Menutup Aurat Tetapi Masih Telanjang

Share:

INNALILLAHI Wainna Ilaihi Raji’un (semuanya datang dari Allah dan kembali kepada Allah semata) mungkin ini kalimat yang cocok untuk sekarang ini.

Kita sudah tau bahwa menutup aurat merupakan kewajiban bagi muslim dan muslimah di mana saja mereka berada. Karena menutup aurat merupakan salah satu perintah Allah yang terkaver dalam bingkai syari’ah. 

Tidak ada alasan bagi kita untuk tidak menutup aurat secara sopan dan beradab. Namun kenapa seorang muslimah telah menutup aurat masih dikatakan telanjang?

Dijelaskan di dalam sebuah buku yang di tulis oleh ustaz Felix Y. Siauw yang berjudul  Yuk Berhijab.

Bahwasanya Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda, yang maknanya:

“Ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat, yaitu suatu kaum yang memliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan para wanita yang berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, walaupun baunya tercium selama perjalanan sekian dan sekian.  (HR Muslim).

“Wanita-wanita yang berpakaian tetapi telanjang, yang berjalan berlenggak-lenggok guna membuat manusia memandangnya, mereka tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium aromanya. Padahal aroma surga bisa dicium dari jarak 500 tahun…” (HR Imam Malik)

Imam Al-Nawawi dalam Syarh Muslim menjelakan makna berpakaian tetapi telanjang dengan beberapa maksud.
1. Wanita yang mendapat nikmat Allah, namun enggan bersyukur kepada-Nya
2. Wanita yang mengenakan pakaian, namun kosong dari amalan kebaikan dan tidak mau mengutamakan akhirat serta enggan melakukan ketaatan kepada Allah
3. Wanita yang menyingkap sebagian anggota tubuhnya, sengaja menampakkan keindahan tubuhnya
4. Wanita yang memakai pakaian tipis sehingga tampak bagian dalam tubuhnya.

Semua ulama menyepakati bahwa yang dimaksud berpakaian tetapi telanjang adalah memakai pakaian tipis, atau menyingkap sebagian aurat. 

Sedangkan kata berlenggak-lenggok didalam hadis itu adalah wanita yang tidak menjaga kehormatan dan kemaluan mereka, yaitu dengan berjalan menggoyangkan pundak mereka hingga di perhatikan lelaki. Mereka cenderung (suka) dengan perhatian laki-laki ataupun tingkahnya ditujukan untuk menggoda lelaki.

Bahkan ulama menambahkan bahwa definisi berlenggak-lenggok bukan hanya muslimah yang berbuat layaknya seperti ini, namun termasuk dalam pengertiannya adalah muslimah yang mengajarkan muslimah lainnya berbuat semisal itu.

Sedangkan kata “kepala mereka bagaikan punuk unta yang miring” dijelaskan oleh para ulama sebagai muslimah melilit atau menumpuk rambutnya keatas hingga terlihat seperti punuk unta atau muslimah yang mengenakan kain tambahan hingga terlihat menonjol.

Imam Al-Qurthubi mengartikan frasa itu sebagai “membesarkan kepala dengan kerudung atau selempang dan semisalnya, yang disambungkan atau ditumpuk diatas rambut sehingga menjadi seperti punuk unta.

Tetapi yang kita lihat pada zaman sekarang ini, ketika kreasi kerudung mulai ngetren, banyak muslimah yang menyerupai bahkan menyengaja kerudungnya untuk membentuk punuk unta. Seharusnya sebagai muslimah tidak menggulung rambutnya keatas ataupun menggunakan kain-kain tambahan yang bisa membuat rambutnya menonjol. Karena Pada hadis tadi tegas melarang seperti itu.

Akan tetapi disisi lain lebih baik seorang muslimah menggulung rambutnya kebawah, dan lebarkan khimarnya agar rambutnya tidak terlihat menonjol, dan bisa juga dengan membiarkan rambut tergerai dan panjangkan khimarnya.

Semua larangan tersebut tentu saja hanya berlaku bila wanita pergi keluar rumah. Sedangkan bila di dalam rumah bersama mahramnya apalagi bersama suaminya, tentu tidak ada larangan bila seorang muslimah ingin menggulung rambutnya keatas saat melakukan suatu keperluan. [Ermit Salisda] / Dhi