Anak Tangga Kebahagiaan

Share:

RASANYA bila ada orang yang tidak ingin bahagia. Sebab dengan merasa bahagia hidup terasa penuh makna. Semangat tetap terpacu dan kinerja semakin terarah serta fokus. 
Begitulah pentingnya kebahagiaan sehingga banyak orang menghalalkan berbagai cara untuk merasa dan mendapatkannya. Meski sebenarnya cara-cara untuk mendapatkan kebahagiaan hakiki itu hanya bisa ditempuh dengan cara-cara yang telah dianjurkan oleh Allah dan RasulNya.
Dalam Al Quran surat Al ‘Ashr di atas, jelas-jelas Allah Subhanahu Wa Ta’ala bersumpah bahwa seluruh manusia di dunia ini benar-benar berada dalam kerugian siapa pun dia, mau orang kaya maupun orang miskin, pandai maupun jahil, mulia ataukah rendah, laki-laki maupun perempuan, bangsawan ataukah bukan.
Semuanya merugi dunia dan akhirat kecuali orang yang mengisi waktunya dengan empat perkara yang disebutkan dalam ayat tersebut, yang dengannya akan memperoleh kebahagiaan di dunia dan akhirat. 
Berikut adalah empat (4) syarat agar seseorang bisa mendapatkan kebahagiaan bukan hanya di dunia fana ini, tapi juga di akhirat kelak.

Pertama, Beriman | Iman mencakup setiap perkara yang mendekatkan seseorang kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Iman yang tidak bercampur dengan keraguan. Iman yang hanif lagi terjaga dari segala bentuk kemusyrikan. 

Iman yang tidak ada keraguan dengan perkara yang dijelaskan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam ketika ditanya malaikat Jibril tentang iman, yaitu mengimani tentang Allah, malaikat–malaikatNya, kitab-kitabNya, rasul–rasulNya, hari akhir dan beriman kepada taqdir yang baik dan buruk.

Meski iman menjadi salah satu syarat untuk mencapai dan merasakan kebahagiaan, namaun pada kenyataannya, iman manusia terbagi menjadi tiga; pertama, orang yang beriman yang murni imannya, tak tercampur dengan racun kemusyrikan sedikitpun. Kedua, orang yang kufur mengingkari dan menentang adanya kekuasaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Ketiga, orang yang ragu antara apakah beriman atau tidak. Dari ketika jenis iman manusia itu, maka yang selamat adalah golongan yang pertama, orang yang beriman dan senantiasa berupaya terus memurnikan imannya. Anjuran beriman berarti didalamnya terkandung perintah untuk menuntut ilmu. Karena tidak akan terwujud keimanan yang benar kecuali memiliki ilmu terhadap perkara yang harus diimaninya. Ilmu sebelum iman, menjadi hal utama yang mesti dimiliki seorang.
Bagaimana mungkin seorang hamba bisa mengenal siapa Tuhannya bila ia sendiri tak punya ilmu untuk mengenal Tuhannya. Bohong bila ada orang yang mengatakan telah beriman, tapi ilmu tentang keimanannya sendiri ia tak faham. 
Syaikh Abdurrahman As Sa`di rahimahullahu berkata, “Tidaklah terwujud iman tanpa ilmu, maka ilmu adalah cabang dari iman, tidaklah sempurna iman tanpa ilmu.” (Tafsir As Sa`di).

Kedua, Beramal Shaleh | Amalan shaleh adalah setiap amalan yang terkumpul padanya dua perkara yaitu: ikhlas karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan mencontoh tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, sebagaimana perkataan Fudhail bin `Iyyad rahimahullah ketika menafsirkan firman Allah Ta’ala yang artinya,

“Dialah yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kalian siapa yang paling baik amalannya.” (Qs. Al Mulk : 2).
Ia juga mengatakan, “Yang paling ikhlas dan paling benar, sesungguhnya amalan bila ikhlas akan tetapi tidak benar tidak diterima dan bila benar akan tetapi tidak ikhlas tidak diterima pula sampai amalan tersebut ikhlas dan benar. Amalan disebut ikhlas bila karena Allah dan benar bila mencotoh sunnah (tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam).”
Tidak setiap orang yang beramal baik, akan mendapatkan balasan dari Allah Ta’ala sampai amalan itu dikerjakan dengan penuh keikhlasan dan sesuai sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.
Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Katakanlah, “Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya? Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.”  (Qs. Al Kahfi : 103-104).
Al Hafidz Ibnu Katsir menjelaskan maksud ayat di atas, katanya, “Ayat ini umum mencakup setiap yang beribadah kepada Allah tidak di atas jalan yang diridhai dalam keadaan ia menyangka benar dan diterima amalannya. Padahal ia salah dan tertolak amalannya, seperti firman Allah Ta’ala yang artinya,
“Banyak wajah pada hari itu tunduk terhina bekerja keras lagi kepayahan, memasuki api yang sangat panas.” (Qs. Al Ghasyiyah: 2-4).
Ibnu `Abbas radhiallahu‘anhu menafsirkan ayat di atas, katanya, “Bahwa wajah–wajah tertunduk dan tidak bermanfaat amalannya.”
Bila keadaan orang yang beramal tidak sesuai dengan syariat saja dimasukkan ke dalam neraka, lalu bagaimana keadaan orang yang tidak beramal sama sekali? Hidup seperti binatang yang pikirannya hanya diisi untuk makan, minum, dan memuaskan hawa nafsunya belaka. Shalat tak mau, zakat enggan dan tak menjaga diri dari yang haram serta bermaksiat. Semoga Allah Ta’ala senantiasa memudahkan setiap hambaNya untuk istiqomah mengamalkan syariatNya, aamiin.

