Ramadhan, Sudah Ringankah Hati Anda Memaafkan Orang Lain ?

Share:
Foto : Google
DALAM bulan yang suci ini, tidak peduli siapa kita dan bagaimana kita sekarang. Namun ada satu hal yang pasti, ada baiknya jika kerendahan hati untuk meminta maaf dan memberi maaf justru akan mencerminkan ketinggian budi yang kita miliki. 

Berikan senyum dan jabatan tangan yang ikhlas agar tidak timbul kekerasan hati sebagai pembatas semua keikhlasan kita untuk menuju kesucian diri. Sehingga puasa kita diterima, saling berbagi kedamaian dengan menguasai diri dari ego dan emosi.

Untuk apa kita menjadi penyebab neraka kesalahan orang lain, sehingga hal tersebut malah semakin menggambarkan kekerdilan jiwa kita. Bukankah sebagai manusia yang hidup di dunia kita tidak ada yang sempurna dan luput dari kesalahan ?

Baca Juga : Islam di Bosnia: Jasa Kesultanan Utsmaniyah

Bicara tentang maaf ada baiknya jika kita membaca kisah ini terlebih dahulu.
Suatu ketika seorang laki-laki dari Bani Yamamah mendatangi Madinah dengan penuh percaya diri ingin membunuh Rasulullah, lelaki itu bernama Tsumamah bin Itsal.  Dengan niatnya yang begitu kuat, dia langsung mencari Rasulullah keseluruh tempat yang kemungkinan ada Rasulullah. Sampai akhirnya Tsumamah mendatangi masjid Rasulullah yang diyakini Rasulullah ada di masjid tersebut.

Melihat keanehan dari diri Tsumamah, khalifah Umar mencegatnya dan bertanya kepada Tsumamah : 
“Apa tujuanmu datang ke Madinah ? bukankah engkau seorang kafir ?”

Mendengar pertanyaam itu Tsumamah lantas menjawab dengan jawaban yang sangat mengejutkan dan membuat Umar marah.
“Aku datang ke negeri ini tidak lain hanya untuk membnuh Muhammad !”

Mendengar jawaban tersebut, Umar langsung bertindak atas Tsumamah. Dengan beberapa kali perlawanan dari Tsumamah, akahirnya Umar dapat mngetasai Tsumamah dengan mengikat diri dan tangan Tsumamah pada sebuah tiang masjid. Mendengar kegaduhan ini Rasulullah langsung keluar dan Umar pun melaporkan kejadian apa yang sebenarnya terjadi.

Baca Juga : Lampu Belajar Sebagai penghangat Makanan

Mendapati dirinya yang ingin dibunuh, Rasulullah juga terlihat aneh dimata Umar dan sahabat-sahabat lainnya. Dikarenakan Rasulullah malah memberikan perintah untuk mengambilkan susu dirumahnya untuk Tsumamah, bahkan Rasulullha meminta Umar untuk segera melepaskan ikatan Tsumamah.

Setelah menjamu Tsumamah, Rasulullah meminta Tsumamah untuk mengucapkan kalimat Syahadat hingga berulang kali, akan tetapi Tsumamah tetap menjawab tidak. Melihat kejadian itu membuat Umar dan sahabat yang lain geram dan emosi hendak memberika pelajaran yang setimapal menurut mereka bagi Tsumamah. Namun anehnya lagi Rasulullah malah berkata :
“Lepaskan dia, biarakan dia pergi.”

Mendengar jawaban tersebut, tidak ada hal lain yang dapat dilakukan oleh sahabat selain menuruti perkataan Beliau. Tsumamah lalu bangkit dari duduknya seakan ia hendak pulang ke negerinya. Namun belum jauh dari masjid tsumamah kemabali berlari kearah Rasulullah dengan wajah berseri dan memeluk Rasulullah seraya berkata : “Aku Bersaksi bahwa Tiada Tuhan Selain Allah Ya Rasulullah !”

Rasulullah pun tersenyum dan bertanya : 
“Mengapa engkau tidak mengucapkannya ketika aku memerintahanya kepadamu ? “

Lantas Tsumamah menjawab: “Aku tidak mengucapkannya karena aku belum Engkau bebaskan, dan aku takut jika mereka meremehkan aku dengan menganggap bahwa aku mengucapkan kalimat itu karena aku takut kepadamu Ya Rasulullah. Akan tetapi setelah engkau melepaskanku, aku masuk Islam semata-mata karena Allah.”

Suatu ketika Tsumamah juga berkata : “Ketika aku memasuki kota Madinah, tiada orang yang sangat aku benci melainkan Muhammad SAW. Akan tetapi setelah meninggalkan kota itu, tiada lain yang aku cinta di dunia ini selain Muhammad SAW.”

