-->

Iklan

Iklan

Aroma Kerang Lagah di Mekar Bajo

7/06/20, 12:50 WIB Last Updated 2020-07-06T06:13:09Z


Mau Urang Mas Malaha Sehe' 

Urang Batu Malaha' Diri

Lubbi Ala Ma Kaupoh Laha Diri

Lebih Baik Hujan Batu di negeri Sendiri

Daripada Hujan Emas di Negeri Orang


PEPATAH di atas merupakan prinsip hidup etnis Bajo, satu komunitas etnis yang hidup dan menguasai seluruh pesisir laut Sulawesi termasuk di Desa Mekar Bajo, Kecamatan Soropia, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara. Mereka adalah manusia-manusia laut yang hidup dan mati di laut, pondasi rumah mereka hanyalah tiang-tiang panjang yang menancap ke dasar laut. Bahkan, rumah-rumah mereka adalah perahu-perahu yang mengapung lepas di lautan.

Etnik Bajo adalah bagian dari masyarakat Sulawesi yang hidup di hampir seluruh pesisir pantai, komunitas mereka biasa disebut juga dengan nama To Bajo, Bajau, Sama, Bajo E, To Wajo atau Orang Laut yang tak memilik teritorial. Dulu, mereka adalah manusia-manusia yang telah menjadikan laut sebagai sahabat dan tempat tinggalnya, aktivitas memasak, tidur, dan menghabiskan waktu bersama keluarga, mereka lakukan di atas perahu dengan layar mengembang. Layak jika mereka disebut sebagai manusia perahu. Tetapi, pemandangan seperti itu tidak nampak lagi, karena sebagian etnis Bajo saat ini telah tinggal di daratan luas di sepanjang pesisir laut Sulawesi.

Sulawesi Tenggara yang terkenal dengan negeri Anoa ini resmi terbentuk pada tanggal 27 Aprl 1964 sebagai realisasi pelaksanaan Perpu Nomor 2 Jo Undang-Undang Nomor 13 tahun 1964 tentang pembentukan provinsi daerah tingkat I Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Tengah. Dengan ibu kota Kendari, Sulawesi Tenggara terbentuk dari bekas-bekas wilayah kesultanan Buton dan kerajaan-kerajaan sekitarnya seperti Mekongga, Konawe, dan Kerajaan Muna di Jazirah Tenggara Sulawesi.

Nama Sulawesi Tenggara diambil dari hasil perjanjian antara Sultan Buton La Elangi yang bergelar Dayanu Ikhsanuddin dengan utusan VOC Kapten Apllonius Scotte pada 5 Januari 1613.

Sulawesi Tenggara, memilik luas 15.019 Kilometer persegi yang terdiri dari 114.879 kilometer luas lautan (72%), 38.140 kilometer luas daratan (28%), 100 buah pulau, dua pulau berukuran besar, dan tiga gugusan kepulauan. Provinsi penghasil Kakao dan Jambu Mete tersebut, terdiri dari sepuluh kabupaten antara lain, Kabupaten Konawe, Kolaka, Buton, Muna, Kota Kendari, Kota Bau-Bau, Kota Konawe Selatan, Bombana, Wakatobi, dan Kolaka Utara.

Setiap pelancong domestik maupun luar negeri yang menginjakkan kaki di Kendari, sudah pasti menyempatkan mencicipi Sinonggi, makanan khas sulawesi yang terbuat dari tepung sagu. Selain itu, panorama teluk Kendari juga tidak kalah penting dari indahnya pantai Nambok yang sering dikunjungi wisatawan.

Menempuh perjalanan sejauh 17 kilometer lebih dari Kota Kendari, Sabtu (5/8/2006) lalu. Dan menyusuri pinggiran jalan berliku dan berdebu, saya berkesempatan mengunjungi salah satu daerah etnik Bajo yang berada di Desa Mekar Bajo, Kecamatan Soropia, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara.

Etnis Bajo merupakan komunitas manusia yang pertama kali mendirikan dan melakukan aktivitas pertama di Kota Kendari, tepatnya di kawasan Kota Lama. Seperti disebutkan seorang ahli sejarah di Kendari, Dr Anwar Hafidz yang melakukan penelitian khusus pada komunitas etnis Bajo sejak tahun 1987. Anwar Hafidz adalah dosen sejarah di Universitas Halu Oleo (Unhalu).

