“Bu Prang” Makanan Pejuang Aceh Saat Melawan Kolonial Belanda

Share:
Foto:wasatha.com/Rahim

ACEH memang memiliki berbagai macam koleksi kuliner yang enak dan unik, salah satunya adalah “Bu Prang”. 

Di dalam bahasa Aceh “bu” adalah nasi, dan “prang” bermakna perang, jadi “Bu Prang” adalah nasi perang.

Penamaan kuliner “bu prang” yang “gura” ini berasal dari zaman perang perlawanan rakyat Aceh terhadap Kolonial Belanda. 

Ketika rakyat Aceh bertempur melawan  Kolonial Belanda logistik  yang satu ini wajib ada menemani rakyat Aceh berperang, mengingat nasi adalah kebutuhan pokok rakyat Aceh.

“Bu prang” jika di lihat sekilas hampir sama dengan nasi gurih lainnya, yaitu di bungkus dengan daun pisang dan di hidangkan dengan telur bulat, taucho, sambal, kacang panjang tumis, kareng lado (teri balado), tempe dan lauknya bisa di sesuaikan dengan selera anda seperti udang, telur dadar, ayam, dan bebek. 

Namun, yang membedakan “bu prang” dengan nasi gurih lainnya adalah proses memasaknya yang menggunakan santan  kental yang telah di campur dengan rempah-rempah Aceh yang khas dan ditanak bersama daun pisang supaya mengeluarkan aroma yang khas.

“Bu prang” bisa kita jumpai di warung-warung kopi yang ada di Banda Aceh, setiap warung kopi seperti telah menjadi fardhu ‘ain hukumnya untuk menyediakan kuliner yang satu ini, harga satu porsi “bu prang” tidak lah membuat kantong anda jebol, cukup dengan harga  8.000- 12.000 rupiah anda sudah bisa menikmati kuliner yang enak nan unik ini. [Rahim Rivari]/Tek

Baca Juga:

Kopi Boh Manok Khas Pidie yang Memiliki Asupan Gizi