Keterbatasan Tanduk kerbau Produksi Rencong Terancam Punah

Share:
Proses pembuatan rencong aceh

WASATHA.COM - Tanoh Rencong atau Tanoh Aceh begitulah sapaan untuk propinsi yang berada di ujung Indonesia ini. Selain memiliki keunikan Kulinernya Aceh juga mempunyai kebudayaan yang beragam.

Selain kebudayaan dan kuliner yang menggugah selera, kerajinan tangan dari Aceh sendiri juga tidak kalah menariknya diPasaran Nasional salah satunya Rencong.

Rencong sering dijadikan buah tangan para pelancong yang menjajaki kaki ke Aceh. Rencong merupakan senjata yang berubah menjadi souvenir.

Senin, (10/6/2019) kami berkesempatan mengintip pabrik pembuatan Rencong Aceh. Desa Baet Mesjid, Kecamatan Sibreh, Aceh Besar, merupakan salah satu desa yang sejak dahulu memproduksi Rencong rumahan.


Dari produksi rumahan ini para penjual mendapatkan berbagai bentuk Rencong yang memenuhi pasar dan kebutuhan para pelancong.

Rencong terbuat dari besi yang dibakar dan ditipiskan dengan palu besi atau dibentuk dengan kebutuhan.

Selain itu, tanduk kerbau yang sudah tua juga merupakan kebutuhan pokok dalam proses memproduksi Rencong dan dijadikan sebagai gagang.

Menurut warga desa Baet, hasil pembuatan rencong ini sangat menjanjikan dengan kisaran harga jual mulai dari Rp. 30.000 sampai Rp. 700.000 tergantung ukuran dan bahan pembuatan rencong sendiri.

Namun, pabrik-pabrik rumahan Rencong mulai meredam para pembuat sudah kurang memproduksi Rencong.

Haris, yang dari umur 16 tahun memproduksi Rencong mengatakan, bahwa pabriknya sudah mengurangi jumlah pembuatan rencong.

"Untuk saat ini Rencong yang kami produksi hanya sedikit karena kurangnya bahan baku," ujar Haris.

Haris juga menambahkan, kurangnya produksi ini karna diakibatkan terbatasnya tanduk kerbau yang dijadikan sebagai gagang. [Wahyu Majiah]

No comments