Dari kisah ini dapat kita teladani sikap Rasulullah yang begitu mulia, begitu mudah memaafkan, bahkan tidak ada sedikitpun niat dari beliau untuk membalas niat buruk Tsumamah. Bahkan dengan kemurahan hati Rasulullah, Beliau mampu membuat Tsumamah yang awalnya sangat bringas memeluk agama Islam.
Islam merupakan Rahmatallil’alamin bagi seluruh alam semesta, membawa kedamaian yang begitu besar untuk jagat raya. Begitu pula dengan kekuatan memaafkan. Orang yang senantiasa berpikir positif dan rendah hati juga akan mengantarkan seseorang itu kepada kedamaian yang hakiki. 

Di dunia, orang yang mudah memaafkan jelas tercermin ketinggian dan keluhuran budi orang tersebut dimata masyarakat. Lalu untuk apa menyibukkan diri menjadi alasan orang lain masuk neraka yang akan menunjukkan begitu kerdilnya jiwa ?

Terdapat juga kisah Abu Bakar yang bersumpah tidak akan lagi membantu Misthah bin Atshatsah salah seorang kerabatnya. Hal tersebut hanya dikarenakan Misthah menyebarkan berita palsu tentang putri Abu Bakar yaitu Siti Aisyah. Yang dengan hal ini kemudian Allah SWT menurunkan ayat ke 22 dalam surat An_Nur :

“Janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka tidak akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabatnya, orang-orang yang miskn dan orang-oraang yang berhijrah di jalan Allah. Hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada, apakah kamu tidak ingin agar Allah mengampunimu ? Sesungguhnya Allah Maha Pengampun Lagi Maha Penyayang.”

Ayat ini mengajarkan manusia untuk memaafkan kesalahan orang yang pernah membuat kesalahan kepada kita. Bahakan Allah melarang untuk bersumpah untuk tidak saling membantu sesama manusia. Allah Maha Segalanya, yang menciptakan seluruh alam semesta. Allah sendiri dengan mudah memaafkan hamba-hambanya, mengapa kita tidak ?

Baca Juga : Imam Masjidil Haram As-Sudais Serukan Persatuan Umat Islam

Berdasarakan kisah dan ayat-ayat diatas, terdapat beberapa alasan mengapa manusia itu harus saling memaafkan. Diantaranya :

Memaafkan adalah cara untuk membebaskan diri dari belenggu kesedihan dan kebencian. 

Dengan mudahnya memaafkan kebahagiaan terus menghampiri jiwa orang-orang yang rendah diri tersebut. Dikarenakan tidak ada beban akan dendam terhadap orang lain ataupun benci terhadap orang lain. Islam diturunkan menjadi rahmat bagi semesta alam. Sebuah keberuntungan ketika kita mengikhlaskan hati menerima Islam sebagai tonggak hidup kita. Sehingga menjadikan kita tertuntun untuk menjadi manusia yang juga membawa keberkahan dan kedamaian yang bukan hanya untuk diri sendir tapi juga untuk orang lain. 

Dengan memaafkan berarti kita meneladani sikap Rasulullah SAW. 

Rasulullah merupakan manusia yang amat mulia di muka bumi. Tetapi begitu mudahnya Beliau memaafkan umatnya walaupun Beliau diusir, dicaci maki. Bahkan Rasulullah terusir dari tanah airnya sendiri karena umatnya. Akan tetapi itulah Rasulullah yang begitu mulia sehingga hasil yang Beliau dapatkan juga sangat jelas. Hingga sekarang, banyak orang yang masuk Islam karena tertegun akan sikap Rasulullah yang rendah hati. Semua itu tertuang dalam setiap kisah perjalanan hidup Beliau.

Memafkan itu memperlakukan orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan. 

Pada saat kita memaafkan kesalahan orang lain maka saat itu pula kita memiliki kesalahan dan ingin juga untuk dimaafkan. Saling memafkan bukanlah sebuah karma, akan tetapi maaf merupakan sebuah sunnatullah bahwa setiap hamba akan mendapatkan apa yang memang berhak ia dapatkan. Dengan demikian memaafkan dapat menguntungkan diri kita sendiri. Karena kita terhindar dari sikap angkuh dan sombong yang membuat hati kita mati tertutup oleh dendam. Orang yang meminta maaf juga tidak akan langsung terbebas dari kesalahan yang diperbuatnya. 

Semoga dibulan yang berkah ini kita senantiasa dalam kesucian. Semoga dibulan ini kita menjadi manusia yang lebih baik. Dan semoga kita menjadi manusia-manusia yang senantiasa memiliki kewibawaan budi terhadap sesama kita umat Muslim. Amiin.[Rahmalia Ulzana]/Dhi