli

 

“Bang neboh kerepuek mulieng nyo dua kilo [ bang taruk emping meninjau ini dua kg],” perintah pembeli lain.

 

“Bg kerupuk nyo ata baroe nyeh [ bg emping ini punya baru kan],” tanya pembeli.

 

Begitulah sekilas suasana pasar Berenuen, Pidie setiap harinya. Pekan lalu, penulis mencoba mendatangi salah satu toko pengusaha emping melinjau yang ada di Bernuen.

 

Jika Aceh Selatan disebut kota penghasil pala, maka Pidie bisa disebut kota primadona mulieng alias melinjau.

 

Buah melinjau merupakan bahan baku utama dalam proses pengolahan emping melinjau yang sekarang semakin banyak dipasaran.

 

Akibat permintaan pasar yang cukup tinggi, kini pengolahan emping melinjau semakin banyak. Ada enam Kecamatan yang memproduksi emping melinjau di Pidie, yaitu Kecamatan Kembang Tanjong, Kecamatan Keumala, Kecamatan Mutiara, Kecamatan Pidie, Kecamatan Sakti, Kecamatan Titeue.

 

Sementara itu, Kecamatan Mutiaralah yang menjadi sentra pemasaran emping melinjau di Pidie. Dalam hal ini penulis mencoba menelusuri perkampungan pengolahan emping melinjau di Kecamatan Mutiara tepatnya di Gamponeg Bereueh.

 

 

Tidak jauh dari pusat kota, jalur menuju lokasi sangat mudah kita telusuri. Dengan menyusuri jalan samping Masjid Baitul A’la Bereueh Lilmujahidin Bereuneun (masjid Abu Daud Bereueh) kita akan menemukan perkampungan pengrajin emping ini.

 

Sepanjang jalan hanyalah perkarangan sawah nanluas melintang dan juga rumah-rumah warga setempat yang menghiasi mata.

 

Tiba memasuki are kampung, kita akan disambut oleh nyanyian palu dari rumah-rumah warga pengrajin yang terdengar jelas ditelinga. Seperti mendengar suara katak ditengah hujan saja.  Bunyi palu yang bersahut-sahutan diayunkan mereka ibu-ibu desa Bereueh untuk menipiskan melinjau.

 

 

 Sendunya alunan musik menjadi penghibur kelelahan ditengah matahari menyala terang. Diteras rumah, ibu-ibu ini dengan telaten menggeprek satu persatu biji melinjau yang sudah di sangrainya.

 

Seperti Nurjannah, ia adalah salah satu pengrajin emping melinjau yang kurang lebih sudah 40 tahun melakoni pekerjaan sebagai pengrajin emping.

 

Untuk bahan baku biji melinjau, Nurjannah membelinya dari pengepul biji melinjau yang ada di daerah pasar Bereunun, Pidie. Biasanya Nurjannah membeli 5-10 bambu biji melinjau, namun karena usianya yang tidak lagi muda dan ia hanya tinggal seorang diri sekarang, ia hanya mampu menghabiskan lima bambu saja dalam sehari dengan jumlah emping 3,5 kg.

 

Wanita parubaya itu mengatakan, pekerjaan sebagai pengrajin emping ini adalah alternatif kedua selain profesi pertamanya sebagai pertani.

 

“ miseu tengeh musem blang kamoe jak u blang dile, leuh diblang baroe duk inoe peh meuling [ kalau sedang musim sawah kami pergi kesawah dulu, baru setelah itu duduk disini geprek melinjau],” tuturnya.

 

 Sebenarnya proses pengolahan melinjau menjadi emping ini sudah dicoba menggunakan alat yang modern, namun bukannya mendapat hasil yang baik malah tidak karu-karuan.

 

Maka jangan heran, jika sampai saat ini warga yang mengolah melinjau menjadi emping masih menggunakan alat tradisional.

 


Adapun alat yang digunakan yaitu berupa palu, meja/alas, wajan dan sendok khusus yang terbuat dari batok kelapa.

 

Sedangkan untuk proses pengolahannya terbilang cukup panjang. Pertama, biji melinjau di sangrai terlebih dahulu mengunakan pasir khusus dengan api sedang. Setelah biji melinjau matang, kemudian di geprek setipis mungkin agar menghasilkan emping yang berkualitas.

 

Kemudian, biji melinjau yang sudah pipih membentuk lingkaran itu dijemur dibawah sinar matahari dengan bantuan blet (anyaman yang terbuat dari daun kelapa). Keesokan harinya, barulah emping siap dibawa ke pasar ke tukang pengepul.

 


Kualitas biji melinjau yang sudah jadi emping terbilang berbeda-beda. Ada tiga tipe emping yang dipasarkan, pertama emping dengan kualitas tipe satu dipasarkan dengan harga sekitaran Rp.75-80 ribu, emping dengan kualitas dua Rp.60-70 ribu, sedangkan emping dengan kualitas tiga sekitaran Rp.50-55 ribu.

 

Emping tipe satu digolongkan sebagai emping super, emping kualitas ini banyak digemari oleh masyarakat. Apakah anda penasaran untuk mencoba emping dari pedir?. [sa]

Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Melihat Lebih Dekat Emping dari Pedir

Terkini

Topik Populer

Iklan