Ketiga, Memberi Nasihat kepada Kebenaran | Seorang hamba, tidak cukup hidup hanya dengan berilmu dan beramal shaleh serta memperbaiki dirinya sendiri saja. Tetapi, seharusnya ia juga berupaya untuk memperbaiki orang lain, agar dirinya menjadi mukmin sejati. 

Menshalehkan diri itu wajib. Tapi, menshaleh-kan diri orang lain juga menjadi hal yang tak kalah pentingnya. Apa artinya jika ada seorang shaleh yang berada di sebuah lingkungan tidak shaleh namun ia tak mampu atau tak peduli untuk menshalehkan orang lain yang ada di depan matanya?

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Tidaklah beriman salah seorang kalian sampai ia mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Mencintai saudara, atau manusia lain dan berusaha menyeru mereka kepada kebaikan adalah bentuk kesempurnaan iman. Karena dia berusaha mengajak orang lain agar selamat dari azab Allah Ta’ala. 
Dia sadar betul betapa ia tak ingin masuk surga sendiri sementara orang-orang yang ada disekitarnya masuk ke dalam neraka.
Saking pentingnya memberi nasihat dan menyeru manusia kepada kebenaran ini, sampai-sampai Rasulullah Shallallahu ‘Alaih Wasallam bersabda, Sesungguhnya jika manusia melihat kemungkaran dan ia tidak merubahnya hampir-hampir Allah meratakan azab dari sisinya kepada mereka.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi disahihkan Al Albani rahimahullahu).
Sekali lagi, jangan merasa menjadi orang baik dulu bila kita belum mampu mengajak orang lain disekitar kita untuk menjadi baik seperti halnya diri kita. Menjalankan ketaatan adalah sebuah kewajiban. Tapi menyeru dan mengarahkan orang lain untuk menjalankan ketaatan yang sama seperti yang kita lakukan juga tak kalah penting.
Bila kita merasa bahagia karena bisa mentaati Allah Ta’ala dengan menjalankan perintahNya, meninggalkan laranganNya serta menghidupkan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, maka sebaliknya pandanglah orang-orang disekitar kita, jangan-jangan mereka masih asyik dengan aneka macam kemaksiatan yang dilakukan.
Menangislah, sebab jangan-jangan karena keti-dakpeduliaan kita pada mereka justeru bisa membawa kita ke neraka kelak. 
Karena kita tak pernah berusaha mengajak dan menyampaikan kepada mereka mana yang hak (benar) dan mana yang bathil (buruk) dalam menjalani kehidupan dunia ini. Menangislah dan jangan merasa puas, sebab Allah Ta’ala kelak akan menuntut kita ketika karena tak mau perduli dengan orang-orang disekitar yang gemar melakukan dosa.

Keempat, Bersabar | Sabar yaitu menahan diri diatas ketaatan kepada Allah, menahan diri untuk tidak bermaksiat kepadaNya, serta sabar terhadap ketetapan Allah berupa cobaan dan ujian dalam kehidupan dunia fana ini. 

Inilah tiga macam bentuk kesabaran yang dituntut ada pada diri seseorang.

Sabar begitu penting. Orang yang menuntut ilmu, beramal shaleh, berkarya membutuhkan keistiqomahan. Dalam bab selanjutnya akan dibahas secara khusus tentang kekuatan istiqomah (power of Istiqomah).
Begitu juga seorang dai butuh untuk bersabar dalam menghadapi ujian dan cobaan dari Allah Ta’ala. Ujian dan cobaan merupakan perkara yang pasti akan dialami setiap orang dengan kadar yang berbeda-beda sesuai dengan tingkat iman yang ada padanya.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah berfirman yang artinya, “Tidaklah suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada diri kalian melainkan telah tertulis dalam kitab (lauhul mahfuzh) sebelum kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (Qs. Al Hadiid : 22).
Sabar itu pahit dan berat. Namun, sabar akan menjadi senjata ampuh untuk bangkit bila kita sendiri tahu bagaimana cara menggunakan kesabaran itu. Sabar itu ada mestinya diletakkan pada tiga tempat; sabar dalam menjalankan ketaatan, sabar dalam menerima ujian dan sabar dalam meninggalkan hal-hal yang dilarang oleh Allah Ta’ala.
Ketika sabar bisa diletakkan pada tiga tempat tadi, insya Allah apa pun yang kita jalani dalam kehidupan ini akan terasa nikmat. Nikmat karena tak ada beban berat yang dirasa. Nikmat karena proses menuju kesuksesan itu bisa dinikmati dengan suka cita.
Tak ada kekuatan yang mampu mengalahkan kesabaran. Sabar laksana pedang tajam mengkilap yang mampu mengalahkan segala penderitaan. Sabar adalah obat mujarab bagi siapa saja yang sedang menderita kepahitan hidup. Sabar adalah ujung tombak dalam mewujudkan mimpi meraih kesuksesan.
Sabar akan bermakna bila kesabaran itu tidak sekedar diucapkan oleh lisan tapi juga dilaksanakan oleh segenap jiwa raga. Bersabarlah dalam meraih kesuksesan. Sebab dengan  bersabar segala wujud kesuksesan akan mudah diraih.
Semoga kita dapat meraih tangga-tangga kebahagiaan itu. Amin. (Bahron Ansori | Mirajnews.com]