Makam Teungku Bitai, Dalam Sejarah Masyarakat Aceh

Share:


WASATHA.COM, Aceh mempunyai hubungan erat dengan Kesultanan Turki Utsmani, dahulu Turki menjalin hubungan diplomatik dengan salah satu kerajaan yang ada di Aceh yaitu Kesultanan Aceh Darussalam. Hal ini bisa dilihat dari peninggalan makam para guru, ustadz dan petugas militer Kekhalifahan Turki Utsmani yang pernah bertugas di Aceh, tepatnya di sebuah desa yang bernama desa Bitai kecamatan Meraxa, Banda Aceh.



Bitai dulunya menjadi tempat menuntut ilmu agama para raja dari berbagai daerah, diantaranya Sultan Iskandar Muda, Sultan Deli, Raja Meureuhom Daya, Tjut Nyak Dhin, Laksamana Malahayati bahkan ulama dari Palestina dan Persia.

Berdasarkan catatan sejarah, orang-orang Turki baik ulama dan pasukan yang dipimpin oleh Muthalib Ghazi bin Mustafa Ghazi berangkat ke Aceh dengan menggunakan kapal. Muthalib inilah yang kemudian dikenal dengan Tengku Syiek Tuan Di Bitai atau di kenal dengan Tengku Di Bitai.

Di komplek pemakaman Tengku Di Bitai ini terdapat 20 makam bernisan segi delapan yang mengelilingi makam Sultan Salahuddin. Tujuh diantara makam itu terbuat dari batu cadas dan 18 lainnya terbuat dari batu sungai. Di sana juga terdapat masjid Turki yang sudah direnovasi dan sekarang dijadikan sebagai pusat aktivitas keagamaan warga sekitar.
Dalam keterangan yang ada di makam, Bitai digambarkan sebagai sebuah desa yang ditempati para ulama Islam dari pasai pidie dan mereka berasal dari Negara Baitul Maqdis dan Turki.

Mulanya Turki membantu Aceh dengan memberikan perlengkapan perang, pada masa pemerintahan Sri Sultan Salahuddin yang memerintah pada tahun 1548 M dan hanya memerintah selama 28 tahun tiga bulan. Masa pemerintahannya mempunyai agenda meningkatkan pendidikan dan hubungan kerja sama dengan negara-negara lain seperti Turki, tanah melayu, Pakistan dan Arab Saudi.

Raja dan keluarga juga para masyarakat yang berada di negri Kedah umumnya beragama Islam, dan kemudian orang-orang Turki menikahi orang-orang Aceh yang tinggal di Bitai. Pada saat wafatnya Raja Salahuddin, orang Turki yag merupakan sahabatnya memberikan wasiat bahwa pada saat meninggal mereka meminta di makamkan saling berdekatan, yaitu dikomplek Situs Makam Tuanku Di Bitai.

Jauh sebelum pemakaman ini ada, tanah ini pernah berdiri sebuah pasantren, masjid yang digunakan untuk shalat Jum'at, pondok-pondok tempat belajar dan mengaji para ulama-ulama besar yang datang dari jauh menggunakan Kaha (delman) dan di belakang pasantren juga terdapat pelabuhan Baitul Maqdis tempat pemberangkatan haji yang sekarang berubah menjadi sungai Krung Neng. Namun pada saat tengku Di Bitai meninggal dan di makamkan ditanah ini, disitulah awal mulanya tanah ini dijadikan tempat pemakaman keluarga keturunan turkey termaksud orang-orang yang meninggal pada saat menuntut ilmu yang datang dari Bghdad, Yaman, dan Baitul Maqdis.

Makam-makam ini dijaga dan dibersihan oleh keturunan terakhir Turky yang tinggal di desa ini. Azimah, perempuan yang bekerja sebagai ibu rumah tangga, mendapat wasiat dari sang ayah yang sebelumnya menjadi penjaga makam, untuk meneruskan pengabdian orang tuanyanya. Amanah ini dijalankannya dengan senang hati bersama sang suaminya meskipun tanpa digaji, ia juga menjadi pemandu Wisata jika ada Wisatawan yang berkunjung.

Ibu Azimah sendiri mengaku jadi pemandu sudah sejak sebelum tsunami bersama sang ayah, beliau juga mempunyai salinan dokumen silsilah arakata yang sudah di tandatangani oleh ahli waris. Adapun tanah yang digunakan untuk pemakaman merupakan tanah wakaf yang dokumennya juga telah ditandatangani oleh pemilik tanah yang sekarang telah meninggal dan almarhum dikebumikan ditanah wakaf itu sendiri, namun dokumen asli masih disimpan oleh pihak keluarga yang kini bertempat tinggal di Sabang. 

Komplek pemakaman ini pernah mendapatkan piagam kebersihan dari Dinas Parwisata Kota Madya. Dalam komplek pemakaman terdapat sebuah monument para prajurit turki. Makam Tengku di Bitai sendiri berada di bukit sebelah kiri arah menuju ke meseum, namun biasanya pengunjung sering salah mengira bahwa makam Tengku Di Bitai terdapat di dalam banteng yang berada di tengah pemakaman. Sebenarnya di dalam banteng tersebut merupakan makam keturunan beliau, salah satunya Tengku Muhammad Juned (paling kiri) dan Ratu Syarifah (paling kanan).

Dalam museum itu sendiri terdapat silsilah keturunan turki, sejarah datangnya orang Turki ke aceh hingga replika kapal yang digunakan Tengku di Bitai mmenuju ke Aceh dan beberapa piagam penghargaan.
Dalam harapnya, Ibu Azimah ingin masyarakat tahu terutama remaja-remaja mengenai sejarah makam Tengku Di Bitai ini juga mengetahui bahwa Kesultanan Turki memang benar-benar ada di Aceh dengan adanya komplek pemakaman ini. Selama ini masyarakat tidak pernah tahu bahwa desa yang dijuluki desa turki ini benar adanya.

Beliau juga berharap semoga Desa Turki ini dikenal oleh seluruh masyarakat khususnya masyarakat Banda Aceh. Semoga akan ada penerus sejarawan yang akan terus menceritakan sejarah Desa Turki kedepannya sesuai dengan apa yang telah terjadi di masa itu.[Meisy]  

No comments