Al-Haytam Ilmuan Muslim Penemu Kamera

Share:

SUDAH  sangat familiar bahkan menjadi kebutuhan di zaman modern baik di kalangan pemuda maupun orang tua pada abad 21 ini dengan alat yang disebut “kamera.”
Kamera adalah alat optik yang dapat merekam suatu peristiwa atau kejadian penting dalam bentuk gambar atau foto sehingga peristiwa dalam bentuk gambar atau foto sehingga peristiwa itu dapat kita lihat kembali. Cara kerja kamera sama seperti cara kerja mata. Bayangan nyata dari sebuah objek atau benda dibentuk oleh lensa cembung pada kamera.
Kamera juga menjadi alat yang sangat penting bahkan menjadi kebutuhan dalam dunia wartawan dalam memanfaatkan teknologi di era teknologi yang semakin canggih untuk menghadapi revolusi industri 4.0.
Tidak hanya di dunia wartawan, banyak pemuda milenial menjadikan kamera sebuah alat untuk mencari penghasilan, bahkan dunia bisnis pun menggunakan alat tersebut. Banyak pemuda milenial menjadi kaya dengan inovasi dan kreatiritas dalam memanfaatkan kamera untuk mengunggah sebuah foto atau video yang menginspirasi, memotivasi,menghibur dan berbagi pengalaman di internet melalui media sosial seperti Youtube, Facebook, Twitter, Instagram, BBM, Line, WhatsApp dan sebagainya.
Di zaman modern di mana teknologi yang semakin canggih ini, alat kamera tidak lagi asing. Namun tidak sedikit anak muda yang belum tahu siapa orang pertama yang menciptakan alat tersebut.
Kamera adalah hasil temuan seorang ilmuwan Muslim pada abad ke-10, yang bernama Abu Ali Muhammad Al-Hassan ibnu Al-Haytham atau Ibnu Haytsam, di barat lebih dikenal dengan nama Alhazen.  Al-Haytham  dilahirkan di Bashrah, (kota terbesar kedua setelah Bagdad di Irak) tahun 965 masehi.
Al-Haytham pencetus pertama yang menggambarkan bagaimana kerja kamera dengan prinsip-prinsip dasar pembuatan kamera dalam mengembangkan bidang optik.
Perjalanan Hidup
Sejak kecil Al-Haytham berotak encer dalam menempuh pendidikan di tanah kelahirannya. Saat remaja ia merintis kariernya sebagai pegawai pemerintah di Basrah. Namun ternyata ia tak betah berlama-lama berkarir di dunia birokrasi. Al-Haytham justru lebih tertarik untuk menimba ilmu, akhirnya memutuskan untuk berhenti sebagai pegawai pemerintah.
Ia pun lalu pergi ke Ahwaz dan pusat intelektual dunia saat itu, yakni kota Baghdad. Di kedua kota itu ia menimba beragam ilmu. Semangat mempelajari ilmu yang tinggi membawanya terdampar hingga ke Mesir. Di negeri piramida itu, Ibnu Haitham meneliti aliran dan saluran sungai Nil serta menerjemahkan buku-buku tentang matematika dan ilmu falak.
Ibnu Haytham juga sempat mengenyam pendidikan di Universitas Al-Azhar. Setelah itu, secara otodidak ia mempelajari hingga menguasai beragam disiplin ilmu seperti ilmu falak, matematika, geometri, pengobatan, fisika, dan filsafat. Secara serius dia mengkaji dan mempelajari seluk-beluk ilmu optik.
Penemuan Kamera
Al-Haytham, ilmuan yang digelari sebagai “First Scientist” menciptakan penemuannya yang sangat fenomenal ini pada tahun 1020 masehi di Al-Azhar, Mesir.
Karya Al-Haytham paling menumental merupakan penemuan yang sangat inspiratif saat dilakukan bersama muridnya bernama Kamaluddin Al-Farisi. Keduanya berhasil meneliti dan merekam fenomena kamera obscura.
Penemuan kamera itu berawal ketika keduanya mempelajari gerhana matahari. Untuk mempelajari fenomena gerhana, Al-Haytham membuat lubang kecil pada dinding yang memungkinkan citra matahari semi nyata diproyeksikan melalui permukaan datar.Kata kamera, Haytham menamakan alat ciptaannya dengan sebutan “Qumroh” yang berasal dari kata “Qomar” dalam bahasa Arab yang berarti Bulan.
Karyanya ini terinspirasi oleh bulan. Pertama ia membuat sebuah kamar kecil, semua sudutnya tertutup rapat tak ada cahaya sekali, hanya ada lubang kecil di depannya dengan lubang itu cahaya akan masuk kemudian menyimpan bayangan yang terbayang masuk oleh cahaya kedalam qumroh yang di dalamnya sudah disediakan media untuk menyimpan bayangan tersebut.
Ibarat bulan, yang bersinar di tengah kegelapan. Demikian juga qumroh yang gelap kemudian ada cahaya kecil yang masuk kedalamnya dan menyimpan obyek yang terbawa oleh cahaya tersebut. Kajian ilmu optik berupa kamera obscura itulah yang mendasari kinerja kamera yang saat ini digunakan umat manusia. Oleh kamus Webster, fenomena ini secara harfiah diartikan sebagai ”ruang gelap.”
