-->

Iklan

Iklan

Bermula dari Prajurit Kerajaan

7/06/20, 13:55 WIB Last Updated 2020-07-06T07:03:27Z

ETNIK Bajo atau Bajau memang khas. Mereka lahir, besar dan kembali ke Sang Khalik kala dalam pelukan lautan. Deru nafas mereka juga saling berlomba dengan debur ombak kecil yang berlari menuju tepian. Laut adalah sebuah masa lalu, kekinian dan harapan masa mendatang.

Lalu dari mana asal usul ektik Bajo? Dr Anwar Hafidz Mpd ahli sejarah di Universitas Halu Oleo (Unhalu) Kendari yang ditemui di kampus tersebut, membeberkan dengan rinci asal muasal etnik Bajo. Menurutnya, terdapat beberapa versi tentang asal muasal etnik putera-putera lautan itu. Satu versi menyatakan etnik Bajo berasal dari Johor Malaysia dan kemudian menyebar ke seluruh kawasan timur Indonesia. "Ada juga yang mengatakan suku Bajo merupakan campuran Cina Selatan dan Kalimantan Timur. Namun, semuanya sama, menekankan bahwa suku Bajo hidup di laut," sebut Anwar Hafidz.

Versi ini, didasarkan pada mitos dan cerita rakyat yang berkembang pada masyarakat Bajo. Suatu ketika di masa silam, raja di Johor Malaysia kehilangan putrinya yang sedang bertamasnya mengarungi lautan Nusantara. Dikabarkan, putri raja tersebut tenggelam di lautan lepas. Atas kejadian itu, Kerajaan Malaka memerintahkan seluruh prajuritnya untuk mencari putri raja. Dan mereka tidak diperbolehkan kembali, sebelum berhasil mendapatkan putri sang raja.

Di sinilah dimulai sebuah perantauan tak berujung. Karena tidak berhasil menemukan putri raja yang tenggelam, maka para prajurit kerajaan Malaka memutuskan tidak kembali ke kerajaan dan berlayar kemana saja mengikuti arah angin. "Mereka itulah cikal bakal etnis Bajo yang kemudian tinggal di atas perahu dan berpindah-pindah. Sampai akhirnya mereka tersebar di berbagai pesisir Sulawesi," kata Anwar Hafidz.

Sementara, versi lain menyatakan, mereka berasal dari Vietnam dan Filipina. Hal tersebut didasarkan pada bahasa yang hampir mirip dengan masyarakat pesisir yang ada di Filipina dan Vietnam. "Seluruh etnik Bajo di pantai manapun berada, mereka tetap menggunakan bahasa yang sama, yaitu bahasa Bajo," sebut Anwar.

Dilihat dari segi aspek budaya, menurut Anwar Hafidz, asal usul etnis Bajo lebih dekat kepada etnis Melayu. Hal tersebut dilihat dari kebiasaan mereka berpantun. "Orang Bajo dalam hitungan detik mampu merangkai pantun yang menarik," katanya.

Suku Bajo, umumnya beragama Islam dan memiliki seni berpantun yang sangat indah. Dalam kancah penyebaran Islam, Suku Bajo menurut Anwar Hafidz mempunyai kontribusi besar terhadap penyebaran agama Islam di Sulawesi bahkan di Nusantara. Tercatat, Imam Masjid pertama di Kota Kendari adalah ulama dari etnis Bajo. Bisa jadi, suku Bajo dalam menyebarkan Islam ada kaitannya dengan Syaikh Abdul Wahid, seorang ulama dari Arab yang sebelum ke Nusantara, terlebih dahulu menyebarkan Islam di Johor Semenanjung Malaysia, dimana etnis Bajo berasal.

Literatur lain yang dikatakan Anwar Hafidz, adalah adanya satu kisah tentang prajurit Malaka yang menyebar menghindari tekanan Portugis ketika menyerang Malaka. "Ketika Portugis menguasai Malaka yang notabene basis kerajaan Islam Melayu, para prajurit Malaka yang tidak mau menerima kehadiran Portugis tersebut menyebar ke kawasan Timur Nusantara, dan inilah yang dalam salah satu versi kemudian membentuk komunitas etnis Bajo yang hidup di laut," sebut Anwar Hafidz.

Bahkan dikatakan Anwar Hafidz, dalam salah satu naskah Lontar Bajo yang ditelitinya, etnis Bajo juga ada yang berasal dari Makasar. Saat ini, setelah sebagian dari mereka memilih daratan untuk tempat tinggal seperti di Desa Bajo, Kecamatan Soropia, etnis Bajo masih saja tertinggal dan hidup apa adanya di pesisir pantai Sulawesi. 

