Potret Generasi Kota Madani Hari Ini

Share:


Aceh dikenal dengan kota Madani dengan menjunjung tinggi nilai-nilai agamis yang tinggi. Namun kejadian belakangan ini membuat citra dan harga diri Aceh jatuh dikalangan masyarakat luar yang diakibatkan oleh kaum muda-mudi yang tidak bertanggung jawab.

Kejadian yang pernah terjadi di masa nabi Luth kini juga sudah terjadi lagi di tanah Aceh. Hubungan sesama jenis yang dilakukan dua pemuda (Serambi Indonesia, 29/3/2017). Bagaimana nasib Aceh hari ini? Masihkah Aceh ini dianggap sebagai Kota Madani? Lalu, apa gelar Kota Madani masih bisa melekat utuk Aceh bila generasinya masih berprilaku buruk begini.

Setiap tahunnya tingkah para generasi bangsa pun mulai memperihatinkan.  Contohnya saja akhir-akhir ini sering terlihat kaum muda-mudi yang bahkan tak tahu aturan lagi. Ugal-ugalan di tengah jalan. Tertawa riang di warung kopi dan tidak mau berpaling dari benda hebatnya, smartphone padahal azan magrib telah tiba. Mereka tidak mau tahu mengenai apa akibat yang akan ditimbulkan nantinya. Seakan tidak ada beban sedikit pun. Begitulah potret generasi Aceh hari ini.

Dari segi penampilan, khususnya kaum Adam sekarang celana sengaja disobek di lutut. Anting ditindik ditelinga. Rambut aca-acakan. Bicara yang tak beraturan dan jauh dari nilai-nilai kesopanan. Semua itu merupakan kebiasaan yang tak mampu dihindari lagi para generasi Aceh. Hal ini dianggap sebagai upaya untuk  mendapatkan banyak kawan.

Bila dikaji lebih jauh lagi. Tidak hanya kaum adam yang terlibat dalam hal ini, kaum hawa pun sudah mulai ikut-ikutan. Mereka bangga dengan trendi yang mereka ikuti. Bahkan dengan sombongnya para perempuan saat ini memposting gerak-gerik mereka di akun sosial medianya masing-masing.

Agama dan budaya lokal kerap kali diacuhkan. Malam minggu merupakan malam puncak kemerdekaan kaum muda-mudi. Mereka berfikir bahwa jalan itu milik mereka. Memeluk eret pasangan (pacar) merupakan kebiasaan yang tak lazim yang sering dipertontonkan kepada pengguna jalan yang lain.

Dalam hal ini, teknologi menjadi cikal terjadinya berbagai perubahan muda-mudi Aceh saat ini.  Dari segi budaya dan agama, muda-mudi khususnya di Aceh telah banyak terjadi perubahan yang sangat drastis. Dunia terlihat seperti drama yang tak ada ending bahagianya. Dunia teknologi terlihat lebih kejam dari ibu tiri, ia dapat dengan  mudah mengasah otak kaum muda-mudi kejalan yang positif, juga ke jalan yang sangat negatif.

Seharusnya para pemerintah Aceh harus lebih tegas dalam memilah teknologi dan sistem pengajaran yang dianggap kurang baik untuk di pasok ke Aceh, karena para pemerintah juga berperan besar dalam setiap perubahan kaum muda-mudi.

Seperti kota-kota luar sana yang menerapkan sistem pelajaran yang benar, banyak melahirkan generasi-generasi yang bermutu. Mereka pun tidak menjadikan teknologi sebagai perusak melainkan sebagai acuan perubahan ke jalan yang positif, namun muda-mudi Aceh ini malah melakukan hal yang sebaliknya.

Selain pemerintah, pihak pertama yang harus memperhatikan setiap titik perubahan kaum muda-mudi itu ialah keluarga atau yang lebih tepatnya orang tua sendiri karna orang tualah yang mengerti semua kebutuhan dan bahkan yang kita benci sekalipun.

Memang bagi kaum muda-mudi yang terbilang masih remaja tak bisa dikendalikan dengan mudah, mereka masih memiliki jiwa panas yang berkobar. Tapi muda-mudi juga harus memperhatikan dunia karena yang meneruskan kesuksesan dunia bukanlah kakek-kakek yang sudah membungkuk, tetapi para kaum yang masih memiliki jiwa juang yang besar sebagai penerus estafet dan roda kebangkitan Aceh kedepan.


Penulis adalah Wahyu Majiah, mahasiswa Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN Ar-Raniry dan peserta Training Kepenulisan ISC Al-Fatih