Al-Haytham adalah orang pertama yang menulis dan menemukan berbagai data penting mengenai cahaya. Setelah penemuan itu, ia menuangkannya ke tulisannya dalam Kitab Al-Manadhir (Buku optic). Dunia mengenal Al-Haytham sebagai perintis di bidang optik yang terkenal lewat bukunya Al-Manadhir orang-orang barat menyebutnya dengan “The Optics.”
Orang hanya bisa mempelajari terjemahannya yang ditulis dalam bahasa Latin. Namun, kekurang pedulian umat Islam terhadap karya-karya ilmuwan terdahulu, telah membuat Islam tertinggal.
Untuk membuktikan teori-teori dalam bukunya, sang fisikawan Muslim legendaris itu lalu menyusun Al-Bayt Al-Muzlim atau lebih dikenal dengan sebutan kamera obscura, atau kamar gelap.
Banyak karya-karyanya yang memberikan inspirasi dan modal dasar bagi para ilmuan setelahnya. Salah satunya Kitab Al-Manadhir, teori optik pertama kali dijelaskan. Hingga 500 tahun kemudian, teori Ibnu Haytham ini dikutip banyak ilmuwan. Tak banyak orang yang tahu bahwa orang pertama yang menjelaskan soal mekanisme penglihatan pada manusia yang menjadi dasar teori optik modern adalah ilmuwan Muslim asal Irak.
Selama lebih dari 500 tahun, Al-Manadhir terus bertahan sebagai buku paling penting dalam ilmu optik. Hingga tahun 1572, karya Al-Haytham ini diterjemahkan ke dalam bahasa Latin dengan judul Opticae Thesaurus.
Buku ini mengupas ide-ide Al-Haytham tentang cahaya. Ia meyakini bahwa sinar cahaya keluar dari garis lurus di setiap titik di permukaan yang bercahaya. Ia membuat percobaan yang sangat teliti tentang lintasan cahaya melalui berbagai media dan menemukan teori tentang pembiasan cahaya. Ia jugalah yang melakukan eksperimen pertama tentang penyebaran cahaya terhadap berbagai warna.
Dalam buku tersebut, ia juga menjelaskan tentang ragam cahaya yang muncul saat matahari terbenam, dan juga teori tentang berbagai macam fenomena fisik seperti bayangan, gerhana, dan juga pelangi. Ia juga melakukan percobaan untuk menjelaskan penglihatan binokular dan memberikan penjelasan yang benar tentang peningkatan ukuran matahari dan bulan ketika mendekati horison.
Haytham mencatat dalam bukunya dua nama ilmuwan Yunani, Ptolemy dan Euclid sebagai orang pertama yang menggambarkan seluruh detil bagian indra pengelihatan manusia. Ia memberikan penjelasan yang ilmiah tentang bagaimana proses manusia bisa melihat. Namun teori kedua ilmuan tersebut dibantah.
Kedua ilmuwan Yunani ini menyatakan bahwa manusia bisa melihat karena ada cahaya yang keluar dari mata yang mengenai objek. Berbeda dengan keduanya, Ibnu Haitham mengoreksi teori ini dengan menyatakan bahwa justru objek yang dilihatlah yang mengeluarkan cahaya yang kemudian ditangkap mata sehingga bisa terlihat.
Pada buku itu, ia juga menjelaskan bagaimana mata bisa melihat objek. Ia menjelaskan sistem penglihatan mulai dari kinerja syaraf di otak hingga kinerja mata itu sendiri. Ia juga menjelaskan secara detil bagian dan fungsi mata seperti konjungtiva, iris, kornea, lensa, dan menjelaskan peranan masing-masing terhadap penglihatan manusia.
Haytham juga membuat buku tentang kosmologi yang diterjemahkan ke dalam bahasa Latin dan Ibrani di abad pertengahan. Karya lainnya adalah buku tentang evolusi, yang hingga kini masih menjadi perhatian ilmuwan dunia.
Selain penemuannya terhadap ilmu optik, Al-Haytham juga seorang ilmuan Muslim yang ahli di bidang sains, falak, metematika, geometri, pengobatan dan filsafat. Penelitiannya mengenai cahaya memberikan banyak inspirasi pada ahli sains barat, seperti Roger Bacon dan Kepler dalam menciptakan mikroskop serta teleskop.
Prestasinya bukan hanya sebagai pencipta kamera saja. Masih banyak karya-karyanya baik berupa buku-buku atau juga barang yang banyak memberikan inspirasi bagi para ilmuan setelahnya.
Salah satu ciri yang dapat dilihat pada para tokoh ilmuan Muslim ialah mereka tidak sekadar dapat menguasai ilmu tersebut pada usia muda, tetapi dalam masa yang singkat dapat menguasai beberapa bidang ilmu secara bersamaan. Hinga setelah 19 tahun penemuannya itu dia meninggal dunia di kota yang sama, Mesir tahun 1039 mMasehi. [minanews.net/Hasanatun Aliyah]

No comments