Mengendarai sepeda motor dari pusat Kota Kendari, gumpalan awan putih cumulus nimbus menggelayut manja di langit biru Desa Bajo. Matahari sudah menampakan diri, gelombang laut tenang tidak bergejolak, pertanda laut sedang bersahabat dengan etnis Bajo yang sebagian diantaranya sedang asyik menyalami jilatan gelombang kecil di pesisir Desa Mekar Bajo. Dari kejauhan terlihat seorang nenek dengan bocah kecil menjinjing karung yang berisi kerang laut.

Diantar oleh beberapa orang pemuda dari etnis Bajo, diantaranya bernama Aco, lelaki berusia 30 tahun yang terlihat berpendidikan. Bersama Aco, saya menyusuri lorong-lorong kecil di antara rumah yang berdiri tegak dengan tiang penopang ditancapkan ke dasar tanah pesisir. Sekitar dua sampai tiga meter, rumah suku Bajo berdiri di atas permukaan pesisir laut. Sesekali, terlihat perempuan suku Bajo menengok dari jendela rumah mereka yang terbuat dari kayu beratap daun rumbia. Sepertinya, mereka penasaran dengan kehadiran saya dan rekan jurnalis lainnya yang berkunjung ke Desa Mekar Bajo.

Pagi menjelang siang, perkampungan etnis Bajo terlihat sepi. Hanya beberapa orang saja yang kedapatan melakukan aktivitas membakar kerang jenis lagah hasil tangkapan mereka. Sebut saja Kotu (55), perempuan yang memilik tujuh anak ini, sejak pagi menunggui Kerang Lagah yang ia bakar untuk santapan makan siang bersama keluarganya.

Kotu yang telah 17 tahun tinggal di Desa Mekar Bajo adalah isteri dari seorang nelayan bernama Ziba (55). Bersama Kotu dan salah satu anak perempuannya, saya sempat mencicipi Kerang Lagah yang dibakar Kotu. Meski dibakar dengan perapian yang sederhana, tetapi Kerang Lagah yang dihidangkan Kotu terasa nikmat disantap, aromanya serasa menusuk hidung ketika angin menghembus di pesisir Desa Mekar Bajo. 

"Ini hasil tangkapan suami saya malam tadi, ya untuk makan siang sudah cukup. Sebagian lagi saya jual," kata Kotu sambil sesekali mengiris-ngiris kerang Lagah tersebut dengan pisau dapurnya yang terlihat sedikit berkarat.

Etnis Bajo yang saya kunjungi, secara teritorial masuk ke wilayah Kabupaten Konawe. Garis ekonomi dan tingkat pendidikan suku Bajo boleh dibilang tertinggal dari suku-suku asli Sulawesi yang mendiami berbagai kabupaten dan kota. Rata-rata orang Bajo, hanya menamatkan pendidikan SD, seperti Kotu dan suaminya Ziba.

Di Sulawesi Tenggara terdapat lima etnis besar sebagai penduduk asli di provinsi penghasil jambu mete tersebut. Diantaranya, suku Tolaki dan suku Buton. Beberapa etnis lainnya juga hidup berdampingan, seperti Suku Bugis, Jawa, dan suku pendatang lainya yang sudah berbaur dengan masyarakat setempat.

Komunitas etnis Bajo yang tinggal di Desa Mekar Bajo tersebut, sebelumnya merupakan penduduk yang mendiami pulau Bokori, sebuah gugusan kepulauan di Sulawesi. Mereka secara resmi direlokasikan pemerintah pada tahun 1960 ke daratan Sulawesi.

Menurut beberapa tokoh masyarakat, pulau Bokori sempat terkena gelombang tsunami yang mengakibatkan abrasi pantai yang mulai mengancam etnik Bajo. Selain itu, sistem sanitasi dan air bersih sangat sulit untuk didapat di pulau Bokori.

Saat ini, terdapat sekitar 372 Kepala Keluarga atau 10.022 jiwa etnik Bajo yang tinggal di Desa Mekar Bajo, Kecamatan Soropia dari jumlah keseluruhan etnik Bajo sebanyak 360.000 jiwa yang tersebar di pesisir pantai Sulawesi dan rata-rata berprofesi sebagai nelayan. [arif ramdan]

***

25 Juli hingga 5 Agustus 2006, saya berkesempatan mengunjungi Kendari, Sulawesi Tenggara. Berikut ini tulisan lama yang dipublish ulang. Banyak kesan tentang daerah di Indonesia Timur tersebut. Mulai dari etnik Bajo hingga kekinian Kendari.

 

 



Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Aroma Kerang Lagah di Mekar Bajo

Terkini

Topik Populer

Iklan