Anak-anak dari suku Bajo jarang yang bisa mengenyam pendidikan sampai universitas. Rata-rata diantara mereka hanya menamatkan SD, paling tinggi tamatan SMA. Riwayat melek pendidikan bagi etnis Bajo baru saja muncul tahun 1990, saat itu sudah banyak anak-anak Bajo masuk sekolah walaupun hanya tamat SD. Penelitian yang dilakukan La Ode Muharram, seorang praktisi pendidikan dari Universitas Haluoleo (Unhalu) papa tahun 2001 di Kecamatan Soropia, menyimpulkan, sebanyak 96 persen anak suku Bajo drop out sekolah , 4 persen diantaranya bisa tamat SMA dan perguruan tinggi.

Lalu mengapa etnis Bajo terkesan tertinggal dari suku lain yang ada di Sulawesi Tenggara? Padahal mereka memiliki peran penting saat merintis berdirinya Kota Kendari. Anwar Hafidz mengatakan, penyebab ketertinggalan bidang pendidikan bagi etnis Bajo adalah tidak mendekatnya pendidikan formal ke kawasan suku Bajo. "Keadaan tersebut membuat etnis Bajo sama sekali tidak tertarik dengan pendidikan dan enggan pergi sekolah," kataya.

Pemerintah dalam hal ini, menurut Anwar Hafidz belum memaksimalkan pendidikan di kawasan tersebut. Saat ini, baru ada sekolah Dasar yang jaraknya lumayan dan ditempuh dengan berjalan kaki. "Untuk memajukan etnis Bajo agar sejajar dengan komunitas lainnya di Sulawesi, maka perlu mendekatkan lokasi pendidikan formal ke kawasan pemukiman masyarakat Bajo," kata Anwar.

Bagi etnik Bajo, laut adalah segalanya, laut adalah kehidupanya, laut adalah ombok lao, atau raja laut. Etnis Bajo, dalam menempatkan orang membaginya ke dalam dua kelompok. Sama' dan Bagai. Sama' adalah sebutan bagi mereka yang masih termasuk ke dalam suku Bajo sementara Bagai adalah suku di luar Bajo. 

"Orang Bajo sangat hati-hati dalam menerima orang baru. Mereka tidak mudah percaya sama pendatang baru," katanya. 

Etnis Bajo, yang biasa memanggil laki-laki dengan sebutan Lilla dan perempuan dengan sebutan Dinda tersebut, memilik kemampuan mendiagnosa jenis penyakit yang diderita salah satu ikan di laut. 

"Orang Bajo bisa tahu ikan yang sakit dan tidak, ini menunjukan sebenarnya dasar-dasar ilmiah sudah mereka miliki, " sebut Anwar.

Tingkat sosial masyarakat Bajo dalam menyokong kehidupan beragama juga tergolong tinggi, seperti disebutkan Anwar Hafidz di Desa Mekar Bajo sebuah masjid di Desa tersebut dibangun hanya oleh satu orang dari suku Bajo.

Meski sebagian etnis Bajo tidak lagi hidup dalam perahu-perahu yang mengapung di samudera lepas, saat ini etnis Bajo yang mendiami seluruh pesisir Sulawesi masih hidup dengan hanya mengandalkan sektor air. Bagi mereka, laut dan hasilnya adalah tempat untuk meniti kehidupan dan mempertahankan diri sambil terus mewariskan budaya leluhur suku Bajo.

Etnis Bajo, memiliki keyakinan penuh atas sebuah ungkapan, bahwa Tuhan telah memberikan bumi dengan segala isinya untuk manusia. Keyakinan tersebut tertuang dalam satu Falsafah hidup masyarakat Bajo yaitu, 'Papu Manak Ita Lino Bake isi-isina, kitanaja manusia mamikira bhatingga kolekna mangelolana', artinya Tuhan telah memberikan dunia ini dengan segala isinya, kita saja manusia yang memikirkan bagaimana cara memperoleh dan mempergunakannya. 

Ya...itulah pesan bijak dari anak-anak dalam pelukan lautan.(arif ramdan)

BACA:  

Aroma Kerang Laga di Mekar Bajo





Ilustrsi Suku Bajo [portalsepekan.com]
Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Bermula dari Prajurit Kerajaan

Terkini

Topik Populer

Iklan