CCTV Ilahi

Share:

AHMAD salah seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) teladan di sebuah instansi, merasa sangat terharu saat menerima penghargaan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Baginya bekerja adalah ibadah yang menuntut dirinya bekerja maksimal, optimal dan profesional serta berusaha untuk melakukan inovasi terhadap bidang tugas yang diembankan padanya.

Saat wartawan menanyakan tentang spirit kerja yang dimilikinya, Ahmad tersenyum dengan menjawab “CCTV Ilahi.”

Apa maksud CCTV Ilahi itu, tanya wartawan lagi.

“Aku merasa selalu diawasi oleh Allah dalam setiap pekerjaan yang kulakukan,” jawab Ahmad dengan mata berkaca-kaca.

Allah berfirman: “Tidakkah engkau perhatikan, bahwa Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi? Tidak ada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dialah yang keempatnya. Dan tidak ada (pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dialah yang keenamnya. Dan tidak ada yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia pasti ada bersama mereka di mana pun mereka berada. Kemudian Dia akan memberitakan kepada mereka pada hari Kiamat apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." (Q.S. al-Mujadalah: 7).

Dalam tafsir Ibnu Katsir disebutkan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala selalu melihat makhluk-Nya, tiada sesuatu pun dari urusan mereka yang tersembunyi dari-Nya, baik urusan kecil maupun besar.

Dia Maha Melihat kepada mereka, mendengar semua pembicaraan mereka, rahasia mereka dan bisik-bisik mereka di antara sesamanya. Dan selain dari itu para malaikat yang telah ditugaskan oleh-Nya mencatat semua yang mereka rahasiakan, walaupun Allah mengetahuinya dan mendengarnya.

Menengok ayat dan penjelasan di atas, maka dapat dipahami bahwa  semua pekerjaan yang dilakukan oleh manusia tidak luput dari pantauan CCTV Allah SWT.

Dalam dunia teknologi kamera, Closed Circuit Television (CCTV) merupakan kamera video digital yang berfungi memantau dan mengirim sinyal video pada suatu ruang untuk dikirim ke layar monitor pengawas.

Bagi seorang mukmin tentunya senantiasa merasa bangga menunjukkan pekerjaan terbaik pada Khalik yang dicintainya, ia begitu malu bila Allah menatap dirinya dengan pekerjaan yang asal jadi apalagi melalaikan tugas dan tanggungjawabnya.

Bila spirit semacam ini muncul, maka seseorang akan melakukan tugas dengan sebaik-baiknya, sebab ia bekerja bukan untuk dilihat oleh orang lain tapi untuk yang Maha Melihat.

Kerap terasa aneh, ada banyak ASN/karyawan merasa sangat malu bila atasannya tahu bahwa banyak pekerjaan yang diembankan padanya tidak beres dan menyimpang dari yang seharusnya.

Boleh jadi konsekwensi ketidakberesan seseorang dalam bekerja, memaksa dirinya harus dikeluarkan dari pekerjaan tersebut. Tapi apa jadinya jika seseorang terus-terusan mempertontonkan ketidakberesan dirinya di hadapan Allah, lalu Allah mengeluarkan ia dari manifest hamba-Nya.

Di akhirat nanti begitu banyak manusia yang meratap dan menangis begitu pilu, menyesali perbuatan dirinya kala di dunia, mereka minta dikembalikan ke dunia, saat merasakan pedihnya azab neraka.

Terus, apakah Allah merasa kasihan dengan jeritan mereka itu? tentunya, tidak!. Malahan Allah membentak, dan menganggap mereka bukan sebagai hamba.“Allah berfirman:

“Tinggallah dengan hina di dalamnya, dan janganlah kamu berbicara dengan Aku.” (Q.S al-Mukminun: 108).

Ayat di atas tentunya menjadi pringatan keras bagi orang-orang yang tidak mengindahkan titah atau perintah Allah.

Jadi, etos kerja seorang muslim sejatinya didasari oleh asas berpikir dan bertindak yang benar yaitu apa yang semestinya saya kerjakan untuk membuat diriku baik di mata Allah, bukan mencari muka untuk dipuji oleh manusia.

Orang yang bekerja optimal karena Allah, maka ia akan mendapatkan kemuliaan di sisi Allah dan manusia.

Akan tetapi, mereka yang bekerja hanya untuk mencari pujian manusia, maka pujian itu belum tentu tiba tapi yang jelas hina di mata Allah. [T Lembong Misbah,  dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Ar-Raniry.  e-mail: 
 lembong.info@gmail.com]


No comments